1. Cinta sejati akan mengenali jalan pulangnya sendiri. meskipun terkadang ia buta, tapi cinta sejati tidak perlu dituntun, tidak butuh tongkat, tidak butuh penunjuk jalan.
2. Seperti ranting yang lelah diayun-ayunkan sang angin, terpanggang terik matahari, dan menggigil oleh hujan, akhirnya memilih untuk patah dan terjatuh ke tanah.
3. Detakmu pernah menjadi hitungan senyumku dan sekarang detakmu menjadi hitungan tetes air mata yang ditumpahkan mataku.
4. Aku tidak membutuhkan alasan untuk mencintaimu, tapi untuk melupakanmu aku membutuhkan beribu alasan, mau membantuku menemukan alasan itu?
5. Kalau nanti air mataku meleleh, kamu diam saja, jangan lakukan apa-apa. Jangan buat aku kembali mencintaimu saat aku sudah hendak melepasmu.
6. Ternyata selama ini aku tidak pernah kehilangan kunci itu, aku sendiri yang menyembunyikannya, dan berpura-pura bahwa kunci itu hilang,jadi hatiku terus tertutup.
bahagia bisa datang kapan saja dimana saja dan dengan siapa saja, kuncinya satu, nikmati saja momentnya, tidak peduli dimana, kapan dan dengan siapa asal kamu menikmati, pasti bahagia akan terasa disitu ..
Tuesday, December 25, 2012
Monday, December 24, 2012
Akan Terasa Lebih Menggembirakan Jika ..
Kalau aku bisa meminjamkan telingaku untukmu, pasti kamu akan mendengar suara-suara yang akan membuatmu tersenyum-senyum sendiri. Lewat telingaku aku biasa mendengar namamu. Kicau burung ditelingaku terdengar sebagai namamu yang di lafalkan berkali-kali. Suara detak jarum jam seperti sedang mengeja satu persatu huruf yang menyusun namamu. Desir angin, daun-daun yang saling bergesekan dan bunyi ranting yang patah seolah menyanyikan lagu yang sebagian besar liriknya tersusun dari namamu. Namamu menggema dimana-mana, tersenyum-senyum sendiri aku dibuatnya tapi tidak jarang telingaku terasa sakit juga, tapi tidak apa-apa aku menikmatinya. Aku menikmatinya, ya menikmati kejatuhanku, jatuh yang tidak membuatku menangis tapi justru membuatku berdansa riang bersama hembusan angin.
Saking jatuh cintanya aku padamu. Aku pernah bermimpi, suatu hari kamu akan berdiri di depan pintuku sambil melemparkan senyummu yang biasanya membuat jantungku memompa darah 3 kali lebih cepat, lalu aku, dengan riangnya menghambur di pelukanmu. Dan bahagianya aku, saat kamu benar-benar berdiri di depan pintuku sambil melempar senyummu meminta persetujuan orangtuaku untuk menculikku sebentar saja. Kalau saja kamu tahu, sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang aku izinkan atau bahkan aku memintanya datang kerumahku sendirian, seperti yang kamu lakukan waktu itu.
tidak jarang aku merasa lelah karena terlalu sering tertawa bersamamu. Mengitari kota untuk sekedar mengabadikan beberapa gambar juga tidak kalah melelahkannya.Terkadang aku juga hampir pingsan saat menemanimu berolahraga untuk mengecilkan perutmu yang sedikit buncit. Tapi aku suka semua itu, karena aku bersamamu, kalau aku lelah, lenganmu adalah tempat paling nyaman untuk bersandar, sambil memainkan jari-jarimu atau mengayun-ayunkan kakiku. Saking nyaman dan hangatnya, tidak jarang aku mengantuk. Tapi getaran pita suaramu menjalar hingga lenganmu yang nyaman, itu yang menjagaku untuk tidak tertidur saat bersandar di lenganmu.
Bersamamu selalu terasa nyaman dan menyenangkan. Saat hujan begini, biasanya kita berkirim pesan, bercerita lebih banyak, tertawa lebih banyak meski hanya melalui telepon seluler. Nanti setelah hujan reda, biasanya kita menghabiskan waktu di luar menikmati wedang ronde kesukaanku. Sempurna sekali, jalanan masih basah oleh hujan yang baru saja meninggalkan bumi, kadang rintik air dari daun yang terhembus angin pun masih menciptkan bunyi-bunyi yang romantis, dan semakin romantis lagi ketika ada pengamen yang membaca suasana kita, datang tanpa diundang lalu menyanyikan lagu cinta, berduet bersama malam yang baru saja disapa hujan. Tidak jarang aku ikut menyanyi, beberapa orang berkata suaraku bagus.
www.tomascastelazo.com
Kamu tahu persis selama aku berada di kota ini, aku selalu menikmati wedang ronde bersamamu. Belum pernah sekalipun orang lain menemaniku. Aku memiliki banyak sahabat dan teman wanita yang biasa menjadi teman untuk membunuh waktu. Tapi tidak pernah sekalipun aku menikmati wedang ronde ini bersama mereka, apalagi hujan begini.
