Saat ini aku sedang duduk di satu sudut kotaku. Aku memandangi kerlip lampu kota yang berkas-berkas cahayanya diterabas secara lancang oleh bulir hujan kecil-kecil yang turun sejak pukul 5 sore tadi, romantis sekali. Keadaanku saat ini sedang sangat baik, beberapa kabar gembira menghampiriku beberapa waktu terakhir ini. Keberadaanku di salah satu sudut kota ini pun merupakan satu bentuk penghargaanku pada diriku sendiri atas beberapa kabar baik yang menghujamku.
Satu hal yang terlintas di pikiranku malam ini adalah pada akhirnya aku mampu berdamai dengan sudut kota ini. Ya, aku bisa kembali menikmati sudut kota ini dengan perasaan bahagiaku meski tanpamu dan tanpa orang lain disisiku. Pada akhirnya, dalam sendiriku, akupun bisa bahagia.
Tidak mudah untukku dapat berbahagia kembali seperti ini, aku harus berjuang menganggap aku dan kamu adalah sebuah kenangan yang biasa saja bagiku. Oh iya, satu hal yang ingin aku sampaikan padamu, aku tidak pernah berusaha melupakan setiap detik waktu yang pernah kita lalui, karena itu mustahil apalagi untuk seseorang seperti aku –yang kamu bilang memiliki Photograpic Memory. Ya, yang aku bisa hanya mencoba mengganggap kenangan kita sebagai satu hal yang biasa saja.
Selama berbulan-bulan aku berusaha mendoktrin hatiku, mencamkan bahwa pada kenyataannya apa yang kita lalui tidak pernah bisa disebut sebagai cinta. Lebih tepatnya begini, hanya aku yang mencintaimu sedang kamu tidak. Aku berusaha menanamkan itu pada hatiku, sakit memang, tapi mau bagaimana lagi, aku ingin hatiku baik-baik saja kedepannya, jadi aku memutuskan untuk menyiramkan obat luka ke hatiku.
Aku mencoba berpikir menggunakan logikaku –yang aku harap masih bisa diandalkan- untuk menyembuhkan hatiku. Iya, kamu benar, aku bermain dengan logikaku agar hatiku beristirahat sejenak menyembuhkan lukanya.
Dengan logikaku aku mencoba menyimpulkan.
Selama aku berada di sampingmu, ternyata tanpa aku tahu kamu juga bisa bersama dengan perempuanmu yang telah lalu. Aku berkesimpulan bahwa berarti, tidak ada cinta yang mampu menghalangimu berbuat hal yang bisa menyakitkanku. Aku tidak menyalahkanmu, aku hanya lebih tertarik untuk menertawakan diriku sendiri, ternyata selama ini aku begitu polos.
Ini juga, bagaimana mungkin bisa aku menyebutnya cinta, jika saat aku bersamaku kamu terdiam tak menanggapiku, seakan-akan aku ini hanya benda kecil bernama radio yang bisa kamu nyalakan tanpa sedikitpun rasa bersalah saat kamu tak mendengarkan sama sekali. Aku lagi-lagi tidak menyalahkanmu, bisa jadi aku yang memang terlalu membosankan, atau mungkin memang hati dan pikirmu sedang tidak bersamaku.
Aku jatuh cinta sendirian, sedikit saja kamu tersenyum aku sudah terbang entah tembus langit keberapa. Sedangkan kamu, saat aku sudah menghabiskan separuh tenaga bahkan separuh hatiku kamu masih tetap saja terdiam seperti menganggapku tidak pernah ada, meski pada kenyataannya aku masih setia menemanimu duduk menikmati senja dan kerlip lampu di kota ini.
Ah, tapi itu dulu, tak adil jika aku terus mengungkit ini disaat aku sedang memberi penghargaan pada diriku sendiri. Lagipula, kamu disana pasti juga sudah lupa tentang aku. Bisa jadi, saat ini kamu sedang menikmati senja di kotamu bersama perempuanmu yang baru, menyeruput kopi dari cangkir kalian masing-masing dan sesekali saling memuji.
Sekarang kita sudah menempuh jalan masing-masing. Aku tidak tahu pasti bagaimana keadaanmu saat ini, dan akupun tidak berusaha mencari tahu, yang terpenting bagiku saat ini adalah aku bisa berbahagia kembali tanpamu. Aku bisa kembali merasakan romantisnya bulir hujan kecil-kecil yang menerabas berkas cahaya lampu kota, yang dulu sering aku nikmati bersamamu, dan mendadak aku benci saat kamu pergi.
bahagia bisa datang kapan saja dimana saja dan dengan siapa saja, kuncinya satu, nikmati saja momentnya, tidak peduli dimana, kapan dan dengan siapa asal kamu menikmati, pasti bahagia akan terasa disitu ..
