Showing posts with label travels. Show all posts
Showing posts with label travels. Show all posts

Friday, March 1, 2013

Liburan Akhir Semester 7 (Part 5) : Candi Merak feat Rumah Duren

Berawal dari posting-an teman saya, Ucup di facebook tentang Candi yang berada di Kecamatan Karangnongko, saya jadi penasaran. Kebetulan memang saya sudah suntuk seminggu di rumah tanpa kegiatan yang berarti. Jadilah saya meng-sms Icha dan Kiki untuk merencanakan berwisata ke candi tersebut.

Akhirnya rencana maen ke Candi Merak sudah matang. Saya, Icha, Kiki dan Nio berkumpul di depan SMA tercinta kami, SMA N 1 Klaten. Berfoto sejenak di depan Almamater tercinta sambil menunggu Ratih yang sedang perjalanan dari rumah.

Kami berangkat pukul 10.00 WIB dari SMA N 1 Klaten menuju ke Candi Merak sekalian jemput si Ucup, Tour Guide kami pagi ini. Setelah menenpuh perjalan sejauh kurang lebih 3 Km dari rumah Ucup, kami sampai di Candi Merak yang terletak di Dukuh Candi, Kecamatan Karangnongko, Klaten. Tak disangka sangka, sesampainya kami di kompleks Candi, ternyata gerbang candi masih terkunci, belum buka mungkin. Ucup si Tour Guide berusaha mencari informasi dari warga sekitar. Ternyata yang jaga Candi Merak itu PNS jadi hari Sabtu dan Minggu libur, ko aneh ya ada gitu tempat wisata yang tutup hari Sabtu Minggu?


Nasib, candinya tutup

Tapi ternyata ada warga yang berbaik hati memanggilkan Pak Slamet, salah seorang warga yang memegang kunci kompleks Candi Merak. Yeay!! Akhirnya kami bisa masuk, terimakasih Pak Slamet. Setelah gerbang candi terbuka, kami mulai berhamburan mencari tempat berpose yang keren, manjat sana manjat sini, cengar- cengir ga jelas. Si Icha malah latihan buat foto Prewed nya nanti, Ucup sibuk ngumpulin foto buat koleksi pribadi katanya, padahal yang difoto juga Cuma kita-kita ini yang disini - -“





Menurut cerita dari poster yang terpampang di depan Kompleks candi, maklum ga pake Tour Guide beneran, Candi Merak merupakan candi Hindu. Terbukti dari adanya temuan stupa-stupa di lokasi ini seperti Yoni, Ganesha, Durga(Tuhan umat Hindu) dan Nandi (Kendaraan milik Siva). Candi Merak memiliki ukuran lebar 8,86 m, panjang 13,5 m dan tinggi 12 m. Restorasi bagian kaki dan badan candi dilaksanakan pada tahun 2007-2010 , sedangkan bagian atap candi dapat diselesaikan pada tahun 2011.




Nih, Candi Merak, mirip ya sama Candi Gedongsongo

Kalau cerita versi Pak Slamet dan beberapa warga lain, kompleks Candi Merak ini dulunya adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon besar. Nah setelah pohon besar tersebut ditebang dan dibersihkan hingga akarnya, ditemukanlah sekumpulan batu yang mirip materi bangunan candi. Kenapa dinamakan Candi Merak? Menurut Pak Slamet, pada zaman dahulu terdapat sarang burung merak disekitar candi Hindu ini, selain itu beberapa Relief di candi tersebut bebrtuk seperti cap kaki burung merak. Jujur saja, mendengar cerita Pak Slamet, saya langsung membayangkan, flashback ke beratus-ratus tahun sebelum hari ini, tempat ini kaya apa ya dulu? Hmm entahlah, yang jelas Candi Merak ini mulai dilirik wisatawan Mancanegara lhoh. Kata Ucup sih, pas dia pertama kali ke candi ini, dia ketemu bule lagi asik nontonin ni candi, cielah ditontonin berasa bioskop.


Ini, Pak Slamet yang uda baik hati nyariin kita kunci

Puas berwisata budaya, perjalanan kami lanjutkan menuju Rumah Durian Ibu Sunarni yang terletak tak jauh dari Candi Merak, sekitar 5 menit perjalanan. Sepanjang jalan yang saya lalui dari Candi Merak menuju Rumah Durian Ibu Sunarni, betebaran pohon durian dimana-mana. Saya langsung punya pikiran absurd banget, gimana jadinya kalo ada angin gedhe trus duriannya pada runtuh, padahal yang naek motor pada ga pake helm? Hehe absurd sekali kan.

Begitu sampai di halaman rumah Ibu Sunarni, hidung kami serasa ditusuk durian, eh salah, maksud saya bau durian menusuk hidung kami. Durian bergeletakan dimana-mana, seakan-akan berteriak, makan kami!! makan kami!! Iye-iye sabar tar gua beli lu lu pada.


icha lagi nyicicipin Duren yang bakal kita pilih

Ternyata Rumah Durian Ibu Sunarni ini cukup terkenal, terbukti dari banyaknya pengunjung yang datang membeli durian di tempat ini. Setelah melalui pergulatan panjang dengan ibu Sunarni, akhirnya kami memenangkan 3 durian dengan harga 75 ribu. Kata Ucup durennya lonjong kaya muka saya, eeet dah temen kampus bilang muka saya kaya kates, nah sekarang dibilang kaya duren, demi apa coba - -“


Emang iya sih mukaku selonjong duren ini, mana tampangku udah berantakan pula :(

Begitu durian dibuka satu persatu, kita berenam ngadain perundingan, durian mana yang harus dieksekusi terlebih dahulu. Akhirnya si Orange mendapat giliran terakhir untuk kami santap. Jadilah kami mabok durian setelah itu.


