1. Sore,hujan,rindu dan kamu. Seperti satu cangkir kopi hitam. Pahit. Tak tertarik untuk menyentuh apalagi mencicipi, tapi diam-diam aku menikmati aromanya.
2. Sore, kamu dan tentang perpisahan. Seperti secangkir kopi hitam pahit yg tidak lagi hangat. Bahkan menikmati aromanya pun aku tak bisa.
3. Sekarang, biarkan malam menjemput senja. Biar jingga tergantikan hitam.
4. Meskipun tak dapat berbicara. Aku ingin membungkam rindu. Sederhaa saja, agar dia tak membisikkan namamu melalui angin.
5.Cinta sejati selalu dikelilingi oleh entah itu kebetulan, konspirasi alam dan segala sesuatu yg sejenis. Dia bisa pulang meski kadang tak tau arah.
bahagia bisa datang kapan saja dimana saja dan dengan siapa saja, kuncinya satu, nikmati saja momentnya, tidak peduli dimana, kapan dan dengan siapa asal kamu menikmati, pasti bahagia akan terasa disitu ..
Showing posts with label kamu. Show all posts
Showing posts with label kamu. Show all posts
Friday, April 19, 2013
Wednesday, January 9, 2013
Terimakasih
Hey, kamu tahu tidak? Aku suka sekali bahumu kuat, lapang, hangat dan nyaman. Aku suka sekali bersandar di bahumu itu. Setidaknya, saat merasa lelah, aku seperti menemukan rumahku, ya, rumah yang lama aku cari untuk segera melepas lelah yang membebani langkahku. Aku juga bisa bercerita banyak hal di bahumu itu, mekipun aku tau kamu tidak mendengarnya, tapi setidaknya jarak hati kita lebih dekat, semoga hatimu mendengar cerita-ceritaku. Dan di bahumu, aku juga sering mendoakanmu, mendoakanmu dalam segala, semua hal yang baik aku mintakan untukmu. Terimakasih sudah meminjamkannya untukku, membiarkannya mendengarkan ceritaku yang tidak sedikit, menopangku saat lelah dan membiarkan doa-doaku membanjirimu. Terimakasih
Monday, October 29, 2012
Mereka Berpikir
Seringkali orang-orang yang melihat kebersamaan kita, berpikir kita adalah pasangan romantis yang sering menghabiskan waktu bersama, bernyanyi, bercerita lalu terbahak. Menurut mereka kita adalah pasangan serasi yang bisa saling mengisi, aku yang manja dan kamu yang dewasa, aku gemar bercerita sedangkan kamu selalu punya waktu untuk mendengar.
Ada yang bilang kita ini mirip dan pasangan kekasih yang mirip biasanya berjodoh. Bahkan ada yang dengan sangat gamblang mengatakan kepada orang tua ku bahwa orang tuaku pantas menjadi besan orang tuamu.
Pernah, ketika kita sedang menikmati wedang ronde kesukaanku yang -- kamu selalu menjadi temanku ketika menikmatinya – segerombolan pengamen mendatangi kita. Kamu sudah menyerahkan beberapa keeping uang receh sebelum mereka menyelesaikan intro lagu yang mereka bawakan, tapi mereka tidak kunjung beranjak dari depan mata kita. Mereka justru meneruskan lagu berjudul ‘Sempurna’ untuk kita, yang akhirnya membuat kita salah tingkah. Mereka terus menyanyi sampai bait terakhir lagu, dan kita hanya terdiam lalu sibuk memainkan handphone masing-masing. Agak aneh menurutku, pengamen ditempat ini biasanya langsung berlalu ketika sudah diberi beberapa keping receh, tapi kali ini mereka benar-benar menyanyi hingga bait terakhir lagu, lalu dengan senyuman paling manis mereka mengucapkan terimakasih pada kita. Kita terdiam sejenak ketika segerombolan pengamen tersebut meninggalkan kita, lalu aku berusaha biasa saja dan lalu aku kembali bercerita tentang ini dan itu.
Waktu kamu mengikuti prosesi penyerahan gelar sarjanamu, aku disana menemanimu. Orang tuamu sedikit kaget tapi kemudian berubah ramah, maklum mereka sudah mengenalku namun tidak pernah tau bahwa kita sering menghabiskan waktu bersama. Satu hari penuh aku menemani mereka, sepertinya mereka berpikir bahwa aku ini seseorang yang special untukmu.
Tapi sayangnya mereka semua salah, kita ini bukan pasangan kekasih. Kalau meraka bilang kita ini serasi, saling mengisi, dan bahkan terlihat romantis, itu hanya menurut mereka. Mereka tidak tau apa-apa tentang kita. Mereka juga tidak pernah tau bahwa aku sudah tiga tahun menemanimu seperti ini, ya, hanya menemani saja bukan mengisi ataupun melengkapi. Kalau mereka bilang kita ini serasi, mungkin merekan hanya salah melihat saja.
