Friday, December 21, 2012

Sungai Multifungsi


Senin, 17 Desember yang lalu, saya dan teman-teman satu kelompok mengunjungi pesisir pantai utara Jawa, tepatnya di sebuah RT yang berlokasi di Kecamatan Tanjung Mas. Kunjungan yang kami lakukan sebenarnya bukan untuk jalan-jalan atau refreshing, melainkan untuk melakukan Mini Research mengenai Kesehatan Fisik dan Lingkungan di Wilayah Pesisir. Awalnya kami berpikir setelah berkunjung ke runah-rumah warga, kami akan menemukan kawasan pesisir yang lumayan memanjakan indra penglihatan di kawasan Semarang utara. Paling tidak, kami ingin melihat eksotisme pemandangan laut sore, bersama kapal-kapal nelayan yang bersiap berlayar, itu saja. Harapan kami tidak terlalu muluk-muluk, karena kami sadar tidak akan menemukan pantai berpasir yang sama indahnya seperti pantai-pantai di Kawasan Wonosari Gunung Kidul, Jogjakarta atau di Jepara.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 45 menit mengendarai sepeda motor dari Kawasan Tembalang, akhirnya kami sampai di lokasi. Kami mulai menyusuri gang sempit yang hanya dapat dilalui 2 sepeda motor, menuju rumah Ketua RT setempat . Disambut tatapan-tatapan ‘ingin tahu’ dari warga sekitar, kami mencoba melempar senyum. Bau amis menusuk hidung, beberapa ibu –yang mungkin suaminya berprofesi sebagai nelayan- tampak sedang menimbang ikan, cumi dan kepiting, sedangkan anak-anak kecil sibuk berlarian di jalan gang sempit yang becek.

Berjalan sejauh 30 meter, akhirnya kami sampai di rumah Ketua RT, kami disambut dengan ramah. Tepat di depan rumah bapak RT kami disuguhi pemandangan sebuah tambak yang cukup luas, dengan sampah mengapung di sana-sini. Selesai memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kedatangan kami, kami segera memulai wawancara untuk mengumpulkan data yang bersumber dari tokoh masyarakat.


Jalan gang sempit yang becek tempat anak-anak kecil berlarian tadi, ternyata merupakan akibat dari banjir rob yag sering terjadi kawasan tersebut. “Tadi malam banjir datang pukul 02.00 dini hari mbak, airnya hampir masuk kerumah saya. Kalau yang rumahnya lebih rendah dari rumah saya, biasanya air sudah masuk ke rumah mbak.” Kata bapak RT dengan bahasa Indonesia yang khas dengan aksen Semarang-an.

Saat kami menanyakan mengenai system pembuangan sampah, kami mendapatkan jawaban yang memang sudah dapat kami tebak. Tidak terdapat tempat pembuangan sampah, maupun petugas yang mengambil sampah di lingkungan ini, warga dengan entengnya membuang sampah-sampah yang mereka hasilkan ke sungai dibelakang rumah yang langsung menuju ke laut. Ketika banjir Rob –yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya- datang, sampah-sampah yang ‘dititipkan’ di sungai kembali memenuhi jalan gang sempit akibat terbawa arus air. Ketika hari sudah terang, warga membersihkan sampah di jalan gang dan kembali ‘menitipkan’ sampah-sampah tesebut ke sungai.




Itu tadi mengenai sampah yang disebut pak RT hanya pulang dan pergi. Kali ini mengenai sanitasi serta MCK, kami cukup tercengang dengan jawaban yang disampaikan oleh pak RT saat kami menanyakan mengenai fasilitas MCK.

“Dibelakang rumah saya ini ada WC umum lho mbak”, kata pak RT. Jawaban tersebut awalnya membuat kami tersenyum. “ Tapi langsung ke sungai”, pak RT melanjutkan, sontak kami tercengang. Ternyata warga biasa menggunakan WC umum dengan sungai sebagai septitank nya. Tidak jauh berbeda dengan system pembuangan limbah rumah tangga dan home industry ikan asin, lagi-lagi sungai menjadi muara dari limbah industry tersebut.

Menurut pak RT, warga sangat jarang melakukan kerja bakti untuk menciptakan lingkungan bersih yang nyaman. Antusiasme warga terhadap kerjabakti hanya muncul ketika ada kunjungan dari pejabat daerah setempat. Meskipun menurut pak RT, warga di lingkungan ini menyadari betul dampak yang dapat timbul dari kebiasaan buruk ini. Betapa ‘Indonesia’ sekali warga di sini.

Wawancara berlangsung selama kurang lebih satu jam, lalu kami melanjutkan dengan survey lapangan. “Oh, silahkan mbak, dicoba juga boleh ko”, jawab pak RT saat kami meminta ijin untuk melihat WC umum yang tadi kami bicarakan, kami hanya bisa tersenyum mendengar jawaban tersebut.



Dari kejauhan nampak beberapa kapal terikat di batang bamboo yang ditancapkan di sisi sungai. Kami mencoba mendekat, air sungai tampak keruh dengan sampah yang tersebar di berbagai sisi sungai, mau amis semakin menyengat saat kami mendekat. Dan ternyata memang benar bahwa WC umum yang dimaksud pak RT tadi, memanfaatkan sungai sebagai septitank-nya. tidak tampak jelas adanya aliran air di sungai yang sedang kami amati. Berbagai macam sampah plastik tampak mengapung. Sekitar 10 meter dari tempat kami berdiri tampak tumpukan sampah yang menggunung. Menurut pak RT, tidak jarang ketika air pasang anak-anak berenang di kali multifungsi ini. Mencengangkan.

Alam menjadi sumber penghidupan merangkap sumber bencana yang tidak terelakkan. Potret kehidupan masyarakat Indonesia.


No comments:

Post a Comment