Jatuh padamu itu indah, dan bertambah indah ketika kamu sedang bersamaku. membuatku bahagia saat kamu merelakan lubang telingamu terisi oleh gelombang suara yang aku hasilkan dari pita suara di tenggorokanku. Semakin indah ketika getaran pita suaramu menjalar melalui lenganmu dan merambat menuju kepalaku yang sedang bersandar di situ. Kamu tau? Bahwa getaran pita suaramu itu tidak hanya berhenti dikepalaku, tapi terus dan terus berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di hatiku, dengan sigap menuju ke sebuah ruangan yang di sana berisi kamu. Ya, semua hal tentang kamu.dan saat getaran itu sampai diruangan itu, suaramu itu secara otomatis akan terekam disitu.
Jatuh padamu itu indah, bisa bersamamu membuatnya menjadi semakin terasa menggembirakan, tapi alangkah lebih indahnya jika kamu memungut hatiku yang jatuh itu lalu menyimpannya, menjaganya agar tidak jatuh pada yang lain
Saking jatuh cintanya aku padamu. Aku pernah bermimpi, suatu hari kamu akan berdiri di depan pintuku sambil melemparkan senyummu yang biasanya membuat jantungku memompa darah 3 kali lebih cepat, lalu aku, dengan riangnya menghambur di pelukanmu. Dan bahagianya aku, saat kamu benar-benar berdiri di depan pintuku sambil melempar senyummu meminta persetujuan orangtuaku untuk menculikku sebentar saja. Kalau saja kamu tahu, sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang aku izinkan atau bahkan aku memintanya datang kerumahku sendirian, seperti yang kamu lakukan waktu itu.
tidak jarang aku merasa lelah karena terlalu sering tertawa bersamamu. Mengitari kota untuk sekedar mengabadikan beberapa gambar juga tidak kalah melelahkannya.Terkadang aku juga hampir pingsan saat menemanimu berolahraga untuk mengecilkan perutmu yang sedikit buncit. Tapi aku suka semua itu, karena aku bersamamu, kalau aku lelah, lenganmu adalah tempat paling nyaman untuk bersandar, sambil memainkan jari-jarimu atau mengayun-ayunkan kakiku. Saking nyaman dan hangatnya, tidak jarang aku mengantuk. Tapi getaran pita suaramu menjalar hingga lenganmu yang nyaman, itu yang menjagaku untuk tidak tertidur saat bersandar di lenganmu.
Bersamamu selalu terasa nyaman dan menyenangkan. Saat hujan begini, biasanya kita berkirim pesan, bercerita lebih banyak, tertawa lebih banyak meski hanya melalui telepon seluler. Nanti setelah hujan reda, biasanya kita menghabiskan waktu di luar menikmati wedang ronde kesukaanku. Sempurna sekali, jalanan masih basah oleh hujan yang baru saja meninggalkan bumi, kadang rintik air dari daun yang terhembus angin pun masih menciptkan bunyi-bunyi yang romantis, dan semakin romantis lagi ketika ada pengamen yang membaca suasana kita, datang tanpa diundang lalu menyanyikan lagu cinta, berduet bersama malam yang baru saja disapa hujan. Tidak jarang aku ikut menyanyi, beberapa orang berkata suaraku bagus.
www.tomascastelazo.com
Kamu tahu persis selama aku berada di kota ini, aku selalu menikmati wedang ronde bersamamu. Belum pernah sekalipun orang lain menemaniku. Aku memiliki banyak sahabat dan teman wanita yang biasa menjadi teman untuk membunuh waktu. Tapi tidak pernah sekalipun aku menikmati wedang ronde ini bersama mereka, apalagi hujan begini.
Jatuh padamu itu indah, dan bertambah indah ketika kamu sedang bersamaku. membuatku bahagia saat kamu merelakan lubang telingamu terisi oleh gelombang suara yang aku hasilkan dari pita suara di tenggorokanku. Semakin indah ketika getaran pita suaramu menjalar melalui lenganmu dan merambat menuju kepalaku yang sedang bersandar di situ. Kamu tau? Bahwa getaran pita suaramu itu tidak hanya berhenti dikepalaku, tapi terus dan terus berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di hatiku, dengan sigap menuju ke sebuah ruangan yang di sana berisi kamu. Ya, semua hal tentang kamu.dan saat getaran itu sampai diruangan itu, suaramu itu secara otomatis akan terekam disitu.