Kita pernah membicarakan tentang cinta, tapi bukan tentang kita,tapi tentang si A dan si B yang saling mencintai. Kita juga pernah membicarakan tentang status tapi lagi-lagi bukan tentang kita, tapi tentang wanita itu dan lelaki itu. Kita ini lucu, ah bukan kita tapi aku, sudah tau bahwa ‘KITA’ terlalu samar untukku, tapi aku tetap saja bertahan ini, menemanimu. Seringkali aku merasa lelah menyangkal pendapat mereka bahwa kita ini sepasang kekasih.
Ada yang bilang kita ini mirip dan pasangan kekasih yang mirip biasanya berjodoh. Bahkan ada yang dengan sangat gamblang mengatakan kepada orang tua ku bahwa orang tuaku pantas menjadi besan orang tuamu.
Pernah, ketika kita sedang menikmati wedang ronde kesukaanku yang -- kamu selalu menjadi temanku ketika menikmatinya – segerombolan pengamen mendatangi kita. Kamu sudah menyerahkan beberapa keeping uang receh sebelum mereka menyelesaikan intro lagu yang mereka bawakan, tapi mereka tidak kunjung beranjak dari depan mata kita. Mereka justru meneruskan lagu berjudul ‘Sempurna’ untuk kita, yang akhirnya membuat kita salah tingkah. Mereka terus menyanyi sampai bait terakhir lagu, dan kita hanya terdiam lalu sibuk memainkan handphone masing-masing. Agak aneh menurutku, pengamen ditempat ini biasanya langsung berlalu ketika sudah diberi beberapa keping receh, tapi kali ini mereka benar-benar menyanyi hingga bait terakhir lagu, lalu dengan senyuman paling manis mereka mengucapkan terimakasih pada kita. Kita terdiam sejenak ketika segerombolan pengamen tersebut meninggalkan kita, lalu aku berusaha biasa saja dan lalu aku kembali bercerita tentang ini dan itu.
Waktu kamu mengikuti prosesi penyerahan gelar sarjanamu, aku disana menemanimu. Orang tuamu sedikit kaget tapi kemudian berubah ramah, maklum mereka sudah mengenalku namun tidak pernah tau bahwa kita sering menghabiskan waktu bersama. Satu hari penuh aku menemani mereka, sepertinya mereka berpikir bahwa aku ini seseorang yang special untukmu.
Tapi sayangnya mereka semua salah, kita ini bukan pasangan kekasih. Kalau meraka bilang kita ini serasi, saling mengisi, dan bahkan terlihat romantis, itu hanya menurut mereka. Mereka tidak tau apa-apa tentang kita. Mereka juga tidak pernah tau bahwa aku sudah tiga tahun menemanimu seperti ini, ya, hanya menemani saja bukan mengisi ataupun melengkapi. Kalau mereka bilang kita ini serasi, mungkin merekan hanya salah melihat saja.
Kita pernah membicarakan tentang cinta, tapi bukan tentang kita,tapi tentang si A dan si B yang saling mencintai. Kita juga pernah membicarakan tentang status tapi lagi-lagi bukan tentang kita, tapi tentang wanita itu dan lelaki itu. Kita ini lucu, ah bukan kita tapi aku, sudah tau bahwa ‘KITA’ terlalu samar untukku, tapi aku tetap saja bertahan ini, menemanimu. Seringkali aku merasa lelah menyangkal pendapat mereka bahwa kita ini sepasang kekasih.
Sunday, September 30, 2012
Jangan Terlalu Lama Seperti Ini
Malam itu, akhirnya kita kembali bertemu setelah tepat satu bulan kita tak menghabiskan waktu bersama. Akhirnya, aku bisa memperhatikanmu sedekat ini lagi. Mengamati setiap gerakan dan merekam setiap kata yang kamu ucapkan. Kamu sudah memangkas rapi rambutmu, biasanya aku kurang suka melihat rambutmu ketika baru saja dipangkas, tapi kali ini aku suka terlihat lebih pantas dari biasanya. Sepertinya berat badanmu bertambah, mungkin karena kamu menghabiskan waktu terlalu lama di rumah dengan gizi yang tercukupi. Lenganmu yang biasanya aku cubit ketika aku kesal padamu, sepertinya tambah berisi. Aku semakin terlihat kecil saja ketika berjalan disampingmu, tentu saja, apalagi aku sempat sakit dan sulit tidur selama beberapa hari, berat badanku bukannya bertambah tapi malah berkurang.
Kamu tau, aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu lagi. Wajahmu terlihat lucu, beberapa kali terihat menahan tawa saat aku bercerita. Tak seperti biasanya, ya, karena kita terbiasa saling melempar canda lalu tertawa lepas bersama. Kali ini berbeda, kamu harus berusaha menahan tawamu dan menahan pandanganmu ke padaku. Mungkin masalah yang kemarin, ketika kamu kembali terseret ke masa lalu, dan aku hampir saja sampai di titik lelahku untuk bersamamu, cukup menguras energimu untuk sekedar tertawa bersamaku. Tidak apa-apa yang penting kamu ada di sini, di sampingku, itu sudah cukup membuatku bahagia.