Before, ini saat duren-duren masih lengkap


Kita makan deh durennya abis itu


After, ketika hanya tinggal kulit yang tersisa

Hal menarik dari Rumah Durian Ibu Sunarni adalah, kalau durian yang kita pilih ternyata busuk, bisa minta ganti, dan dijamin kualitas di Rumah Durian Ibu Sunarni ini top banget, enaknya kebangetan. Saya yang biasanya Cuma kuat makan dua biji durian sekarang kuat makan berbiji-biji durian. Kita juga bisa memakan durian yang kita pilih, langsung di Rumah Durian tersebut, gratis air minum ko, gratis juga air buat cuci tangan hehe. Oiya buat kamu yang penasaran atau memang hobi minum Jusdur alias Jus Durian, bisa juga pesan disini. Selamat mencoba.

Thursday, February 28, 2013

Liburan Akhir Semester 7 (Part 4) : Borobudur, Fabulous Indonesian Cultural Heritage, dan Romantisnya Senja di Kota Jogjakarta

Hmm sepertinya yang gratis-gratis masih berpihak kepada saya, haha jangan ngiri ya. Jadi, ceritanya setelah acara Art Trash Selling, saya berencana untuk pulang ke Klaten. Tak disangka-sangka, baru saja saya menginjakkan kaki di kamar, ada sms dari mb mery, saya ditawari untuk ikut Tour ke Jogja bareng temen-temen Exchange Participant AIESEC Undip. Okesip, saya terima tawaran mbak Merry, lumayan nambah pengalaman kerja. :)

Esok paginya, tanggal 28 Januari saya sudah siap berangkat setelah kemaren sore di training secara singkat sama mba Tika. Sempat terjadi miss komunikasi, saya harusnya nunggu di Gerbang Undip pleburan, eh saya malah Standby di GSG Undip Tembalang, alhasil pagi-pagi harus kebut-kebutan bareng mbak Tika. Sampai di Pleburan di ketawain sama pak Yudi sama Mbak Lia. Nasib.

Aduh deg-degan harus nyampaiin tips kesehatan pake English, mana uda lebih dari 6 bulan ga ngomong pake inggris gara-gara ga ada kuliah kelas. Maak, belepotan dah jadinya saya ngomong. Tapi mbak Lia bilang, gapapa uda bagus ko, haha saya tahu mbak Lia mencoba menenangkan saya.

Well, tujuan wisata kami kali ini adalah Candi Borobudur, yang seumur-umur saya belum pernah kesana hehe, tampaknya saya harus mengeluarkan jurus sok tau yang diajarkan Pak Yudi dan Mbak Lia. Boleh dibilang pekerjaan saya sebagai travel nurse kali ini cukup ringan, karena yang saya bawa foreigner yang memiliki karakter yang mandiri, jadi ga dikit-dikit ngeluh, tapi saya tetep harus pendekatan personal ke mereka, nah ini yang jadi tantangan terberat hehe.

Pukul 10.00 WIB kami sampai di Borobudur, kami langsung masuk ke International Visitor’s Room, disini saya menyarankan teman-teman Exchange Participant untuk membawa air mineral soalnya diatas panas banget, ini menurut mbak Lia yang uda berkali-kali kesini sih. Kebetulan ada free welcoming drink di International Visitor’s Room, jadilah mereka sibuk masukin air mineral ke ransel masing-masing, aku juga dong ikutan.

Nah, sebelum memasuki kompleks candi, peserta tour diminta menggunaka Saroong, yaitu berupa lembaran kain batik yang diikatkan di pinggang. Nadia yang berasal dari Rusia sempet nolak pake Saroong, tapi toh akhirnya dia nurut juga, Zomor dari Mesir penasaran pengen make sendiri sarong nya dan akhirnya dia berhasil, yeay!

Woow, Borobudur megah banget, serius deh. Temen-temen EP juga pada berdecak kagum dengan kemewahan Candi Budha ini. Bener kata mbak Lia, Borobudur panasnya kebangetan. Tapi sayang, saya kurang bisa merhatiin penjelasan bapak Tour Guide, soalnya uda dikerubuti sama temen-temen EP. Tapi saya denger samar-samar, relief yang ada di Candi Borobudur menceritakan perjalanan Sang Budha dari lahir hingga menuju surge atau Nirwana. Relief di Candi Borobudur juga menceritkan mengenai sifat manusia yang baik dan buruk. Untuk dapat menikmati cerita yang runtut dari relief Candi Borobudur kita harus memulai perjalanan dari sisi kiri menuju ke atas candi. Sampai di tingkat kedua, ada peserta yang nanya ke saya, kenapa stupanya pada ilang kepalanya, hehe untungnya sebelum ditanyain aku uda nanya duluan ke Mbak Lia, katanya pada ilang karena jatuh pas ada gempa.


Nih Borobudur Megahnya Kebangetan


Panasnya Jugak ga kalah kurang ajar, liat tuh mukany Si Le ampe merah padam gitu

Setelah sampai di Surga, maksud saya bagian teratas Candi Borobudur, saya dan teman-teman asik foto sana-sini. Si Le Saeng Jo dari Korsel dikerubungi anak-anak SMP diajakin foto bareng, iya sih emang tampangnya kaya artis korea. Susah banget ngajak turun temen-temen yang lagi asik foto-foto, sampe ditelpon mabk Lia berkali-kali disuruh turun.




Nih, Borobudur, ini candi punya kita lhoh, temen-temen EP aja pada ngiri

Sepanjang jalan turun dari Candi, saya sempet nanya-nanya ke temen-temen EP, tentang Indonesia di mata mereka. Salah satu peserta dari China (saya lupa namanya) bilang kalau Indonesia itu keren, beda banget kaya China yang dima-mana serba sama isinya Cuma bangunan-bangunan tinggi aja. Si Zomor dari Mesir bilang Indonesia itu luar biasa, tapi masih kalah panas dari Mesir katanya.

Yuk lanjut, sekarang saatnya cus ke Anshor’s Gallery, tempat pembuatan dan penjualan kerajinan dari bahan perak. Disini kami bisa lihat proses pembuatan aksesoris berbahan perak, bisa juga beli perhiasan dari perak yang harganya fantastis.