Jatuh padamu itu indah, bisa bersamamu membuatnya menjadi semakin terasa menggembirakan, tapi alangkah lebih indahnya jika kamu memungut hatiku yang jatuh itu lalu menyimpannya, menjaganya agar tidak jatuh pada yang lain
Friday, December 21, 2012
Sungai Multifungsi
Senin, 17 Desember yang lalu, saya dan teman-teman satu kelompok mengunjungi pesisir pantai utara Jawa, tepatnya di sebuah RT yang berlokasi di Kecamatan Tanjung Mas. Kunjungan yang kami lakukan sebenarnya bukan untuk jalan-jalan atau refreshing, melainkan untuk melakukan Mini Research mengenai Kesehatan Fisik dan Lingkungan di Wilayah Pesisir. Awalnya kami berpikir setelah berkunjung ke runah-rumah warga, kami akan menemukan kawasan pesisir yang lumayan memanjakan indra penglihatan di kawasan Semarang utara. Paling tidak, kami ingin melihat eksotisme pemandangan laut sore, bersama kapal-kapal nelayan yang bersiap berlayar, itu saja. Harapan kami tidak terlalu muluk-muluk, karena kami sadar tidak akan menemukan pantai berpasir yang sama indahnya seperti pantai-pantai di Kawasan Wonosari Gunung Kidul, Jogjakarta atau di Jepara.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit mengendarai sepeda motor dari Kawasan Tembalang, akhirnya kami sampai di lokasi. Kami mulai menyusuri gang sempit yang hanya dapat dilalui 2 sepeda motor, menuju rumah Ketua RT setempat . Disambut tatapan-tatapan ‘ingin tahu’ dari warga sekitar, kami mencoba melempar senyum. Bau amis menusuk hidung, beberapa ibu –yang mungkin suaminya berprofesi sebagai nelayan- tampak sedang menimbang ikan, cumi dan kepiting, sedangkan anak-anak kecil sibuk berlarian di jalan gang sempit yang becek.
Berjalan sejauh 30 meter, akhirnya kami sampai di rumah Ketua RT, kami disambut dengan ramah. Tepat di depan rumah bapak RT kami disuguhi pemandangan sebuah tambak yang cukup luas, dengan sampah mengapung di sana-sini. Selesai memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kedatangan kami, kami segera memulai wawancara untuk mengumpulkan data yang bersumber dari tokoh masyarakat.
Jalan gang sempit yang becek tempat anak-anak kecil berlarian tadi, ternyata merupakan akibat dari banjir rob yag sering terjadi kawasan tersebut. “Tadi malam banjir datang pukul 02.00 dini hari mbak, airnya hampir masuk kerumah saya. Kalau yang rumahnya lebih rendah dari rumah saya, biasanya air sudah masuk ke rumah mbak.” Kata bapak RT dengan bahasa Indonesia yang khas dengan aksen Semarang-an.
Saat kami menanyakan mengenai system pembuangan sampah, kami mendapatkan jawaban yang memang sudah dapat kami tebak. Tidak terdapat tempat pembuangan sampah, maupun petugas yang mengambil sampah di lingkungan ini, warga dengan entengnya membuang sampah-sampah yang mereka hasilkan ke sungai dibelakang rumah yang langsung menuju ke laut. Ketika banjir Rob –yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya- datang, sampah-sampah yang ‘dititipkan’ di sungai kembali memenuhi jalan gang sempit akibat terbawa arus air. Ketika hari sudah terang, warga membersihkan sampah di jalan gang dan kembali ‘menitipkan’ sampah-sampah tesebut ke sungai.
Itu tadi mengenai sampah yang disebut pak RT hanya pulang dan pergi. Kali ini mengenai sanitasi serta MCK, kami cukup tercengang dengan jawaban yang disampaikan oleh pak RT saat kami menanyakan mengenai fasilitas MCK.
“Dibelakang rumah saya ini ada WC umum lho mbak”, kata pak RT. Jawaban tersebut awalnya membuat kami tersenyum. “ Tapi langsung ke sungai”, pak RT melanjutkan, sontak kami tercengang. Ternyata warga biasa menggunakan WC umum dengan sungai sebagai septitank nya. Tidak jauh berbeda dengan system pembuangan limbah rumah tangga dan home industry ikan asin, lagi-lagi sungai menjadi muara dari limbah industry tersebut.
