Showing posts with label moving on. Show all posts
Showing posts with label moving on. Show all posts

Tuesday, December 25, 2012

Detakmu Pernah Menjadi Hitungan Senyumku

1. Cinta sejati akan mengenali jalan pulangnya sendiri. meskipun terkadang ia buta, tapi cinta sejati tidak perlu dituntun, tidak butuh tongkat, tidak butuh penunjuk jalan.

2. Seperti ranting yang lelah diayun-ayunkan sang angin, terpanggang terik matahari, dan menggigil oleh hujan, akhirnya memilih untuk patah dan terjatuh ke tanah.

3. Detakmu pernah menjadi hitungan senyumku dan sekarang detakmu menjadi hitungan tetes air mata yang ditumpahkan mataku.

4. Aku tidak membutuhkan alasan untuk mencintaimu, tapi untuk melupakanmu aku membutuhkan beribu alasan, mau membantuku menemukan alasan itu?

5. Kalau nanti air mataku meleleh, kamu diam saja, jangan lakukan apa-apa. Jangan buat aku kembali mencintaimu saat aku sudah hendak melepasmu.

6. Ternyata selama ini aku tidak pernah kehilangan kunci itu, aku sendiri yang menyembunyikannya, dan berpura-pura bahwa kunci itu hilang,jadi hatiku terus tertutup.


Sunday, October 21, 2012

Berhenti dan Lalu Pergi

Aku masih punya kekuatan untuk bertahan, aku juga masih mempunyai sisa rasa untukmu, dan satu lagi, aku pun masih membutuhkanmu. Tapi, satu hal yang tidak aku punya, kamu tau apa? Stok hati. Ya, aku tidak punya stok hati untuk kamu hancurkan lagi. Sekarang, mumpung hatiku masih bisa disembuhkan aku memilih untuk berhenti mencintaimu.


‘Kita’ sudah ada dalam ‘daftar’ itu. Ya, aku dan ‘kamu’. Tidak akan tertukar, jadi ‘kamu’ tidak perlu merisaukan siapa aku, bagaimana aku, dimana aku dan kapan kita dipertemukan. Begitu juga denganku, aku tidak perlu takut ‘kamu’ akan tersesat ke jalan yang salah, toh akhirnya ‘kamu’ akan dikembalikan ke jalan menuju aku. Jadi persiapkan diri saja untuk menyambutku, aku disini juga sedang bersiap-siap menyambutmu.


Kalau hari ini adalah hari terakhirku bersamamu, ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku? Tentang ‘ tertawa jelekku’ mungkin? Bahwa kamu sangat menyukainya dan seringkali merindukannya.


Kalau kamu merasa lelah untuk ‘moving on’ bersabarlah, karena tidak ada yang instan. Untuk menikmati mie instan saja kita harus menunggu 5 menit, apalagi ini, masalah hati.


Kamu pernah merasa takut aku menjadi terlalu lelah dan lalu pergi meninggalkanmu? Kalau ternyata tidak, aku akan pergi sekarang juga darimu, sebelum aku merasa lelah.


Sini, duduk disampingku, dengarkan aku bernyanyi dan bercerita, lalu ucapkan satu dua kata untuk membuatku tertawa. Nikmati kebersamaan kita ini, karena besok aku memilih untuk pergi darimu.


Kamu tau, malaikat-malaikat turun ketika hujan datang, dan kamu tau apa yang aku lakukan ketika hujan? Aku berdoa untukmu, jadi nanti ketika malaikat-malaikat itu kembali ke langit, mereka akan langsung menyampaikan doaku pada Tuhan.

Wednesday, October 10, 2012

Aku Sudah Selesai Mengemasi Kamu

Ruangan kecil ini, dulu, aku selalu membuatnya terasa nyaman untuk kamu tinggali. Beberapa waktu yang lalu kamu menjadi semakin betah tinggal di ruangan kecil yang ada di hatiku ini. Aku memberikanmu fasilitas paling mewah, perhatian, pengertian, semangat dan kehadiranku. Aku merasa menjadi yang paling bahagia ketika perhatian, semangat yang aku berikan untukmu, serta kehadiranku menjadikanmu semakin kuat. Akupun bahagia ketika kamu membutuhkan kehadiranku, ketika kamu membayar rindu yang aku simpan untukmu dengan meluangkan waktumu untuk membuatku tertawa lepas, ketika perhatianmu begitu tulus untukku dan ketika kamu mengangkatku saat aku jatuh.