Ini kita lagi di Anshor's Galery, si Zomor mau ngeborong tuh

Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta, kami mampir sebentar ke Batik Beteng. Sebenernya rombongan kami pengen ke Keraton Kasultanan Jogjakarta, tapi sayangnya uda keburu tutup. Akhirnya diputuskan untuk mengunjungi Tamansari, yang ternyata uda tutup juga, tapi kalau di Tamansari meskipun sudah tutup, kami tetap bisa menikmati suasana perkampungan yang nyaman disini. Kim sempet sakit perut, tapi ga mau dikasih obat. Ini nih beberapa ulah temen-temen di Tamansari : )





Ini kita di Tamansari, Si Le penasaran banget sama proses ukir wayang

Setelah selesai menikmati nyamannya perkampungan di daerah Tamansari, kami melanjutkan perjalanan ke Malioboro. Nah, di Malioboro temen-temen dari EP kami biarkan menikmati Malioboro tanpa dampingan dari saya dan Mbak Lia, kami meminta mereka berkumpul kembali di bus pukul 18.00 WIB. Si Le sempet nyasar, tapi akhirnya dia pasrah nyasar kemudian menikmati kenyasarannya hehe. Saya menyempatkan menikmati senja di Malioboro sendirian, membelikan gantungan kunci pesenan Mas saya. Ini nih hasil jepretan saya di Nol Kilometer Jogjakarta.







Perjalanan yang menyenangkan, tapi sayangnya keesokan harinya saya sakit, jadi ga bisa nemenin temen-temen EP berwisata ke Candi Gedongsongo.

Liburan Akhir Semester 7 (Part 2) : Saung Udjo, Budaya Nusantara yang Mendunia.

Episode kali ini, ciyeeh episode, berasa lagi nonton tukang haji naik bubur *lhoh eh, yap di episode liburan kali ini saya masih di kerumuni gratisan dimana-mana, masih termasuk didalam rangkaian tour Jakarta-Bandung.
Saung Udjo. Pertama kali mendengar nama tempat ini, saya pikir semacam rumah makan, haha emang dasarnya saya hobi makan yang ada di pikiran makanan mulu. Saya baru paham setelah mbak Lia menjelaskan kepada peserta bahwa Saung Udjo merupakan sebuah sanggar budaya yang menjadikan budaya Sunda khususnya Angklung sebagai daya tarik utama. Didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati, dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda. Mendengar penjelasan mbak Lia, saya jadi ga sabar untuk segera sampai di Saung Angklung Udjo dan melihat pertunjukkan alat music khas sunda ini. Akhirnya kami sampai di Saung Angklung Udjo, setelah menempuh perjalanan selama 45menit dari hotel tempat kami menginap. Meskipun terletak di sebuah gang sempit yaitu di jalan Padasuka 118, Bandung Timur, Saung Angklung Udjo ini tetap ramai pengunjung.

Begitu sampai di Saung Angklung Udjo, kami disambut dengan lingkungan asri yang disekitarnya ditumbuhi bambu-bambu hias. Suasana di Saung Udjo ini benar-benar membuat saya merasa adem, sejuk sekali rasanya dikelilingi pohon bambu dan beberapa pohon rimbun lainnya. Sambil menanti pertunjukkan yang akan dimulai pukul 10.00 WIB pengunjung dibagikan es lilin aneka rasa, dan lagi- lagi gratis hehe. Pengunjung juga dapat membeli oleh-oleh di Saung Udjo ini, untuk harga memang dibandrol agak tinggi, namun jangan khawatir dengan kualitasnya, pasti oke pokoknya. Nah, asiknya lagi disini kita juga dapat mencoba memainkan angklung yang ada di Galery Saung Udjo sambil menanti pertunjukkan dimulai.


Hmm nampak depan aja uda asik gini suasananya


Nih Es lilin nya seger banget

Pukul 10.00 WIB pertunjukkan angklung pun dimulai, dibuka dengan pertunjukkan wayang golek selama 15 menit. Meskipun singkat namun tetap memukau. Ditengah pertujukkan, layar yang menutupi kaki sang dalang dibuka, jadi kami dapat melihat bagaimana sang dalang dengan cekatan memainkan tangan dan kakinya secara bersamaan untuk menggerakan boneka kayu dan memberikan efek music pada setiap adegannya.


Ini nih Si Cepot lagi beraksi

Setelah memukau penonton dengan pertunjukkan wayang golek dengan bahasa sunda yang kental, kini penonton dimanjakan dengan alunan beberapa lagu daerah Sunda. Tidak cukup sampai disitu saja keseruan yang disajikan, penonton dibuat terpukau ketika anak-anak kecil berusia 2 hingga 8 tahun muncul dari belakang panggung dan kemudian menari di tengah panggung diikuti beberapa remaja memainkan angklung, beberapa diantaranya tampak menandu anak kecil yang mengenakan pakain khas sunda dan memakai sarung. Pertunjukkan tersebut merupakan gambaran upacara selamatan bagi anak kecil yang baru saja disunat.
Belum hilang rasa gemas para penonton terhadap anak-anak kecil yang menari diatas panggung. Kini penonton disuguhi sajian lagu-lagu daerah dari seluruh nusantara yang dimainkan oleh seluruh siswa di Saung Udjo, kolaborasi antara siswa Junior dan Senior. Penonton ikut bernyanyi bersama alunan merdu dari Angklung yang dimainkan tanpa teks tersebut.


Gemes deh



Selesai dengan lagu daerah Nusantara, kini penonton dihajar dengan alunan lagu bernada diatonis, beberapa lagu pop dan dangdut di sajikan, sang MC pun ikut menyanyi bersama penonton. Puas bernyanyi, kini saatnya penonton mencoba belajar memainkan Angklung. Putra-putri Sunda mulai membagikan Angklung kepada peserta.
Pelajaran pertama, penonton diajarkan bagaimana cara memegang Angklung dengan benar. Dilanjutkan dengan cara membunyikan Angklung. Tidak kalah menarik lagi ketika penonton diajak untuk memainkan lagu sederhana, setiap Angklung yang dipegang oleh penonton ternyata memiliki nomor, nomor pada angklung menunjukkan nada yang dimiliki oleh Angklung tersebut. Teh Katty yang merupakan MC pada pertunjukkan kali ini, memberikan kode dengan tangan untuk memainkan lagu Ibu kita Kartini. Teh Katty yang sudah belajar Angklung selama 17 tahun ini, terlihat sangat fasih memberikan kode bagi penonton saat memainkan lagu I Have a Dream dan Ada Apa Denganmu.