Menurut pak RT, warga sangat jarang melakukan kerja bakti untuk menciptakan lingkungan bersih yang nyaman. Antusiasme warga terhadap kerjabakti hanya muncul ketika ada kunjungan dari pejabat daerah setempat. Meskipun menurut pak RT, warga di lingkungan ini menyadari betul dampak yang dapat timbul dari kebiasaan buruk ini. Betapa ‘Indonesia’ sekali warga di sini.
Wawancara berlangsung selama kurang lebih satu jam, lalu kami melanjutkan dengan survey lapangan. “Oh, silahkan mbak, dicoba juga boleh ko”, jawab pak RT saat kami meminta ijin untuk melihat WC umum yang tadi kami bicarakan, kami hanya bisa tersenyum mendengar jawaban tersebut.
Dari kejauhan nampak beberapa kapal terikat di batang bamboo yang ditancapkan di sisi sungai. Kami mencoba mendekat, air sungai tampak keruh dengan sampah yang tersebar di berbagai sisi sungai, mau amis semakin menyengat saat kami mendekat. Dan ternyata memang benar bahwa WC umum yang dimaksud pak RT tadi, memanfaatkan sungai sebagai septitank-nya. tidak tampak jelas adanya aliran air di sungai yang sedang kami amati. Berbagai macam sampah plastik tampak mengapung. Sekitar 10 meter dari tempat kami berdiri tampak tumpukan sampah yang menggunung. Menurut pak RT, tidak jarang ketika air pasang anak-anak berenang di kali multifungsi ini. Mencengangkan.
Alam menjadi sumber penghidupan merangkap sumber bencana yang tidak terelakkan. Potret kehidupan masyarakat Indonesia.
Sunday, December 2, 2012
Semoga Tidak Terjadi Apa-apa pada Hati yang Hanya Satu
ketika mencintai seseorang dan rasanya cinta itu meluap-luap, tapi tidak pernah bisa mengekspresikannya rasanya seperti tertindih batu yang beratnya berton-ton tepat diatas dada. Jangankan untuk mengekspresikan, bagaimana mungkin, ketika yang di cintai tidak memiliki perasaan yang sama. Rasanya mungkin selalu sama, bingung mau berteriak harus berteriak pada siapa, mau menangis untuk siapa. Mau berteriak selantang apapun juga tidak didengarkan, mau menangis hingga nafas terasa sesak pun juga tidak akan dipedulikan. Ya. Memang seperti itu karena ketika mencintai seseorang yang tidak balik mencintai itu adalah urusan yang mencintai, mau sakit hati ya di tanggung sendiri, mau berdarah-darah ya diobati sendiri, yang dicintai tidak akan pernah terpengaruh karena memang dia tidak balik mencintai.
tidak ada yang salah memang, hanya saja yang mencintai itu bodoh sekali, kenapa tidak segera berhenti, kenapa masih tetap saja bertahan di situ padahal sudah tau sakit. Sementara yang dicintai bebas kesana kemari bersama orang lain yang mungkin dia cintai atau tidak dia cintai. Sementara yang mencintai selalu was-was, tapi mau protes juga tidak bisa, memangnya siapa dia? Enak saja diprotes-protes, berhak juga tidak. Tapi disisi lain, yang mencintai berusaha mengelus dada sambil mengobati hatinya yang sakit, berkata pelan untuk hatinya yang sedang lecet atau bahkan berdarah, “tidak apa-apa yang penting dia bahagia, melihat senyumnya sudah cukup membahagiakan, bisa bersamanya itu adalah bonus dari ketulusan yang aku berikan”. Padahal kalo saja dia tahu, hatinya yang lecet atau bahkan berdarah itu sedang berteriak-teriak, ”berhenti, berhentilah mencintainya”. Tapi sayangnya teriakan-teriakan itu teredam oleh luapan cinta yang begitu besar untuk seseorang yang tidak balik mencintai.
Apapun dilakukan demi melihat yang dicintai bahagia, ya, karena bagi yang mencintai, melihat senyumnya adalah bahagia, meskipun harus merasa sakit di dada sebelah kirinya, karena terkadang yang membuatnya bahagia adalah sesuatu hal yang menyakitkan bagi yang mencintai. Dan lagi yang mencintai akan berkata pada hatinya ‘tidak apa-apa, yang penting dia bahagia’. Saking seringnya dicekoki kalimat itu, hatinya sekarang jadi mati rasa, mau sakit mau bahagia mau sedih rasanya hampir sama, ya mati rasa, tidak bisa lagi membedakan. Kalau sudah begini sebenarnya berbahaya, tapi bagaimana lagi yang mencintai masih ingin bertahan meski yang dicintai masih tetap tidak pernah melihat.