Showing posts with label cookies. Show all posts
Showing posts with label cookies. Show all posts
Sunday, June 23, 2013
Thursday, January 31, 2013
Dear You
Dear you ..
kamu tau persis bahwa setiap kali aku bersandar di bahumu dan lalu aku terdiam begitu lama disitu, itu artinya aku sedang mendoakanmu, semua hal yang baik aku mintakan untukmu.
Aku paham betul sebagian besar mimpi-mimpimu, dan aku selalu menyebutnya satu-persatu di doaku untukmu. Aku memohon agar lelaki baik hati ini selalu dilimpahi kebahagiaan, terjaga selalu iman dan taqwanya, diberi kesehatan, diberi kemudahan dalam setiap langkah dan usahanyanya, dan lalu aku akan mengeja mimpimu satu persatu. Jadi aku harap kamu memaklumi jika aku sering berlama-lama di bahumu.
Ceritaku, senyumku dan peduliku, sepertinya kamu tidak pernah membutuhkan semua itu, jadi aku rasa hanya ini cara paling tepat dan paling sederhana untuk mencintaimu. Ya, setidaknya kamu tidak merasa terganggu dengan doa yang aku sampaikan kepadanya, daripada aku terus mengoceh memenuhi telingamu dengan cerita-ceritaku.
kamu tau persis bahwa setiap kali aku bersandar di bahumu dan lalu aku terdiam begitu lama disitu, itu artinya aku sedang mendoakanmu, semua hal yang baik aku mintakan untukmu.
Aku paham betul sebagian besar mimpi-mimpimu, dan aku selalu menyebutnya satu-persatu di doaku untukmu. Aku memohon agar lelaki baik hati ini selalu dilimpahi kebahagiaan, terjaga selalu iman dan taqwanya, diberi kesehatan, diberi kemudahan dalam setiap langkah dan usahanyanya, dan lalu aku akan mengeja mimpimu satu persatu. Jadi aku harap kamu memaklumi jika aku sering berlama-lama di bahumu.
Ceritaku, senyumku dan peduliku, sepertinya kamu tidak pernah membutuhkan semua itu, jadi aku rasa hanya ini cara paling tepat dan paling sederhana untuk mencintaimu. Ya, setidaknya kamu tidak merasa terganggu dengan doa yang aku sampaikan kepadanya, daripada aku terus mengoceh memenuhi telingamu dengan cerita-ceritaku.
Monday, December 24, 2012
Akan Terasa Lebih Menggembirakan Jika ..
Kalau aku bisa meminjamkan telingaku untukmu, pasti kamu akan mendengar suara-suara yang akan membuatmu tersenyum-senyum sendiri. Lewat telingaku aku biasa mendengar namamu. Kicau burung ditelingaku terdengar sebagai namamu yang di lafalkan berkali-kali. Suara detak jarum jam seperti sedang mengeja satu persatu huruf yang menyusun namamu. Desir angin, daun-daun yang saling bergesekan dan bunyi ranting yang patah seolah menyanyikan lagu yang sebagian besar liriknya tersusun dari namamu. Namamu menggema dimana-mana, tersenyum-senyum sendiri aku dibuatnya tapi tidak jarang telingaku terasa sakit juga, tapi tidak apa-apa aku menikmatinya. Aku menikmatinya, ya menikmati kejatuhanku, jatuh yang tidak membuatku menangis tapi justru membuatku berdansa riang bersama hembusan angin.
Saking jatuh cintanya aku padamu. Aku pernah bermimpi, suatu hari kamu akan berdiri di depan pintuku sambil melemparkan senyummu yang biasanya membuat jantungku memompa darah 3 kali lebih cepat, lalu aku, dengan riangnya menghambur di pelukanmu. Dan bahagianya aku, saat kamu benar-benar berdiri di depan pintuku sambil melempar senyummu meminta persetujuan orangtuaku untuk menculikku sebentar saja. Kalau saja kamu tahu, sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang aku izinkan atau bahkan aku memintanya datang kerumahku sendirian, seperti yang kamu lakukan waktu itu.
tidak jarang aku merasa lelah karena terlalu sering tertawa bersamamu. Mengitari kota untuk sekedar mengabadikan beberapa gambar juga tidak kalah melelahkannya.Terkadang aku juga hampir pingsan saat menemanimu berolahraga untuk mengecilkan perutmu yang sedikit buncit. Tapi aku suka semua itu, karena aku bersamamu, kalau aku lelah, lenganmu adalah tempat paling nyaman untuk bersandar, sambil memainkan jari-jarimu atau mengayun-ayunkan kakiku. Saking nyaman dan hangatnya, tidak jarang aku mengantuk. Tapi getaran pita suaramu menjalar hingga lenganmu yang nyaman, itu yang menjagaku untuk tidak tertidur saat bersandar di lenganmu.