Jangan terlalu lama seperti ini. Cepat kembali jadi kamu yang dulu, agar kita bisa saling melempar canda dan tertawa lepas bersama lagi. Jangan sampai sabarku habis untuk menunggumu.
Kamu tau, aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu lagi. Wajahmu terlihat lucu, beberapa kali terihat menahan tawa saat aku bercerita. Tak seperti biasanya, ya, karena kita terbiasa saling melempar canda lalu tertawa lepas bersama. Kali ini berbeda, kamu harus berusaha menahan tawamu dan menahan pandanganmu ke padaku. Mungkin masalah yang kemarin, ketika kamu kembali terseret ke masa lalu, dan aku hampir saja sampai di titik lelahku untuk bersamamu, cukup menguras energimu untuk sekedar tertawa bersamaku. Tidak apa-apa yang penting kamu ada di sini, di sampingku, itu sudah cukup membuatku bahagia.
Jangan terlalu lama seperti ini. Cepat kembali jadi kamu yang dulu, agar kita bisa saling melempar canda dan tertawa lepas bersama lagi. Jangan sampai sabarku habis untuk menunggumu.
Saturday, September 29, 2012
Aku memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf dan bahkan aku memaafkanmu sebelum kesalahan itu kamu buat
Kita terbiasa bersama, berbagi cerita, tawa dan canda. Hey, aku selalu merindukan saat-saat bersamamu. Aku paling suka saat tanganmu dengan jahilnya mengacak-acak jilbabku, saat aku mulai memasang muka manyun.
Kamu itu, seperti super hero untukku setiap kali aku menemui masalah, kamu selalu sigap membantuku. Ingat tidak, saat aku pulang terlalu larut malam, pukul 10 malam kamu menjemputku di depan sebuah Rumah Sakit, lalu kamu memarahiku gara-gara aku belum makan sejak pagi sampai pukul 10 malam, dengan sabar kamu menemaniku makan hinga pukul setengah sebelas malam.
Lalu ini, hal-hal yang sering kamu lakukan. Seringkali, kamu datang kekontrakan untuk mengambil makanan yang aku masak untukmu. Aku paling takut menyebrang jalan raya, dan kamu selalu menjadi pahlawanku saat menyebrang. Saat aku sakit kamu membawakan wedang ronde kesukaanku. Kita bahkan pernah berkeliling kota, hanya untuk mencari lokasi berfoto. Duduk bersamaku, mendengarku bercerita dan bernyayi.
Kamu itu lucu, tak pernah mau memilih, bahkan saat membeli baju pun aku yang memilihkannya untukmu, dan kamu tak mau tau, kamu hanya menurut saja pada pilihanku. Meskipun aku kadang merasa kurang nyaman dengan kebiasaan ‘tak bisa memilih’ mu ini.
Atau mungkin kamu masih ingat yang ini, saat aku menangis di terminal. Aku ingin pulang ke rumah, seperti biasa kamu mengantarkanku ke terminal. Waktu itu sudah terlalu malam menurutku, lalu aku menangis di terminal karena aku tak berani naik bus. Aku meminta kembali lagi ke kos, kamu ingat, saking lelahnya menangis aku lapar, dengan polosnya aku mengajakmu makan dan kamu tertawa terbahak-bahak waktu itu.
Kalau yang ini, kamu pasti masih sangat ingat. Aku mendatangimu di kontrakan, jalan kaki. Lalu kamu bermaksud mengantarkanku pulang ke kontrakanku, tapi waktu itu kamu sedang apes mungkin. Hey, aku bukan ingin pulang ke kontrakan, tapi aku ingin kekampus. Dengan celana kolor yang sobek di bagian samping, sandal jepit yang berbeda kanan dan kiri, belum mandi pula, dan tanpa helm aku menggiringmu ke kampus, ‘aku tak mau lewat jalan pintas, aku maunya lewat tengah kampus dan melewati fakultasmu’ kataku. Aku tertawa terbahak sepanjang jalan, sedangkan kamu asik membanggakan diri, ‘ah, bakalan banyak adik tingkat yang naksir kalo penampilanku seperti ini’, katamu. Aku semakin terbahak mendengar kalimat itu.
Tapi sekarang, semua berubah. Kamu diam, lebih tepatnya kamu mendiamkanku. Kamu bilang ‘nanti kamu akan terus sakit hati kalau terus-terusan bersamaku, aku yang salah, dan aku tidak mau semakin banyak berbuat salah padamu”. Kamu memang salah tapi aku sudah memaafkanmu. Hey, apa kamu tidak ingat, kamu pernah bilang bahwa kamu selalu memaafkan setiap kesalahanku sebelum aku minta maaf, dan akupun mengatakan hal yang sama ‘memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf dan bahkan aku memaafkanmu sebelum kesalahan itu kamu buat’.