selalu saja punya sejuta alasan untuk bertahan. Sekali dua kali sahabat-sahabatnya masih mau menasehati, tapi tidak didengarkan sedikitpun. Hingga akhirnya sahabat-sahabat lelah, dengan gamblang mengatakan bahwa dia bodoh. Yang bisa dilakukan sahabat-sahabatnya hanya berdoa agar sahabatnya yang sedang mencintai seseorang yang tidak balik mencintainya itu, tetap baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa dengan hatinya yang hanya satu itu
tidak ada yang salah memang, hanya saja yang mencintai itu bodoh sekali, kenapa tidak segera berhenti, kenapa masih tetap saja bertahan di situ padahal sudah tau sakit. Sementara yang dicintai bebas kesana kemari bersama orang lain yang mungkin dia cintai atau tidak dia cintai. Sementara yang mencintai selalu was-was, tapi mau protes juga tidak bisa, memangnya siapa dia? Enak saja diprotes-protes, berhak juga tidak. Tapi disisi lain, yang mencintai berusaha mengelus dada sambil mengobati hatinya yang sakit, berkata pelan untuk hatinya yang sedang lecet atau bahkan berdarah, “tidak apa-apa yang penting dia bahagia, melihat senyumnya sudah cukup membahagiakan, bisa bersamanya itu adalah bonus dari ketulusan yang aku berikan”. Padahal kalo saja dia tahu, hatinya yang lecet atau bahkan berdarah itu sedang berteriak-teriak, ”berhenti, berhentilah mencintainya”. Tapi sayangnya teriakan-teriakan itu teredam oleh luapan cinta yang begitu besar untuk seseorang yang tidak balik mencintai.
Apapun dilakukan demi melihat yang dicintai bahagia, ya, karena bagi yang mencintai, melihat senyumnya adalah bahagia, meskipun harus merasa sakit di dada sebelah kirinya, karena terkadang yang membuatnya bahagia adalah sesuatu hal yang menyakitkan bagi yang mencintai. Dan lagi yang mencintai akan berkata pada hatinya ‘tidak apa-apa, yang penting dia bahagia’. Saking seringnya dicekoki kalimat itu, hatinya sekarang jadi mati rasa, mau sakit mau bahagia mau sedih rasanya hampir sama, ya mati rasa, tidak bisa lagi membedakan. Kalau sudah begini sebenarnya berbahaya, tapi bagaimana lagi yang mencintai masih ingin bertahan meski yang dicintai masih tetap tidak pernah melihat.
selalu saja punya sejuta alasan untuk bertahan. Sekali dua kali sahabat-sahabatnya masih mau menasehati, tapi tidak didengarkan sedikitpun. Hingga akhirnya sahabat-sahabat lelah, dengan gamblang mengatakan bahwa dia bodoh. Yang bisa dilakukan sahabat-sahabatnya hanya berdoa agar sahabatnya yang sedang mencintai seseorang yang tidak balik mencintainya itu, tetap baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa dengan hatinya yang hanya satu itu
Wednesday, November 28, 2012
Dia
Mereka berkata, "Dia sangat mencintaimu".
Ya, begitu mencintainya dia, sampai-sampai dia mau melakukan apapun demi melihatku tersenyum. Mereka mengatakan padaku, bahwa aku adalah semangatnya, sebentar saja dia menghabiskan waktu bersamaku, binar matanya akan segera berubah menjadi pancaran kebahagiaan yang seketika akan berpendar kesana kemari.
Mendengar hal itu, seketika ada rasa sakit di dadaku, bukankah ketika aku bersamanya aku lebih sering terdiam? Dia bercerita tentang ini dan itu dengan cerianya, tapi ketika sampai di akhir cerita aku tak menanggapi apapun bahkan melihatnya pun tidak, bagaimana mungkin dengan bersamaku bisa membuatnya begitu bahagia. Sebegitu berartinya kah aku baginya?
Masih kata mereka, "Dia begitu membanggakanmu, dia selalu mengatakan bahwa kamu adalah seseorang yang begitu baik hati, cerdas dan mengagumkan."
Hey, bukankah aku lebih sering membuatnya menangis, bagaimana mungkin dia menyimpulkan aku ini baik hati?
Mereka melihatnya terjatuh berkali-kali untuk mencitaiku.
Disaat cintanya padaku tak pernah sedikitpun berkurang, aku justru sedang bersama orang lain. Tapi dia selalu mengatakan bahwa dia akan ikut bahagia ketika melihatku bahagia. Bahkan sejauh yang aku ingat dia selalu mengatakan ‘have a nice day’ setiap kali aku menghabiskan waktu bersama perempuan lain. Dasar bodoh, pasti itu rasanya sakit sekali.