Teh Katty, MC kita yang cantik

Pertunjukkan pagi itu ditutup dengan menyanyikan lagu dangdut yang membuat seluruh penonton turun memadati panggung untuk bergoyang dan bernyanyi bersama. Sungguh sebuah pertujukkan yang sangat hebat, keren, WOW banget, kebangetan bagusnya.
Salah satu hal yang membuat saya salut,pertunjukkan di Angklung Udjo ini sudah di desain sedemikian rupa sehingga tidak terkesan jadul, sisi modern tetap diangkat dengan mendaulat MC yang memiliki public speaking yang keren dan kemampuan berbahasa inggris yang ga perlu diragukan lagi, kesan tradisional diangkat lewat wardrobe yang dikenakan oleh MC dan penampil lainnya. ga heran kalo Saung Udjo ini uda meraih prestasi tingkat Internasional.


Tuh kan, tumplek bleg dipanggung

Hal lain yang membuat saya menjadi lebih kagum lagi adalah, siswa di sanggar ini terdiri dari berbagai tingkatan usia, dari yang paling muda berumur 2 tahun hingga yang sudah dewasa seperti Teh Katty yang menjadi MC pada pertunjukkan kali. Ini baru saya sebut sebagai pelestarian budaya, apalagi siswa di sanggar ini rela untuk sekolah sore demi belajar budaya khas sunda ini di pagi harinya. Tampaknya Indonesia butuh lebih banyak generasi seperti mereka untuk mengangkat budaya Negeri ini.

Liburan Akhir Semester 7 (Part 1) : The Fabulous Trip

Well, tidak terasa liburan akhir semester ini berakhir juga, duh masih pengen liburan nih sebenernya *sambil nguselusel bantal. Awalnya sempat bingung, gimana caranya menghabiskan waktu liburan yang panjangnya minta ampun ini, biar ga berlalu begitu aja kaya tukang bakso yang lewat depan kosan pas saya ga punya duit. Yakali dua bulan dihabisin buat ngedate bareng proposal skripsi aja? Kan ga banget, bisa-bisa mabok huruf, terus kantong mata berasa diisi beras setengah kilo.

Pucuk dicinta, ulat pun tiba, eh salah ulam pun tiba maksudnya. Ditengah kepenatan saya mengutak-atik proposal skripsi, yang setiap kali saya utak-atik nanti pasti dicorat-coret asik oleh ibu dosen, datanglah sebuah tawaran yang sungguh membuat saya yakin untuk bilang, YES I DO. Bukan ko, bukan diajakin nikah hehe. Tawaran menarik yang saya maksud adalah, tawaran untuk ikut tour Jakarta-Bandung sebagai travel nurse yang berlangsung dari tanggal 20 – 24 januari lalu.

Ini adalah job pertama yang saya terima selama lebih kurang 2 bulan menjadi freelancer di Diponegoro Travel Nurse (DTN). Kenapa saya bilang tawaran ini sangat menarik? Jawabannya simple karena saya bisa JALAN-JALAN sambil BELAJAR dan GRATIS pula, jujur saja ini saya banget heuheuheu. Nah, dalam tour ini saya bertanggung jawab terhadap kesehatan peserta tour, Tour Leader (TL), Driver, Co Driver dan tentunya diri saya sendiri selama tour berlangsung. Peran saya disini lebih mengarah pada promotif dan preventif, jadi bagaimana saya bisa membantu seluruh penghuni bus untuk tetap dalam kondisi yang sehat dan nyaman selama menempuh perjalanan jauh. Dua hari sebelum berangkat saya dan 4 orang travel nurse lainnya melakukan general assessment pada calon peserta tour kita.


Travel Nurses

Tour kali ini, saya bersama 3 orang kru lainnya yaitu mbak Lia(TL) dari Khatulistiwa Tour&Travel, Pak Budi (Driver) dan Pak Waluyo (Co Driver), menempuh perjalanan Jakarta- Bandung bersama Po. Barito dari Wonosobo. Kami berangkat dari Semarang pukul 14.00 WIB bersama 4 bus lainnya.


Si Hijau Barito

Keseruan dan tantangan dimulai ketika bus mulai melaju meninggalkan kota Semarang. Setelah mbak Lia memperkenalkan diri dan menjelaskan beberapa hal kepada peserta tour, sekarang giliran saya yang bekerja. Diawal perjalan, saya membagikan beberapa tips sehat selama perjalanan kepada peserta tour. Sempet grogi banget di awal perjalanan dan saya harus berdiri didepan para peserta tour saat bus mulai berlari di jalan tol, apalagi saya punya masalah besar ketika speech, suara saya getar. Huuft akhirnya tugas pertama mulus, meski kata mbak Lia tips yang saya sampaikan terlalu panjang, tapi untungnya pesertanya merhatiin. Hehehe satu keuntungan yang saya dapatkan, saya dapet lahan untuk berlatih public speaking, GRATIS, dengan mbak Lia sebagai komentatornya :p

Well, setelah menempuh perjalanan lebih dari 12 jam lamanya, akhirnya kami sampai di Jakarta. Rombongan kami transit sementara di Asrama Haji Pondok Gedhe untuk selanjutnya bertolak ke Jakarta Selatan. Nah disini nih saya dapet tantangan pertama, pagi-pagi buta sebelum sarapan para peserta tour uda pada beli jamu gendong di depan asrama haji. Mulai bingung saya, mau diingetin saya ga enak sama ibu yang jualan jamu gendong, mau dibiarin saya takut perutnya anak-anak bermasalah. Oke, akhirnya saya putuskan untuk berdoa agar yang beli jamu ga makin banyak hehe. Baru setelah kami bertolak ke Jakarta untuk menuju ke Kantor Asuransi Wahana Tata untuk melakukan kunjungan yang pertama, saya mencoba masuk untuk ‘memperingatkan’ peserta tour yang tadi pagi minum jamu untuk lebih berhati-hati dengan kondisi pencernaan mereka. Beberapa peserta juga mulai mengeluh kembung, nyeri leher dan mual.