Tapi belakangan kamu berubah. Aku memberimu perhatian yang cukup tapi kamu bilang, aku ini sok peduli. Lalu aku coba memberimu semangat, sekarang kamu bilang, bukan aku yang mampu menyemangatimu. Aku berusaha tetap disampingmu ketika kamu jatuh tapi kemudian kamu bilang tak membutuhkanku. Ini bukan yang pertama kali kamu mengatakan itu. Berkali-kali. Ya berkali-kali. Aku dengan sekuat tenagaku mengusahakan (lagi) agar kamu tetap nyaman tinggal di ruang kecil ini. Dan lalu kamu akan kembali lagi. Dan kemudian akan pergi lagi mengejar bahagiamu. Dan ketika kamu lelah kamu kembali lagi. Begitu seterusnya.

Sampai kali ini aku sudah terlalu lelah. Aku mengemasimu dari hatiku. Lihat, sudah selesai. Coba kamu periksa masih ada tidak yang terselip di pojok-pojok ruangan atau tidak. Kalau kotak yang ada di pojok itu, kamu tidak berhak membawanya, itu miliku. Aku beri tahu, isi kotak itu adalah kebersamaan kita dulu. Aku membiarkannya tetap di sini karena memang mustahil aku membuangnya, yang aku bisa hanya pelan-pelan menganggapnya sebagai kotak biasa yang berisi kenangan biasa, baru kemudian aku bisa menyimpannya di gudang.

Aku sudah selesai mengemasimu. Sini, biar aku bantu mengangkat barangmu sampai di depan pintu. Lalu aku akan menyaksikan punggung dan bahumu yang dulu pernah aku pakai bersandar ketika lelah, perlahan menjauh. Jangan, jangan berbalik untuk melihatku meski hanya sepersekian detik, bisa jadi aku akan kembali menarik tanganmu dan memintamu tinggal kembali.

Aku tau, setelah ini kamu akan kembali mengejar bahagiamu. Aku pun begitu, ruang kecil ini sekarang aku biarkan kosong, akan aku bereskan, dan aku siapkan untuk seseorang yang akan menjadi bahagiaku. Nanti kalau kamu terluka lagi, kamu boleh bertamu ke ruang ini lagi, tapi maaf bukan untuk tinggal di sini dan mendapatkan fasilitas mewah lagi dariku, kecuali kamu membawakan ‘hadiah kesungguhan’ untukku.

Friday, August 31, 2012

cerita untuk 'kamu'

Hey, kamu apa kabar?

Semoga baik-baik saja disana, masih setia menungguku bukan? Akupun begitu, berusaha menyibukkan diri agar tak selalu memikirkanmu, jujur aku takut menganggu harimu saat aku terlalu sering memikirkanmu. Jangan lupa, persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk menyambutku ya.

Hey, aku punya cerita untukmu, dengarkan, asal kamu tau aku ini seseorang yang sangat suka bercerita tentang ini dan itu.

Kamu tau, sudah tiga tahun ini aku mencintai seseorang. Dia begitu baik, selalu siap sedia jika aku menemui kesulitan, dia selalu berhasil membuatku tertawa lepas saat hari ku terasa begitu gelap dan membosankan. Dia juga tak pernah menolak mendengarkan aku berceloteh kesana-kemari, dan hebatnya dia tahan mendengarkan suara ku yang entah merdu entah tidak saat aku bernyanyi kecil. Satu lagi, bahunya tak pernah menolak setiap kali aku ingin membagi beban berat dikepalaku.
Hhaaha kamu cemburu ya? Sebentar, belum juga aku selesai bercerita, dengarkan dulu sampai habis.

Aku pun selalu berusaha menjadi seseorang yang selalu ada untuknya, siap menjadi teman paling setia setiap kali masalah datang memenuhi harinya. Aku memperhatikan setiap hal tentang dirinya, baju apa yang sering dia pakai, hal apa saja yang dia lakukan saat turun dari motornya, sticker apa yang ada di helm nya, bahwa rambutnya sudah beruban meskipun usianya baru 23 tahun dan masih banyak lagi. Tapi sepertinya dia tak terlalu membutuhkanku, karena ternyata ada hati lain yang dia pegang. Praktis, dia tak lagi mampu membuatku tertawa lepas saat hariku kelabu, tapi justru dialah yang membuat hari-hariku semakin tak menentu. Aku masih bertahan mencintainyai, namun tak lama aku memutuskan untuk menjauh. Hey, kamu tau rasanya harus berpisah dengannya? Aku mengingau menyebut-nyebut namanya, dunia rasanya seperti akan runtuh tepat di atas kepalaku. Tapi aku sadar aku harus bisa tanpanya. Terkadang aku masih menghubunginya sesekali meskipun aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Aku berhasil melewati 6 bulan tanpa bertemu dengannya dan 2 bulan tanpa pesan singkat, telepon dan segala jenis komunikasi.