Kata mereka, "Dia tidak hanya mencintaimu tapi juga mencintai keluargamu."
Ya, dia selalu mengingatkanku bahwa merekalah yang harus aku utamakan. Merekalah yang selalu mendukungku selama ini, yang tidak pernah habis rasa pedulinya padaku.
"Dia berdarah-darah", kata mereka. "Ya, hatinya berdarah-darah untuk mencintaimu."
Padahal yang aku tau dia selalu berkata, ‘Hey, itu hatimu berdarah-darah, segera di obati biar tidak terlalu banyak darah yang keluar’. Dia berusaha menguatkanku meskipun aku masih tetap saja menganggapnya biasa. Sekuat apa dia, bahkan dalam keadaan berdarah-darahpun dia masih sempat memikirkanku, mengajakku berdiri dan berjalan lagi. Bahkan dia berkata,’ bahagia bisa melihatnya kembali berdiri dan belajar berjalan kembali’. Padahal dia sendiri sudah kehilangan banyak darah dari perdarahan di hatinya.
Itu dulu. Sekarang aku mencarinya, yang bisa mereka katakan hanya itu, hanya tentang seberapa besar mencintainya dia padaku. Tidak satupun dari mereka yang memberikan jawaban mengenai keberadaannya. Aku baru menyadari bahwa aku memiliki cinta untuknya. Ini, cinta yang baru aku sadari setelah dia pergi, setelah dia berhasil menghentikan perdarahan di hatiku, mengajakku berdiri dan lalu mengajariku berjalan, bahkan aku sudah tidak ragu lagi untuk berlari. Hey, dimana kamu? Aku mencintaimu, sini biar aku obati hatimu, lalu aku akan mengajarimu berdiri, berjalan dan berlari, bukan untuk menjauhiku, tapi untuk berada disisiku.
Ya, begitu mencintainya dia, sampai-sampai dia mau melakukan apapun demi melihatku tersenyum. Mereka mengatakan padaku, bahwa aku adalah semangatnya, sebentar saja dia menghabiskan waktu bersamaku, binar matanya akan segera berubah menjadi pancaran kebahagiaan yang seketika akan berpendar kesana kemari.
Mendengar hal itu, seketika ada rasa sakit di dadaku, bukankah ketika aku bersamanya aku lebih sering terdiam? Dia bercerita tentang ini dan itu dengan cerianya, tapi ketika sampai di akhir cerita aku tak menanggapi apapun bahkan melihatnya pun tidak, bagaimana mungkin dengan bersamaku bisa membuatnya begitu bahagia. Sebegitu berartinya kah aku baginya?
Masih kata mereka, "Dia begitu membanggakanmu, dia selalu mengatakan bahwa kamu adalah seseorang yang begitu baik hati, cerdas dan mengagumkan."
Hey, bukankah aku lebih sering membuatnya menangis, bagaimana mungkin dia menyimpulkan aku ini baik hati?
Mereka melihatnya terjatuh berkali-kali untuk mencitaiku.
Disaat cintanya padaku tak pernah sedikitpun berkurang, aku justru sedang bersama orang lain. Tapi dia selalu mengatakan bahwa dia akan ikut bahagia ketika melihatku bahagia. Bahkan sejauh yang aku ingat dia selalu mengatakan ‘have a nice day’ setiap kali aku menghabiskan waktu bersama perempuan lain. Dasar bodoh, pasti itu rasanya sakit sekali.
Kata mereka, "Dia tidak hanya mencintaimu tapi juga mencintai keluargamu."
Ya, dia selalu mengingatkanku bahwa merekalah yang harus aku utamakan. Merekalah yang selalu mendukungku selama ini, yang tidak pernah habis rasa pedulinya padaku.
"Dia berdarah-darah", kata mereka. "Ya, hatinya berdarah-darah untuk mencintaimu."
Padahal yang aku tau dia selalu berkata, ‘Hey, itu hatimu berdarah-darah, segera di obati biar tidak terlalu banyak darah yang keluar’. Dia berusaha menguatkanku meskipun aku masih tetap saja menganggapnya biasa. Sekuat apa dia, bahkan dalam keadaan berdarah-darahpun dia masih sempat memikirkanku, mengajakku berdiri dan berjalan lagi. Bahkan dia berkata,’ bahagia bisa melihatnya kembali berdiri dan belajar berjalan kembali’. Padahal dia sendiri sudah kehilangan banyak darah dari perdarahan di hatinya.