Perjalanan menuju Jakarta Selatan cukup melelahkan, macet dimana-mana, kebetulan Kantor Asuransi Wahana Tata terletak di pusat perkantoran bersama dengan kantor Kemenkes,Kemenhumkam, KPK dan instansi pemerintahan lainnya. Jujur saya pusing menikmati kemacetan Jakarta yang dibubuhi manusia yang betebaran dimana-mana, crowded nya kebangetan.


Nih Kebangetan Padetnya

Kunjungan pertama selesai, disini saya belajar bagaimana sebuah perusahaan asuransi berproses, bagaimana sebuah perusahaan dan Negara tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya perusahaan asuransi juga saya dapatkan dari kunjungan kali ini. Asik kan? GRATIS pula hehe. Kunjungan selanjutnya adalah Jakarta City Galery yang terletak di kawasan Monas. Kali ini saya ga ikut masuk, nemenin pak waluyo sama pak budi di bus, ngobrol-ngobrol seru.

Saatnya bertolak ke Bandung, untuk melajutkan tour kita ke Saung Udjo Bandung, Gedung Sate, Cihampelas, Trans Studio Mall, dan Cibaduyut. Makan malam kali ini kita makan di salah satu rumah makan yang terletak di kawasan Cileunyi. Satu lagi yang membuat saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya ini, karena saya dianggap sebagai kru, jadi saya makan di ruang kru, disini kita bisa makan sebanyak mungkin, GRATIS hehehe.
Pukul 21.30 kami sampai di hotel, kami belum bisa langsung tidur sebelum mengecek kondisi peserta tour lewat pesawat telepon. Baru setelah semua kamar kita telepon kami baru bisa tidur, tapi saya ketiduran duluan hehe.

Selamat pagi Bandung, yuk sarapan dulu. Restoran di hotel yang kami tempati lumayan cozy, kami sarapan di pinggir kolam renang. Setelah sarapan, kami menuju ke Saung Angklung Udjo untuk menikmati pertunjukkan Angklung dan belajar bermain Angklung, dan lagi lagi GRATIS untuk saya dan kru lainnya. Keseruan selama di Saung Angklung Udjo bakalan saya bagi di postingan saya selanjutnya.


Sarapan pun Masih tetep Ngutek-utek Obat

Perjalanan di bandung masih panjang, tujuan kita selanjutnya ke Gedung Sate dan ke Cihampelastapi sayangnya pas kami sampai di Cihampelas hujan deras mengguyur Bandung dan ada peserta di bus saya yang sakit, tapi kami masih sempet ko muter-muter cihampelas tapi ga sempet masuk ke Ciwalk. Pukul 20.00 WIB kami menuju ke Hotel untuk makan malam dan istirahat, sebelum sampai di hotel saya menyarankan kepada peserta tour yang tadi kehujanan untuk segara keramas sesampai di hotel biar ga pusing. Makan malam saya kali ini harus tertunda karena ada peserta yang sakit. Pukul 00.00 saya baru bisa merebahkan badan.


Di Gedung Sate, Duh Udah Berantakan

Pagi kedua sekaligus pagi terakhir di kota Bandung. Hari ini kita akan menikmati wahana di Trans Studio Bandung, sayangnya disini saya ga dapet gratisan, tapi gapapa toh kalo saya masuk saya juga ga akan berani naik apapun hehe. Sebelum peserta masuk ke arena Trans Studio saya kembali memberikan tips sehat agar peserta tidak muntah selama bermain wahana ekstrim.


Ga Jadi Masuk Gapapa yang Penting Pernah Foto Disini

Yuk merapat ke cibaduyut, ini tempat perbelanjaan terakhir yang kita kunjungi di Bandung. Ada peserta yang sakit di bus saya, jadi saya harus merawat mereka dulu, setelah mereka merasa lebih baik saya menyempatkan membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

Cibaduyut selesai, saatnya menuju Semarang, nah ini nih Gongnya di akhir perjalanan ada kasus luar biasa yang mengharuskan saya pindah ke bus Siti, ada peserta yang sakit. Tak disangka-sangka peserta ini digangguin jin. Yah mungkin lain kali ga Cuma travel Nurse yang dibutuhkan tapi juga Travel Paranormal hehe.

Seru sekali perjalanan kali ini, kalau di klinik atau rumah sakit saya menangani pasien yang sakit dan tentunya dengan alat dan obat-obatan yang lengkap, nah kalau di perjalanan kali ini saya menjaga peserta yang sehat selama di perjalanan. Kasus yang ditemui pun lebih tak terduga. Overall saya suka perjalanan kali ini, saya bisa memuaskan hobi saya jalan-jalan, belajar menjadi perawat dengan lahan yang sangat menantang, dan juga menambah pengalaman baru untuk saya. It was a Fabulous Trip, Love it.

Friday, August 31, 2012

Pantai Indrayanti

Masih belum bosan jalan-jalan nih hehehe..

