Sunday, December 2, 2012

Semoga Tidak Terjadi Apa-apa pada Hati yang Hanya Satu

ketika mencintai seseorang dan rasanya cinta itu meluap-luap, tapi tidak pernah bisa mengekspresikannya rasanya seperti tertindih batu yang beratnya berton-ton tepat diatas dada. Jangankan untuk mengekspresikan, bagaimana mungkin, ketika yang di cintai tidak memiliki perasaan yang sama. Rasanya mungkin selalu sama, bingung mau berteriak harus berteriak pada siapa, mau menangis untuk siapa. Mau berteriak selantang apapun juga tidak didengarkan, mau menangis hingga nafas terasa sesak pun juga tidak akan dipedulikan. Ya. Memang seperti itu karena ketika mencintai seseorang yang tidak balik mencintai itu adalah urusan yang mencintai, mau sakit hati ya di tanggung sendiri, mau berdarah-darah ya diobati sendiri, yang dicintai tidak akan pernah terpengaruh karena memang dia tidak balik mencintai.

tidak ada yang salah memang, hanya saja yang mencintai itu bodoh sekali, kenapa tidak segera berhenti, kenapa masih tetap saja bertahan di situ padahal sudah tau sakit. Sementara yang dicintai bebas kesana kemari bersama orang lain yang mungkin dia cintai atau tidak dia cintai. Sementara yang mencintai selalu was-was, tapi mau protes juga tidak bisa, memangnya siapa dia? Enak saja diprotes-protes, berhak juga tidak. Tapi disisi lain, yang mencintai berusaha mengelus dada sambil mengobati hatinya yang sakit, berkata pelan untuk hatinya yang sedang lecet atau bahkan berdarah, “tidak apa-apa yang penting dia bahagia, melihat senyumnya sudah cukup membahagiakan, bisa bersamanya itu adalah bonus dari ketulusan yang aku berikan”. Padahal kalo saja dia tahu, hatinya yang lecet atau bahkan berdarah itu sedang berteriak-teriak, ”berhenti, berhentilah mencintainya”. Tapi sayangnya teriakan-teriakan itu teredam oleh luapan cinta yang begitu besar untuk seseorang yang tidak balik mencintai.

Apapun dilakukan demi melihat yang dicintai bahagia, ya, karena bagi yang mencintai, melihat senyumnya adalah bahagia, meskipun harus merasa sakit di dada sebelah kirinya, karena terkadang yang membuatnya bahagia adalah sesuatu hal yang menyakitkan bagi yang mencintai. Dan lagi yang mencintai akan berkata pada hatinya ‘tidak apa-apa, yang penting dia bahagia’. Saking seringnya dicekoki kalimat itu, hatinya sekarang jadi mati rasa, mau sakit mau bahagia mau sedih rasanya hampir sama, ya mati rasa, tidak bisa lagi membedakan. Kalau sudah begini sebenarnya berbahaya, tapi bagaimana lagi yang mencintai masih ingin bertahan meski yang dicintai masih tetap tidak pernah melihat.

selalu saja punya sejuta alasan untuk bertahan. Sekali dua kali sahabat-sahabatnya masih mau menasehati, tapi tidak didengarkan sedikitpun. Hingga akhirnya sahabat-sahabat lelah, dengan gamblang mengatakan bahwa dia bodoh. Yang bisa dilakukan sahabat-sahabatnya hanya berdoa agar sahabatnya yang sedang mencintai seseorang yang tidak balik mencintainya itu, tetap baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa dengan hatinya yang hanya satu itu

No comments:

Post a Comment