Itu dulu. Sekarang aku mencarinya, yang bisa mereka katakan hanya itu, hanya tentang seberapa besar mencintainya dia padaku. Tidak satupun dari mereka yang memberikan jawaban mengenai keberadaannya. Aku baru menyadari bahwa aku memiliki cinta untuknya. Ini, cinta yang baru aku sadari setelah dia pergi, setelah dia berhasil menghentikan perdarahan di hatiku, mengajakku berdiri dan lalu mengajariku berjalan, bahkan aku sudah tidak ragu lagi untuk berlari. Hey, dimana kamu? Aku mencintaimu, sini biar aku obati hatimu, lalu aku akan mengajarimu berdiri, berjalan dan berlari, bukan untuk menjauhiku, tapi untuk berada disisiku.
Wednesday, October 31, 2012
Jeprat- jepret Amatir
kali ini ceritanya lagi pengen belajar 'motret dengan bener'. Yup, mumpung ada yang ngajarin dan tentu saja ada kamera bagus yang boleh dipegang hehehe ..
bebarengan dengan acara LKMM Nasional VI ILMIKI yang digelar pada awal bulan Oktober kemarin, rasa penasaran terhadap kamera canggih, EOS, pun muncul ketika melihat beberapa teman tampak asyik berburu gambar dengan kamera canggih itu. Kebetulan ada waktu senggang ketika peserta LKMM beristirahat, aku mencoba membidik beberapa objek, di pandu oleh candra, masih amatiran tapi ini ada beberapa hasil yang kata chandra 'lumayan' untuk seorang pemula. Menurut candra aku berbakat di foto Makro ato entah apa namanya.
ini aksiku dengan si EOS
ini vas bunga di meja MC
Menu Sarapan Hari ke 3
sambel kacang bumbu pecel
tissue kuning, nice color :D
begitu mencoba ini kamera, aku langsung jatuh cinta. Ketagihan membidik objek objek makro di sekitar aula. Tiba-tiba autis bersama si Kamera dan langsung berhasrat untuk nabung biar nanti bisa menenteng EOS milik pribadi dan jeprat-jepret sana-sini :D
bebarengan dengan acara LKMM Nasional VI ILMIKI yang digelar pada awal bulan Oktober kemarin, rasa penasaran terhadap kamera canggih, EOS, pun muncul ketika melihat beberapa teman tampak asyik berburu gambar dengan kamera canggih itu. Kebetulan ada waktu senggang ketika peserta LKMM beristirahat, aku mencoba membidik beberapa objek, di pandu oleh candra, masih amatiran tapi ini ada beberapa hasil yang kata chandra 'lumayan' untuk seorang pemula. Menurut candra aku berbakat di foto Makro ato entah apa namanya.
ini aksiku dengan si EOS
ini vas bunga di meja MC
Menu Sarapan Hari ke 3
sambel kacang bumbu pecel
tissue kuning, nice color :D
begitu mencoba ini kamera, aku langsung jatuh cinta. Ketagihan membidik objek objek makro di sekitar aula. Tiba-tiba autis bersama si Kamera dan langsung berhasrat untuk nabung biar nanti bisa menenteng EOS milik pribadi dan jeprat-jepret sana-sini :D
Monday, October 29, 2012
Mereka Berpikir
Seringkali orang-orang yang melihat kebersamaan kita, berpikir kita adalah pasangan romantis yang sering menghabiskan waktu bersama, bernyanyi, bercerita lalu terbahak. Menurut mereka kita adalah pasangan serasi yang bisa saling mengisi, aku yang manja dan kamu yang dewasa, aku gemar bercerita sedangkan kamu selalu punya waktu untuk mendengar.
Ada yang bilang kita ini mirip dan pasangan kekasih yang mirip biasanya berjodoh. Bahkan ada yang dengan sangat gamblang mengatakan kepada orang tua ku bahwa orang tuaku pantas menjadi besan orang tuamu.
Pernah, ketika kita sedang menikmati wedang ronde kesukaanku yang -- kamu selalu menjadi temanku ketika menikmatinya – segerombolan pengamen mendatangi kita. Kamu sudah menyerahkan beberapa keeping uang receh sebelum mereka menyelesaikan intro lagu yang mereka bawakan, tapi mereka tidak kunjung beranjak dari depan mata kita. Mereka justru meneruskan lagu berjudul ‘Sempurna’ untuk kita, yang akhirnya membuat kita salah tingkah. Mereka terus menyanyi sampai bait terakhir lagu, dan kita hanya terdiam lalu sibuk memainkan handphone masing-masing. Agak aneh menurutku, pengamen ditempat ini biasanya langsung berlalu ketika sudah diberi beberapa keping receh, tapi kali ini mereka benar-benar menyanyi hingga bait terakhir lagu, lalu dengan senyuman paling manis mereka mengucapkan terimakasih pada kita. Kita terdiam sejenak ketika segerombolan pengamen tersebut meninggalkan kita, lalu aku berusaha biasa saja dan lalu aku kembali bercerita tentang ini dan itu.