26 Agustus 2012.Perjalanan kali ini sebenernya ga direncanakan sih. Bermula dari update status nya mas ku di Facebook yang bilang katanya mau ke Wonosari, Gunung Kidul, Jogjakarta buat hunting pantai yang seru, jadilah acara jalan-jalan ini terlaksana secara tidak sengaja. Sebenernya mas ku udah berangkat duluan bareng Riski. Tiba-tiba handphoneku berdering, ternyata mbak Wiwid yang nelpon ngajak nyusulin. Okedeh akhirnya aku telpon mas ku, sempet kepikiran ‘kayanya ga jadi nih nyusul’ soalnya telponku tak kunjung diangkat. Setelah hampir 4 kali aku telpon dia, akhirnya diangkat juga, ternyata dia udah sampai di Semin. Langsung aku kabarin mbak Wiwid, tak lama kemudian mbak Wiwid datang jemput aku, dan mariii kita jalan-jalan.. :D

Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam dari rumah yang terletak di kecamatan Cawas, akhirnya sampai juga di Wonosari.
Nah, buat yang hobi travelling kaya aku, ga ada ruginya lhoh berkunjung ke Wonosari, banyak pantai yang indah membentang dari barat sampai ke timur, siap memanjakan indra penglihatan nih. Kita bisa milih pantai mana yang bakal kita kunjungi, mulai dari pantai Parangtritis, Baron, Kukup, Krakal, Sundak, Siung, Wedi Ombo, Ndrini dan masih banyak lagi lengkap dengan ciri kas pantai selatan pulau Jawa yang memiliki ombak menggulung dan tebing karang tinggi. Kawasan Wonosari terletak 1,5 jam perjalanan dari kota Yogyakarta, selain menawarkan pemandangan yang siap memanjakan indra penglihatan, liburan didaerah Wonosari ini murah ko, setiap orang dibandrol 5 ribu sebagai biaya retribusi masuk pantai, murah bukan?

Kali ini pilihan jatuh pada pantai Indrayanti sesuai pilihan mbak Wiwid. Begitu sampai di pantai kami langsung di sambut oleh pasir putih kecoklatan yang terhampar, gulungan ombak, serta sinar matahari yang membuat air laut tampak berkilauan. Sayang, pantai sedang ramai, jadi kurang bisa menikmati suasana pantai. Masku sama Riski langsung berganti kostum dan siap berenang dalam gulungan ombak pantai, sedangkan aku dan mbak Wiwid memilih unuk mendekat ke tebing karang dan langsung take some pictures. Masku asik berenang *mentang-mentang bisa berenang*, sementara aku dan Mbak Wiwid sibuk ngobrol kesana-kemari, sebenernya aku uda gatel pengen nyemplung ke air tapi sayang ombaknya terlalu besar dan kabar buruknya aku belum bisa renang begitu juga dengan mbak Wiwid. Hahaha karena kurang ati-ati, hampir aja kebawa ombak gara-gara berusaha ngambil jaket dan tasku yang keseret ombak, alhasil basah semua deh, padahal ga bawa baju ganti gara-gara jalan-jalannya dadakan.


cuma ada satu foto ini sayangnya..


kalo yang ini pantai siung, bagus kan?

Buat kamu yang kurang jago berenang atau belum bisa renang kaya aku, disarankan untuk sangat berhati-berhati kalau main dipantai selatan Pulau Jawa karena ombaknya beda jauh dengan Pantai Utara. Pokoknya harus siap-siap pengangan dan berdiri dengan mantap, hindari batu karang yang licin ya. Oiya, buat kamu yang pengen punya kulit coklat silakan berjemur atau mengubur diri dengan pasir pantai seperti yang dilakukan masku dan Riski.

Sayang sekali jalan-jalannya harus udahan dulu, udah setengah 5, lagipula kami berangkat terlalu siang. Setelah bersih-bersih dan sholat ashar kami meluncur pulang dan kembali melewati jalan berkelok yang membelah dataran tinggi Gunung Kidul. Brrrr, Extremely cold cuy apalagi ditambah baju basah dan jaket basah, menghasilkan demam seharian deh.

Satu hal yang selalu disayangkan dibalik indahnya panorama yang ada adalah sampah, ga di pasirnya ga di air laut tetep aja betebaran sampah. Sayang, ga banyak cerita yang bisa dibagi untuk perjalanan kali ini, karena memang kurang eksplor sih, tapi semoga bermanfaat buat yang butuh referensi jalan-jalan. Selamat berwisata dan ingat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan ya, toh kalau tempat wisatanya bersih siapa juga yang seneng? Kita juga kan ?

Sunday, July 22, 2012

Jepara: Bumi Kartini

Yeay! Jalan-jalan lagi nih ..

Kali ini, jepara menjadi pilihanku untuk berlibur. Aku dan teman-teman (Desti, Farida, dan Iddo) memilih untuk berlibur ala ransel, bener-bener ala ransel banget deh pokoknya. Bermodal fisik sehat, motor, keinginan yang kuat dan uang secukupnya, kami berangkat menuju kota Jepara –Bumi Kartini yang terletak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Semarang.
Kami berangkat pukul 07.00 pagi setelah sarapan di sebuah warung soto di Tembalang. Bermodal keinginan yang kuat kami berangkat menuju Jepara meskipun kami ga tau persis jalan menuju Kota Ukir tersebut. Sebenernya Zuni –yang rumahnya bakal jadi tempat kami transit, nawarin buat berangkat bareng dari Semarang, tapi karena saking bandelnya, kami memutuskan untuk berangkat duluan.

Setelah satu jam perjalanan kami berhasil memasuki kota Demak tanpa nyasar# yaiyalah Demak kan Cuma situ doang. Kami mulai bingung saat di perbatasan Demak- Jepara, okedeh daripada bingung akhirnya Zuni memberi kami instruksi untuk mncari patung Durian di pasar Tahunan Jepara # namanya emang pasar Tahunan tapi bukan berarti bukanya Cuma setahun sekali lhoh. Well, akhirnya dimulailah pencarian patung durian. Setelah beberapa kali bertanya pada warga sekitar akhirnya kami menemukan si Patung Durian –yang memang benar-benar mirip dengan durian asli. Sekitar 10 menit kami menunggu di Patung Durian, akhirnya Zuni datang juga. Yuk mari, lanjutkan perjalanan.. :D


Ini nih Si Patung Durian

Yuhhuuu, bersama Zuni kami menempuh perjalanan selama 20 menit, harus menyesuaikan dengan gaya bermotornya Zuni yang uda ala pembalap gitu deh. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan dari Semarang, akhirnya kami sampai juga di rumah Zuni yang terletak di Kawasan Wisata Pantai Bandengan.
Disambut deretan mebel di depan rumah Zuni. Salim dulu yuuk sama ibunya Zuni—yang lebih pantes jadi mbak nya Zuni,hhehe. Rencananya setelah beristirahat sejenak kami bakal langsung cus ke pantai, namun tak disangka-sangka, ibu nya Zuni lagi masak buat kita. Okedeh akhirnya kami menunda keberangkatan menuju pantai, ga baik nolak rezeki, apalagi ikan bakar dan sambel kecap ala Ibu nya Zuni emang bener-bener nyus banget # huuuu… bilang aja laper..