Jadi, tetaplah di sini, duduk dan dengarkan aku bercerita, lalu ucapkan satu atau dua kata agar aku tertawa, dan aku akan membayarnya dengan nyayianku, ato mungkin perhatianku jika memang kamu butuh.
Kamu itu, seperti super hero untukku setiap kali aku menemui masalah, kamu selalu sigap membantuku. Ingat tidak, saat aku pulang terlalu larut malam, pukul 10 malam kamu menjemputku di depan sebuah Rumah Sakit, lalu kamu memarahiku gara-gara aku belum makan sejak pagi sampai pukul 10 malam, dengan sabar kamu menemaniku makan hinga pukul setengah sebelas malam.
Lalu ini, hal-hal yang sering kamu lakukan. Seringkali, kamu datang kekontrakan untuk mengambil makanan yang aku masak untukmu. Aku paling takut menyebrang jalan raya, dan kamu selalu menjadi pahlawanku saat menyebrang. Saat aku sakit kamu membawakan wedang ronde kesukaanku. Kita bahkan pernah berkeliling kota, hanya untuk mencari lokasi berfoto. Duduk bersamaku, mendengarku bercerita dan bernyayi.
Kamu itu lucu, tak pernah mau memilih, bahkan saat membeli baju pun aku yang memilihkannya untukmu, dan kamu tak mau tau, kamu hanya menurut saja pada pilihanku. Meskipun aku kadang merasa kurang nyaman dengan kebiasaan ‘tak bisa memilih’ mu ini.
Atau mungkin kamu masih ingat yang ini, saat aku menangis di terminal. Aku ingin pulang ke rumah, seperti biasa kamu mengantarkanku ke terminal. Waktu itu sudah terlalu malam menurutku, lalu aku menangis di terminal karena aku tak berani naik bus. Aku meminta kembali lagi ke kos, kamu ingat, saking lelahnya menangis aku lapar, dengan polosnya aku mengajakmu makan dan kamu tertawa terbahak-bahak waktu itu.
Kalau yang ini, kamu pasti masih sangat ingat. Aku mendatangimu di kontrakan, jalan kaki. Lalu kamu bermaksud mengantarkanku pulang ke kontrakanku, tapi waktu itu kamu sedang apes mungkin. Hey, aku bukan ingin pulang ke kontrakan, tapi aku ingin kekampus. Dengan celana kolor yang sobek di bagian samping, sandal jepit yang berbeda kanan dan kiri, belum mandi pula, dan tanpa helm aku menggiringmu ke kampus, ‘aku tak mau lewat jalan pintas, aku maunya lewat tengah kampus dan melewati fakultasmu’ kataku. Aku tertawa terbahak sepanjang jalan, sedangkan kamu asik membanggakan diri, ‘ah, bakalan banyak adik tingkat yang naksir kalo penampilanku seperti ini’, katamu. Aku semakin terbahak mendengar kalimat itu.
Tapi sekarang, semua berubah. Kamu diam, lebih tepatnya kamu mendiamkanku. Kamu bilang ‘nanti kamu akan terus sakit hati kalau terus-terusan bersamaku, aku yang salah, dan aku tidak mau semakin banyak berbuat salah padamu”. Kamu memang salah tapi aku sudah memaafkanmu. Hey, apa kamu tidak ingat, kamu pernah bilang bahwa kamu selalu memaafkan setiap kesalahanku sebelum aku minta maaf, dan akupun mengatakan hal yang sama ‘memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf dan bahkan aku memaafkanmu sebelum kesalahan itu kamu buat’.
Jadi, tetaplah di sini, duduk dan dengarkan aku bercerita, lalu ucapkan satu atau dua kata agar aku tertawa, dan aku akan membayarnya dengan nyayianku, ato mungkin perhatianku jika memang kamu butuh.
Wednesday, June 27, 2012
aku, kamu dan kegilaan kita
Lagi, kita melakukan hal konyol. Setelah yang terakhir adalah berfoto di depan lampu merah jembatan banjir kanal barat, kali ini kita berpiknik bersama di depan rumah sakit. Aku pernah berpikiran untuk melakukan hal konyol ini, tapi aku rasa kamu tidak akan menyetujuinya. Giliran aku yang tercengang sekarang, saat kamu membeli kue bandung kemudian memintaku untuk membeli minuman di minimarket dan kamu mencomot satu cone es krim, lalu bergegas melaju dengan motormu. Meskipun saat itu kamu menanyakan dimana kita akan menghabiskan makanan ini, (dan lalu, tentu saja aku memilih tempat itu) namun aku yakin bahwa sebenarnya kamu pun memikirkan tempat yang sama dengan yang aku pikirkan.