Waktu kamu mengikuti prosesi penyerahan gelar sarjanamu, aku disana menemanimu. Orang tuamu sedikit kaget tapi kemudian berubah ramah, maklum mereka sudah mengenalku namun tidak pernah tau bahwa kita sering menghabiskan waktu bersama. Satu hari penuh aku menemani mereka, sepertinya mereka berpikir bahwa aku ini seseorang yang special untukmu.
Tapi sayangnya mereka semua salah, kita ini bukan pasangan kekasih. Kalau meraka bilang kita ini serasi, saling mengisi, dan bahkan terlihat romantis, itu hanya menurut mereka. Mereka tidak tau apa-apa tentang kita. Mereka juga tidak pernah tau bahwa aku sudah tiga tahun menemanimu seperti ini, ya, hanya menemani saja bukan mengisi ataupun melengkapi. Kalau mereka bilang kita ini serasi, mungkin merekan hanya salah melihat saja.
Kita pernah membicarakan tentang cinta, tapi bukan tentang kita,tapi tentang si A dan si B yang saling mencintai. Kita juga pernah membicarakan tentang status tapi lagi-lagi bukan tentang kita, tapi tentang wanita itu dan lelaki itu. Kita ini lucu, ah bukan kita tapi aku, sudah tau bahwa ‘KITA’ terlalu samar untukku, tapi aku tetap saja bertahan ini, menemanimu. Seringkali aku merasa lelah menyangkal pendapat mereka bahwa kita ini sepasang kekasih.
Ada yang bilang kita ini mirip dan pasangan kekasih yang mirip biasanya berjodoh. Bahkan ada yang dengan sangat gamblang mengatakan kepada orang tua ku bahwa orang tuaku pantas menjadi besan orang tuamu.
Pernah, ketika kita sedang menikmati wedang ronde kesukaanku yang -- kamu selalu menjadi temanku ketika menikmatinya – segerombolan pengamen mendatangi kita. Kamu sudah menyerahkan beberapa keeping uang receh sebelum mereka menyelesaikan intro lagu yang mereka bawakan, tapi mereka tidak kunjung beranjak dari depan mata kita. Mereka justru meneruskan lagu berjudul ‘Sempurna’ untuk kita, yang akhirnya membuat kita salah tingkah. Mereka terus menyanyi sampai bait terakhir lagu, dan kita hanya terdiam lalu sibuk memainkan handphone masing-masing. Agak aneh menurutku, pengamen ditempat ini biasanya langsung berlalu ketika sudah diberi beberapa keping receh, tapi kali ini mereka benar-benar menyanyi hingga bait terakhir lagu, lalu dengan senyuman paling manis mereka mengucapkan terimakasih pada kita. Kita terdiam sejenak ketika segerombolan pengamen tersebut meninggalkan kita, lalu aku berusaha biasa saja dan lalu aku kembali bercerita tentang ini dan itu.
Waktu kamu mengikuti prosesi penyerahan gelar sarjanamu, aku disana menemanimu. Orang tuamu sedikit kaget tapi kemudian berubah ramah, maklum mereka sudah mengenalku namun tidak pernah tau bahwa kita sering menghabiskan waktu bersama. Satu hari penuh aku menemani mereka, sepertinya mereka berpikir bahwa aku ini seseorang yang special untukmu.
Tapi sayangnya mereka semua salah, kita ini bukan pasangan kekasih. Kalau meraka bilang kita ini serasi, saling mengisi, dan bahkan terlihat romantis, itu hanya menurut mereka. Mereka tidak tau apa-apa tentang kita. Mereka juga tidak pernah tau bahwa aku sudah tiga tahun menemanimu seperti ini, ya, hanya menemani saja bukan mengisi ataupun melengkapi. Kalau mereka bilang kita ini serasi, mungkin merekan hanya salah melihat saja.
Kita pernah membicarakan tentang cinta, tapi bukan tentang kita,tapi tentang si A dan si B yang saling mencintai. Kita juga pernah membicarakan tentang status tapi lagi-lagi bukan tentang kita, tapi tentang wanita itu dan lelaki itu. Kita ini lucu, ah bukan kita tapi aku, sudah tau bahwa ‘KITA’ terlalu samar untukku, tapi aku tetap saja bertahan ini, menemanimu. Seringkali aku merasa lelah menyangkal pendapat mereka bahwa kita ini sepasang kekasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)