Ini nih ikan bakar nya, keliatan enak kan?

Udah kenyang nih, makasih ya Tante buat ikan bakar dan sambel kecapnya hehehe. Sekarang saatnya berangkat ke pantai. Udah siap nih kitaa, tapi kata Zuni suruh nunggu sebentar, okedeeeh kita tunggu # meskipun kita ga tau apa yang sebenernya ditunggu. Wuihh tak disangka-sangka yang ditunggu adalah bapaknya Zuni, dengan gaya ala polisi banget, bapaknya Zuni keluar dengan motor cowok. Zuni memberi kami instruksi buat ngintil bapaknya dari belakang. Dimulailah konvoi menuju pantai bersama bapaknya Zuni.
Di pintu masuk pantai: klakson berbunyi dua kali dari motor bapaknya Zuni, semacam kode gitu, lalu terjadi percakapan, kurang lebihnya seperti ini
Petugas pintu masuk (PPM) : ‘siapa pak?’
Bapaknya Zuni (BZ) : ‘Kelurga’
PPM : ‘Berapa motor?’
BZ : ‘tiga motor’
PPM : ‘Oke masuk’
Ahahay, langsung deh dengan wajah sumringah kami masuk ke Pantai, thx a lot ya Oom :D Kaya nya asik nih kalo ada Kartu Tanda Teman Bapak Zuni, hheehe pisss Zun v^^

Di Pantai
Sebenernya, kami di kasih naik banana boat gratis, tapi karena untuk naik banana boat kami tidak diijinkan memakai peniti dan teman-temannya, kami memutuskan untuk ga naik banana boat aja, soalnya yang cewek semuanya jilbaber dan ga pake jilbab bergo, tapi pake yang segi empat. Okedeh gapapa.

Desti dan aku langsung menuju pantai, maen air. Si Farida ga mau nyemplung, Zuni katanya uda bosen ama pantai, Iddo mulai autis dengan kamera pocket yang dia pegang. Setelah asik dengan kegiatan sendiri-sendiri, akhirnya kami memutuskan untuk menuju Pulau Panjang, menggunakan perahu. Buat kamu yang pengen ke Pulau Panjang jangan sampai kena tipu, harga standar perahu ke Pulau Panjang Cuma 10 ribu/ orang pulang pergi.

Di Pulau Panjang


Selamat Datang di Pulau Panjang

Pulau Panjang terletak sekitar sepuluh menit perjalanan dari pantai Bandengan menggunakan perahu motor, perahu motor lho ya bukan gethek. Kalo kamu niat muterin tepi pulau Pajang dari satu titik nanti pasti kamu bakal kembali ketitik tersebut, kecil kok pulau nya. Cuma dikasih waktu satu jam nih di Pulau Panjang. Begitu sampai di dermaga kami langsung berlarian mencari posisi yang pas buat foto hehehe. Setelah puas foto-foto di dermaga, Langsung deh kita cus muterin nih Pulau sambil hunting view yang bagus buat take pictures. Wah ternyata uda adzan

Dzuhur, mari sholat. Setelah sholat kami melanjutkan perjalanan. Asik akhirnya nemu tempat bagus buat foto-foto sambil menikmati tenangnya ombak di Pantai Laut Selatan. Yuk foto-foto.. \


Ini nih pose-pose kita hehehehe

Pulau Panjang belum selese kami puterin, tapi sayang waktu kami udah abis. Pas perjalanan balik menuju dermaga, kami menemukan satu sisi pulau panjang yang buagus banget dan bikin kami teriak.’W.O.W. what a very beautiful Landscape…!!!!’ # hahaha lebay, tapi serius bagus banget. Kata Desti ‘ buagus banget ndon kaya wallpaper di Internet’



Bagus banget kan ?

Tapi ditengah indahnya pulau panjang masih ada aja sampah yang dibuang ke laut, padahal uda banyak papan-papan peringatan yang dipasang. tapi senegnya di Pulau Panjang uda ada penanaman mangroove nya lhoh

Oke mari kita menepi ke pantai Bandengan lagi. Bingung nih udah lebih rame pantainya dibanding waktu kita baru nyampe tadi. Banyak anak-anak pramuka pada maen air. Akhirnya Iddo mengusulkan untuk menyewa pelampung. Buat kamu yang mau nyewa pelampung, harga normalnya 10 Ribu per pelampungnya. Karena kita liburan ala ransel jadi kita nyewa satu pelampung buat berlima, tapi justru seru banget malahan, Farida yang awalnya bener-bener kagak mau nyemplung, akhirnya basah kuyup pas maen pelampung.



Ini nih kecerian kita waktu maen air

Udah sore nih balik yuuk… kami memutuskan untuk kembali ke rumah Zuni untuk mandi, sholat, pamitan sama ibu dan bapaknya Zuni dan bersiap pulang. Sebelum pulang kami diajak Zuni ke GBK, hayo tebak GBK itu apa??? Awalnya aku piier Gelora Bung Karno, tapi bukaaannnn, beda tipis sih GBK yang di Jepara itu adalah Gelora Bumi Kartini, stadion tempat latihannya PERSIJAP. Arsitektur GBK terbilang unik, dengan atap tribun utama berbentuk kapal.