Tempat ini, belakangan menjadi tempat favoritku,terang, tenang namun tidak terlalu sepi, dan dari tempat ini aku bisa melihat jutaan kerlip lampu. Dan aku pikir, sekarang mulai banyak orang yang menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit. Di samping kanan kita ada satu pasang kekasih dan begitu juga disamping kiri kita, sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius. Jauh di sisi kanan kita, ada segerombolan orang yang sedang berbincang, sesekali mereka terbahak.
Hahaha, kita memulai piknik konyol ini, dengan satu kardus kue bandung, satu cone es krim, dan satu botol air mineral, rukun sekali ya kita? Kamu semangat sekali menyantap kue bandung hitam manis itu, lalu membuka es krim. ‘ ini’ katamu, sambil menyodorkan es krim itu padaku. Aku menggeleng, ‘ nanti saja’. Kita berusaha menghabiskan makanan yang kita beli, namun gagal karena aku tak terlalu suka makanan manis. Aku hanya mengambil 2 potong kue bandung, dan menggigit sedikit es krim yang kamu bawa. Banyak hal yang aku ceritakan padamu, namun kamu hanya diam, entah bosan, entah kamu dengarkan atau tidak ocehanku yang panjang lebar itu, aku tak peduli. Kamu merebahkan badanmu di rerumputan dan menutup mata, dan aku duduk disampingmu sambil bernyanyi. Mungkin orang-orang yang melintasi tempat kita berpiknik akan berpikran bahwa kita ini PASANGAN ROMANTIS yang GILA. Hey, tentu saja kita akan segera memprotes orang yang mengatakan hal seperti itu, karena AKU dan KAMU BUKAN PASANGAN, jadi tidak ada kata ROMANTIS, mungkin yang pantas untuk kita hanyalah kata GILA.
Entahlah, sampai kapan kita bisa melakukan hal konyol seperti ini lagi, menjadi TEMAN menggila satu sama lain, karena tak lama lagi pasti aku akan lebih sering merindukan kebersamaan kita.
Tempat ini, belakangan menjadi tempat favoritku,terang, tenang namun tidak terlalu sepi, dan dari tempat ini aku bisa melihat jutaan kerlip lampu. Dan aku pikir, sekarang mulai banyak orang yang menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit. Di samping kanan kita ada satu pasang kekasih dan begitu juga disamping kiri kita, sepertinya mereka sedang membicarakan hal serius. Jauh di sisi kanan kita, ada segerombolan orang yang sedang berbincang, sesekali mereka terbahak.
Hahaha, kita memulai piknik konyol ini, dengan satu kardus kue bandung, satu cone es krim, dan satu botol air mineral, rukun sekali ya kita? Kamu semangat sekali menyantap kue bandung hitam manis itu, lalu membuka es krim. ‘ ini’ katamu, sambil menyodorkan es krim itu padaku. Aku menggeleng, ‘ nanti saja’. Kita berusaha menghabiskan makanan yang kita beli, namun gagal karena aku tak terlalu suka makanan manis. Aku hanya mengambil 2 potong kue bandung, dan menggigit sedikit es krim yang kamu bawa. Banyak hal yang aku ceritakan padamu, namun kamu hanya diam, entah bosan, entah kamu dengarkan atau tidak ocehanku yang panjang lebar itu, aku tak peduli. Kamu merebahkan badanmu di rerumputan dan menutup mata, dan aku duduk disampingmu sambil bernyanyi. Mungkin orang-orang yang melintasi tempat kita berpiknik akan berpikran bahwa kita ini PASANGAN ROMANTIS yang GILA. Hey, tentu saja kita akan segera memprotes orang yang mengatakan hal seperti itu, karena AKU dan KAMU BUKAN PASANGAN, jadi tidak ada kata ROMANTIS, mungkin yang pantas untuk kita hanyalah kata GILA.
Entahlah, sampai kapan kita bisa melakukan hal konyol seperti ini lagi, menjadi TEMAN menggila satu sama lain, karena tak lama lagi pasti aku akan lebih sering merindukan kebersamaan kita.
Saturday, May 26, 2012
Untuk Bersamamu Seperti Ini Saja akan Menjadi Hal yang Sangat Sulit Nanti
Malam itu, kita tertawa. Ya kita tertawa lepas, saling melempar guyonan yang membuatku semakin tak ingin mengakhiri kebersamaan kita. Aku menyanyikan lagu kesukaanku dan kamu mendengarkan, aku bercerita panjang lebar dan kamu pun mendengarkan, entah kamu bosan atau tidak mendengar ocehanku. Sesekali kamu membuatku cemberut, lalu kamu akan tertawa lepas saat melihat wajahku manyun. Aku kembali bercerita sambil menyandarkan kepalaku di lenganmu, dan kamu mendengarkan (lagi). ‘nyaman sekali bersandar di lenganmu, jangan bosan mendengarkan celotehku yaa ….’