Masih cemburu?? Ini masih lumayan panjang lhoh ceritanya, sepertinya kamu butuh teh, kopi atau biskuit untuk dinikmati sambil mendengarkan celotehku. Jangan merokok ya tapi, aku tidak nyaman berada didekat perokok.

Oke aku lanjutkan lagi. Tak lama kemudian, ternyata takdir kembali mendekatkanku dengannya, namun kali ini aku berusaha mengatur hatiku, menyiapkannya kalau-kalau dia harus berlalu dari hidupku (lagi). Kita memberi nama hubungan kita sebagai ‘kakak-adek’ haha entahlah, tapi tak jauh beda dengan hubungan kita yang dulu. Dia masih siap sedia saat aku butuh bantuan, dia masih mempunyai jurus ampuh untuk membuatku tertawa lepas, dia masih belum bosan mendengarkan celotehanku dan nyanyian kecilku yang entah merdu entah tidak. Dan tentu saja bahunya masih sangat kuat menopang kepalaku. Tetapi dia juga masih tetap mempunyai hati untuk membuatku menangis, bedanya kali ini aku lebih kebal atau entah mungkin keras kepala lebih tepatnya. Tak sedikit teman yang menyarankanku untuk berhenti mecintainya, tapi tetap saja aku masih menyimpan harapan, bahwa suatu saat akan aku temui cahaya terang dalam keputusanku untuk tetap bertahan mencintainya. Tapi bukankan terlalu cinta dan terlalu bodoh itu hanya memiliki pembatas yang sangat tipis? Satu tahun lebih aku menjalani hubungan ‘kakak-adek’ dengannya, aku masih saja ngotot mempertahankannya meskipun sepertinya sudah terlalu banyak luka gores di hatiku karena dia memegang hatiku dengan asal-asalan hingga tak jarang hatiku terjatuh dari genggamannya.

Hahaha kalau nanti kamu bertemu dengannya jangan marah ya karena dia telah menyakitiku, maafkan saja, aku juga sudah memaafkan dia ko’ :D
Hey, jangan beranjak dulu, sebentar, masih belum selesai..

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu aku mendengar cerita yang sangat mencengangkan. Nanti saja aku ceritakan padamu jika kita sudah dipertemukan, terlalu banyak orang yang akan membaca jika aku ceritakan disini. Cerita itu langsung aku dengar dari lisan seseorang yang dia pegang juga hatinya, parahnya yang dialami oleh seseorang -- yang juga dia pegang hatinya—ini, lebih menyesakkan dari apa yang aku alami. Saat itu aku benar-benar tak mampu berucap, kaget setengah hidup, dan secara otomatis pabrik air mataku untuknya berhenti memproduksi air mata lagi, tak ada lagi jatah air mata untuknya. Jika selama ini aku memilih untuk tetap bertahan dalam pusaran arus yang tak menentu sambil tetap membiarkannya memegang kunci pintu hatiku secara asal-asalan, kali ini aku memilih untuk merebut kunci hatiku yang dia pegang lalu melemparkannya kedarat, berharap akan ada seseorang yang menemukan untuk kemudian menyelamatkanku dari pusaran arus yang tidak jelas ini, karena aku masih terlalu takut untuk melompat sendiri. Namun tak mustahil kemungkinan lain yang akan terjadi, bisa jadi dia yang akan mengajakku keluar dari pusaran arus untuk kemudian kembali menggenggan kunci hatiku.

Hey,kamu tau tidak, aku berharap kamu yang akan menyelamatkanku dari pusaran arus yang tidak tentu arah ini. Entah kamu sebagai orang lain yang akan menemukan kunci hati yang telah aku lempar kedarat, atau kamu sebagai dia yang akan mengajakku keluar bersama-sama dari pusaran arus ini. Satu hal yang pasti aku masih setia menunggumu disini dan juga mempersiapkan diriku sebaik mungkin untuk bertemu denganmu. Oiya jika ternyata kamu adalah dia, aku berharap saat kita dipertemukan atau lebih tepatnya disatukan nanti, sikapmu yang kurang tegas itu sudah hilang, karena aku butuh seseorang yang tegas untuk memimpinku.

Aku menceritakan ini bukan sengaja untuk membuatmu cemburu, asal kamu tau seberapa besar pun sayang dan cinta ku saat ini padanya, tak akan pernah sanggup melebihi rasa sayang dan cintaku untukmu kelak. Bahkan meskipun sekarang (mungkin) kita belum dipertemukan, aku pun sudah sangat mencintaimu, percayalah. Tapi jika memang saat ini kamu cemburu, tak apa itu tandanya kamu juga mencintaiku bukan?

Hoaam, ah aku sudah mengantuk, kamu masih ingin mengerjakan sesuatu yang lain? Baiklah, selamat beraktifitas kembali, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mendengarkanku. Oiya jangan tidur terlalu malam ya.. :D