Duh, masih belum puas nih mengeksplor Jepara, tapi mau ga mau kami harus segera kembali ke Semarang, kembali ke rutinitas yang telah menunggu kami. Sebelum pulang kami mengisi perut dulu di warung mie ayam. Oke, sudah kenyang.. mari pulang. Zuni mengatarkan kami sampai Patung Durian, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Semarang. Terimakasih Zuni untuk semuanya…. :D

Di perjalanan pulang, entah ngantuk ato memang kondisi jalan yang licin atau ada faktor x, Iddo mengalami kecelakaan di Demak, eh tanpa disangka aku dan Desti nyusul iddo, kami ikutan jatuh, dan tak disangka pula dua motor di belakang kita ikutan jatoh. Tapi Alhamdulillah Allah masih melindungi kami, ga ada yang lecet meskipun kami meluncur di aspal, bersyukur banget sama Allah. Pas uda sampae Semarang kami berpencar, eh aku dan Desti pake acara nyasar pula, dengan muka cemong karena habis nyium aspal kami melaju pelan dengan motor Mio milik Desti, kami melewati kawasan Citarum dan jalan Soekarno Hatta yang benar-benar kami ga hapal arah jalannya. Tapi Alhamdulillah semuanya jadi jelas ketika kita sampai di jalan Majapahit.

Wuiiih, pengalaman luar biasaa, memperkuat ukhuwah sambil menikmati alam yang indah, semakin tersepona dengan ciptaan Allah..


Yuk mariii, planning rihlah selanjutnya adalah Puncak Gunung Bromo, Bismillah semoga terwujud. Amiiiin.

Wednesday, May 2, 2012

The Spirit of Java

Yeay!! Akhirnya bisa jalan-jalan lagi. Kali ini giliran kota Solo yang aku kunjungi. Disela kesibukan menjalani praktek klinik, aku, Mitsa, Ratih, Ika dan Tika menyempatkan diri untuk menikmati kota Solo The Spirit of Java dengan Ika yang asli Solo sebagai Tour Guide.

Ika semangat banget kami (aku, Ratih, Tika, dan Mitsa) baru pulang jaga pagi, si Ika udah nongol aja di kosan kami. Alhasil kita ga sempet mandi deh gara-gara si Ika heboh, takutnya PGS yang bakal jadi tujuan utama kami, keburu tutup.

Pukul 15.00 kami berangkat menuju Pusat Grosir Solo (PGS) yang terletak di Jalan Mayor Sunaryo No.1 . Biasa ‘jeng-jeng’ pada belanja, rumpi banget kalo uda liat baju, tas atau sepatu yang agak cemerlang dikit*aku sih enggak yaa.. hehehe. Tujuan pertama kami adalah nyari kios yang ngejual baju ‘Solo’ si Tika pengen ngebeliin oleh-oleh buat adiknya yang ada di Jambi. Sambil nungguin Tika milih-milih baju aku, Mitsa, dan Ratih memutuskan untuk muter-muter dulu*sebenernya sedikit takut kita bakal ilang hehhe..

Acara belanja terus berlanjut, setelah PGS, kami memutuskan untuk window shopping di Beteng Trade Center yang berlokasi disebelah PGS. Buat kamu yang pengen beli sprei ato bahan untuk kebaya di Beteng inilah tempat yang tepat. Tak ketinggalan tas dan Sepatu dengan harga miring siap menggoyahkan usahamu untuk mempertahankan isi dompetmu. Setelah puas muter-muter di Beteng kita memutuskan untuk balik lagi ke PGS, asli kakiku gempor banget.

Acara berbelanja pun usai. Tujuan selanjutnya adalah Keraton Kasunanan Surakarta. Sayang banget waktu kami sampai di keraton, ternyata sudah tutup. So kami hanya bisa mengambil gambar-gambar keraton yang menyajikan eksotisme tersendiri di waktu senja.



Menikmati senja di Alun-alun Kidul adalah tujuan kami selanjutnya. Menikmati suasana di alun-alun kidul sambil menikmati bakso bakar, itu rasanya…. Sesuatu*lhoh?!!. Asli bakso bakarnya pedes banget, alhasil aku yang uda semangat pesen 4 tusuk cuma berhasil ngehabisin 3 tusuk doang, okedeh yang satu tusuk buat oleh-oleh yang ada di kos hehhe.. oiya di alun-alun kidul juga ada becak hias lhoh, yang bisa kamu sewa Rp. 10.000 per becaknya, kami sebenernya pengen cobain tapi takut ga muat becaknya, kasihan kalo si Tika harus duduk di atep becaknya * hehehe piss Tika ^^v..



Sholat maghrib dulu nyok.. di Masjid Nurul Iman Kalitan, Masjid yang dihibahkan oleh keluarga Almarhum mantan presiden RI Soeharto, yang berlokasi di Rt 03 Kalitan.


Alhamdulillah udah sholat, sekarang saatnya mengisi perut. Nasi Liwet Kuliner khas Solo menjadi pilihan kami. Nasi liwet adalah sajian kuliner khas Solo berupa nasi putih yang dimasak dengan cara diliwet (dimasak satu kali menggunakan kendil) yang dilengkapi dengan sayur santan, ayam kampung dan areh ( saus gurih yang terbuat dari santan dan putih telur). Menurutku, Mitsa, Ratih dan Ika yang asli Jawa, rasa nasi liwet itu bener-bener nendang, gurihnya pas pokoke wuenak, tapi kalo Tika si Anak Jambi bilang rasanya aneh, hehehe. Dan yang pasti rasa nasi Liwet kali ini bener-bener tambah nyus, soalnya gratis hehehe.




Yeay!!! Jalan-jalan hari ini cukup menyenangakan dan bisa menghilangkan kepenatan kami.


Oiya.. Satnight kemarin aku, Winda, Ika dan Mas Bayu juga jalan-jalan menikmati malam di Kota Solo Hadiningrat. Kami mengunjungi Night Market di Ngarsopuro, si Winda ngeborong tuh. Menikmati wedang Ronde di depan alun-alun Utara, dan Kemudian makan malam di Warung Seafood sekitaran Stadion Manahan.

Ternyata Solo menyenangkan, selanjutnya harus lebih lama lagi nih jalan-jalan menikmati Solo. Buat kamu yang belum pernah ke Solo, sinisini ke Solo menikmati Eksotisme budaya yang berpadu dengan kehidupan modern.