Kamu, pintar sekali memilih tempat untuk berbincang malam itu. Aku suka sekali tempat itu, aku suka karena dari tempat itu aku dan kamu bisa melihat jutaan kerlip lampu yang indah, aku juga bisa melihat kerlipan lampu pesawat yang melintas, bahkan jika malam itu sedang hujan meteor pun aku yakin kita bisa melihatnya dengan jelas. ‘Bagus ya lampu-lampu itu’ kataku sambil mengarahkan telunjukku pada lampu-lampu itu ‘ apanya yang bagus?’ katamu. Entahlah mungkin kebetulan saja kamu memilih tempat itu, hingga bisa sesuai dengan apa yang aku suka. Tapi yang jelas membuatku bahagia malam itu adalah bukan seberapa indahnya tempat itu atau seberapa banyak kerlip lampu yang bisa kita saksikan, namun disisimu, ya berada disisimu itu sungguh membuatku bahagia.
Begitu banyak hal yang kita bagi malam itu. Salah satunya tentang ramalan jodohku waktu SMA, sungguh konyol sekali, menurut ramalan (yang tentu saja aku tak mempercayainya waktu itu) inisial jodohku sama dengan inisial namamu. ‘jangan geer kamu’ katamu, haha aku hanya bisa tertawa saat itu ‘hey tentu saja aku berharap itu adalah kamu’.
Sudah lewat jam 9 malam, aku merengek mengajakmu pulang, tapi kamu tak mengabulkan.
Lagi, aku bercerita kali ini tentang tingkah salah seorang temanku yang sungguh menjengkelkan, kali ini kamu tak menanggapi kamu hanya menguap,entahlah mungkin membosankan. Berikutnya aku berceloteh tentang bagaimana jika nama spesies mangrove dalam penelitianmu, Avicennia marina aku gunakan untuk nama anakku kelak, engkau hanya tersenyum. ‘Kamu tau? Aku berharap kamu lah yang akan menjadi ayah dari anak itu’
Entah, sudah berapa kali aku merengek mengajak pulang, dan kamu tak mengabulkannya (lagi).
Kamu bilang, biasanya dua orang yang berjodoh, ukuran kelingking sang laki-laki sama dengan ukuran jari manis perempuannya, dan teori inilah yang sering digunakan untuk mengukur cincin pernikahan. Aku reflek mengulurkan jari manisku. ‘ Apa?’ katamu, kutarik kembali jari manisku sambil memasang muka manyun, kamu tertawa lepas, lalu mengulurkan kelingkingmu tapi aku menyembunyikan jari manisku dibelakang punggungku. ‘tau tidak? Aku takut jika jari manisku tak sama dengan kelingkingmu, dan kalaupun ukuran jari manisku sama dengan kelingkingmu aku takut aku akan semakin beharap lebih padamu’
Ketika mulai membicarakan tentang kelulusanmu, kamu lebih banyak diam dan tak menanggapi dengan ekspresi apapun. Entahlah, diammu itu pertanda apa, tapi sepertinya bukan karena kita tak akan bertemu lagi. ‘Nanti kalau kamu lulus ga akan ada lagi yang nyubitin kamu,yang ribut, yang manyun dan yang menyebalkan sepertiku’,kamu diam tak menanggapi akupun ikut diam. Kamu merebut netbookku lalu tertawa melihat hasil kerjaku, lagi-lagi aku manyun dan tawamu semakin lepas. Kamu mengusap-usap kepalaku hingga jilbabku berantakan, lalu beranjak menuju motormu, ‘ayuk pulang’. Aku berharap bisa terus melihat tawa lepasmu itu, ya terus dan selalu dalam setiap hari yang aku lalui. Tapi aku tersadar untuk bersamamu seperti ini saja akan menjadi hal yang sangat sulit nanti setelah kelulusanmu.
Monday, April 30, 2012
apa kabar?
Hei apa kabar ..
sudah seminggu lebih tak mendengar suaramu. masih tetap semangatkah kamu menjalani hari-harimu? Iya aku tau, hari-harimu saat ini terasa lebih berwarna dengan dinamika hidup yang kamu alami
Tenang saja, teruslah melangkah, nikmatilah setiap langkahmu meskipun itu terasa berat, jangan dirasakan, karena di depan sana pasti akan kamu temui titik cerah dimana hari-harimu akan kembali terasa ringan dan dimudahkan.
Tidak. Aku tidak sedang ingin menyemangatimu, aku hanya ingin berceloteh saja untuk mengurangi rasa rinduku padamu. Karena aku masih sangat ingat, katamu, kata-kataku tak akan mampu sedikitpun menyadarkanmu apalagi merubahmu.
Ah, lagipula kamu pasti sudah punya jurus jitu untuk memompa kembali semangatmu. Benarkan?.
Seandainya saja kamu sadar bahwa kamu adalah seseorang yang luar biasa tangguh. Kamu mampu bertahan dalam keadaan yang serumit ini. kamu hebat karena kamu masih tetap menjadi seorang idola bagi 2 orang adik lelakimu. Kamu hebat, karena kedua orang tua mu selalu terlihat bangga ketika bercerita tentangmu. Kalau begini aku jadi semakin yakin bahwa kamu pasti bisa. Pasti bisa tetap berdiri dan melangkah lagi, bahkan untuk berlaripun aku yakin kamu bisa.
Seperti yang selalu aku katakan padamu dan juga aku tanamkan dalam hatiku, bahwa setelah malam yang gelap akan datang mentari yang akan bersinar terang, setelah badai pasti akan ada pelangi yang indah. Bersama kesusahan terdapat kemudahan. Bersabarlah. Cerah harimu akan segera datang.
sudah seminggu lebih tak mendengar suaramu. masih tetap semangatkah kamu menjalani hari-harimu? Iya aku tau, hari-harimu saat ini terasa lebih berwarna dengan dinamika hidup yang kamu alami
Tenang saja, teruslah melangkah, nikmatilah setiap langkahmu meskipun itu terasa berat, jangan dirasakan, karena di depan sana pasti akan kamu temui titik cerah dimana hari-harimu akan kembali terasa ringan dan dimudahkan.
Tidak. Aku tidak sedang ingin menyemangatimu, aku hanya ingin berceloteh saja untuk mengurangi rasa rinduku padamu. Karena aku masih sangat ingat, katamu, kata-kataku tak akan mampu sedikitpun menyadarkanmu apalagi merubahmu.
Ah, lagipula kamu pasti sudah punya jurus jitu untuk memompa kembali semangatmu. Benarkan?.
Seandainya saja kamu sadar bahwa kamu adalah seseorang yang luar biasa tangguh. Kamu mampu bertahan dalam keadaan yang serumit ini. kamu hebat karena kamu masih tetap menjadi seorang idola bagi 2 orang adik lelakimu. Kamu hebat, karena kedua orang tua mu selalu terlihat bangga ketika bercerita tentangmu. Kalau begini aku jadi semakin yakin bahwa kamu pasti bisa. Pasti bisa tetap berdiri dan melangkah lagi, bahkan untuk berlaripun aku yakin kamu bisa.
Seperti yang selalu aku katakan padamu dan juga aku tanamkan dalam hatiku, bahwa setelah malam yang gelap akan datang mentari yang akan bersinar terang, setelah badai pasti akan ada pelangi yang indah. Bersama kesusahan terdapat kemudahan. Bersabarlah. Cerah harimu akan segera datang.
Tuesday, April 17, 2012
kamu
Kamu, kamu dan kamu, ah penuh sekali rasanya otakku olehmu. Otakku memang tak hanya berisi tentangmu saja, tapi saat ini rasanya otakku begitu terasa penuh karena ulah mu, bagaimana tidak di lobus sini sedang sibuk menayangkan slide-slide tentangmu senyummu, muka seriusmu, keangkuhan, kelembutanmu.
Di lobus sana sedang hingar bingar memutar rekaman suaramu, tawamu, cerita-ceritamu yang selalu membuatku tertarik, entah itu tentang adikmu, orang tuamu, kuliahmu, ah semua tentangmu tak ada yang tak menarik bagiku.
Tak ketinggalan video kebersamaan kita yang berhasil aku rekam dengan memori otakku sedang berjalan di lobus otakku yang situ. Lihat, itu kebiasaanmu saat turun dari motor, membuka helm dan kemudian melihat bayangan wajahmu sendiri dari kaca spion dan selanjutnya jari-jarimu akan reflex menyisir rambutmu. Dan ini lihatlah, mungkin kamu tak sadar bahwa kamu memiliki kebiasaan ini, ini adalah saat kamu mencoba menahan emosimu padaku dan aku hanya memasang muka polos merasa tak bersalah lalu tanganmu akan reflex menyentuh kepalaku, haha sungguh mukamu sangat lucu saat menahan emosi. Coba sini, yang ini adalah kebiasaanmu saat minum menggunakan sedotan, mencelupkan sedotanmu kedalam gelas, menutup lubang bagian atas, mengangkat sedotan dari gelas sambil tetap menutup lubang bagian atasnya, lalu setelah itu kamu membukanya hingga cairan yang tertahan dalam sedotanmu keluar. Dan yang ini adalah caramu menertawakanku saat aku sedang cemberut, kau biasanya menyebutnya manyun bukan cemberut. Semua menjadi begitu ramai di otakku.
Sebenarnya aku heran, kamu itu terlalu baik atau memang lisanmu telah disetting untuk tak mengatakan ‘ tidak’ padaku. Jika semua orang berkata ‘tidak’ maka aku yakin kamu yang akan mengatakan ‘iya’ untukku.
Kamu selalu menyediakan waktumu untukku menemaniku berceloteh kesana-kemari, meski terkadang aku tau kamu bosan mendengar ceritaku dan memilih untuk menanggapi singkat saja dengan 3 kata. ‘ooo gitu ya’ atau parahnya lagi 1 kata ‘uhm’ haha tak apa yang penting aku masih bisa duduk dan menghabiskan waktu bersamamu itu cukup untukku.
Kamu, kamu hebat kamu bilang kamu emosian, tapi kamu selalu bisa menghadapiku yang menjengkelkan ini dengan kesabaranmu yang luar biasa. Kata mereka kamu begitu baik padaku, kata mereka kamu begitu menyayangiku, tunggu dulu sepertinya ada yang salah, bukankah kamu pernah mengatakan kamu tak menyayangiku apalagi mencintaiku, kamu selalu memintaku agar tak salah mengartikan semua yang selama ini kita jalani. Tenang saja aku lebih percaya padamu, karena itu rasamu dan hatimu, tentunya kamu tak akan mengatakan hal yang salah mengenai isi hatimu. Tapi sebentar, coba aku ingat kembali yang sering aku lihat dimatamu kira-kira itu apa ya? Bisakah kamu jelaskan padaku?
Ah, maaf aku lupa seharusnya aku tak boleh berpikir yang tidak-tidak mengenai kita. Seharusnya aku sudah cukup bersyukur bisa mengenalmu, bukan malah berpikir yang tidak-tidak mengenai hatimu.
Di lobus sana sedang hingar bingar memutar rekaman suaramu, tawamu, cerita-ceritamu yang selalu membuatku tertarik, entah itu tentang adikmu, orang tuamu, kuliahmu, ah semua tentangmu tak ada yang tak menarik bagiku.
Tak ketinggalan video kebersamaan kita yang berhasil aku rekam dengan memori otakku sedang berjalan di lobus otakku yang situ. Lihat, itu kebiasaanmu saat turun dari motor, membuka helm dan kemudian melihat bayangan wajahmu sendiri dari kaca spion dan selanjutnya jari-jarimu akan reflex menyisir rambutmu. Dan ini lihatlah, mungkin kamu tak sadar bahwa kamu memiliki kebiasaan ini, ini adalah saat kamu mencoba menahan emosimu padaku dan aku hanya memasang muka polos merasa tak bersalah lalu tanganmu akan reflex menyentuh kepalaku, haha sungguh mukamu sangat lucu saat menahan emosi. Coba sini, yang ini adalah kebiasaanmu saat minum menggunakan sedotan, mencelupkan sedotanmu kedalam gelas, menutup lubang bagian atas, mengangkat sedotan dari gelas sambil tetap menutup lubang bagian atasnya, lalu setelah itu kamu membukanya hingga cairan yang tertahan dalam sedotanmu keluar. Dan yang ini adalah caramu menertawakanku saat aku sedang cemberut, kau biasanya menyebutnya manyun bukan cemberut. Semua menjadi begitu ramai di otakku.
Sebenarnya aku heran, kamu itu terlalu baik atau memang lisanmu telah disetting untuk tak mengatakan ‘ tidak’ padaku. Jika semua orang berkata ‘tidak’ maka aku yakin kamu yang akan mengatakan ‘iya’ untukku.
Kamu selalu menyediakan waktumu untukku menemaniku berceloteh kesana-kemari, meski terkadang aku tau kamu bosan mendengar ceritaku dan memilih untuk menanggapi singkat saja dengan 3 kata. ‘ooo gitu ya’ atau parahnya lagi 1 kata ‘uhm’ haha tak apa yang penting aku masih bisa duduk dan menghabiskan waktu bersamamu itu cukup untukku.
Kamu, kamu hebat kamu bilang kamu emosian, tapi kamu selalu bisa menghadapiku yang menjengkelkan ini dengan kesabaranmu yang luar biasa. Kata mereka kamu begitu baik padaku, kata mereka kamu begitu menyayangiku, tunggu dulu sepertinya ada yang salah, bukankah kamu pernah mengatakan kamu tak menyayangiku apalagi mencintaiku, kamu selalu memintaku agar tak salah mengartikan semua yang selama ini kita jalani. Tenang saja aku lebih percaya padamu, karena itu rasamu dan hatimu, tentunya kamu tak akan mengatakan hal yang salah mengenai isi hatimu. Tapi sebentar, coba aku ingat kembali yang sering aku lihat dimatamu kira-kira itu apa ya? Bisakah kamu jelaskan padaku?
Ah, maaf aku lupa seharusnya aku tak boleh berpikir yang tidak-tidak mengenai kita. Seharusnya aku sudah cukup bersyukur bisa mengenalmu, bukan malah berpikir yang tidak-tidak mengenai hatimu.
Subscribe to:
Posts (Atom)