Bersamamu selalu terasa nyaman dan menyenangkan. Saat hujan begini, biasanya kita berkirim pesan, bercerita lebih banyak, tertawa lebih banyak meski hanya melalui telepon seluler. Nanti setelah hujan reda, biasanya kita menghabiskan waktu di luar menikmati wedang ronde kesukaanku. Sempurna sekali, jalanan masih basah oleh hujan yang baru saja meninggalkan bumi, kadang rintik air dari daun yang terhembus angin pun masih menciptkan bunyi-bunyi yang romantis, dan semakin romantis lagi ketika ada pengamen yang membaca suasana kita, datang tanpa diundang lalu menyanyikan lagu cinta, berduet bersama malam yang baru saja disapa hujan. Tidak jarang aku ikut menyanyi, beberapa orang berkata suaraku bagus.
www.tomascastelazo.com
Kamu tahu persis selama aku berada di kota ini, aku selalu menikmati wedang ronde bersamamu. Belum pernah sekalipun orang lain menemaniku. Aku memiliki banyak sahabat dan teman wanita yang biasa menjadi teman untuk membunuh waktu. Tapi tidak pernah sekalipun aku menikmati wedang ronde ini bersama mereka, apalagi hujan begini.
Jatuh padamu itu indah, dan bertambah indah ketika kamu sedang bersamaku. membuatku bahagia saat kamu merelakan lubang telingamu terisi oleh gelombang suara yang aku hasilkan dari pita suara di tenggorokanku. Semakin indah ketika getaran pita suaramu menjalar melalui lenganmu dan merambat menuju kepalaku yang sedang bersandar di situ. Kamu tau? Bahwa getaran pita suaramu itu tidak hanya berhenti dikepalaku, tapi terus dan terus berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di hatiku, dengan sigap menuju ke sebuah ruangan yang di sana berisi kamu. Ya, semua hal tentang kamu.dan saat getaran itu sampai diruangan itu, suaramu itu secara otomatis akan terekam disitu.
Jatuh padamu itu indah, bisa bersamamu membuatnya menjadi semakin terasa menggembirakan, tapi alangkah lebih indahnya jika kamu memungut hatiku yang jatuh itu lalu menyimpannya, menjaganya agar tidak jatuh pada yang lain
Saking jatuh cintanya aku padamu. Aku pernah bermimpi, suatu hari kamu akan berdiri di depan pintuku sambil melemparkan senyummu yang biasanya membuat jantungku memompa darah 3 kali lebih cepat, lalu aku, dengan riangnya menghambur di pelukanmu. Dan bahagianya aku, saat kamu benar-benar berdiri di depan pintuku sambil melempar senyummu meminta persetujuan orangtuaku untuk menculikku sebentar saja. Kalau saja kamu tahu, sebelumnya belum pernah ada laki-laki yang aku izinkan atau bahkan aku memintanya datang kerumahku sendirian, seperti yang kamu lakukan waktu itu.
tidak jarang aku merasa lelah karena terlalu sering tertawa bersamamu. Mengitari kota untuk sekedar mengabadikan beberapa gambar juga tidak kalah melelahkannya.Terkadang aku juga hampir pingsan saat menemanimu berolahraga untuk mengecilkan perutmu yang sedikit buncit. Tapi aku suka semua itu, karena aku bersamamu, kalau aku lelah, lenganmu adalah tempat paling nyaman untuk bersandar, sambil memainkan jari-jarimu atau mengayun-ayunkan kakiku. Saking nyaman dan hangatnya, tidak jarang aku mengantuk. Tapi getaran pita suaramu menjalar hingga lenganmu yang nyaman, itu yang menjagaku untuk tidak tertidur saat bersandar di lenganmu.
Bersamamu selalu terasa nyaman dan menyenangkan. Saat hujan begini, biasanya kita berkirim pesan, bercerita lebih banyak, tertawa lebih banyak meski hanya melalui telepon seluler. Nanti setelah hujan reda, biasanya kita menghabiskan waktu di luar menikmati wedang ronde kesukaanku. Sempurna sekali, jalanan masih basah oleh hujan yang baru saja meninggalkan bumi, kadang rintik air dari daun yang terhembus angin pun masih menciptkan bunyi-bunyi yang romantis, dan semakin romantis lagi ketika ada pengamen yang membaca suasana kita, datang tanpa diundang lalu menyanyikan lagu cinta, berduet bersama malam yang baru saja disapa hujan. Tidak jarang aku ikut menyanyi, beberapa orang berkata suaraku bagus.
www.tomascastelazo.com
Kamu tahu persis selama aku berada di kota ini, aku selalu menikmati wedang ronde bersamamu. Belum pernah sekalipun orang lain menemaniku. Aku memiliki banyak sahabat dan teman wanita yang biasa menjadi teman untuk membunuh waktu. Tapi tidak pernah sekalipun aku menikmati wedang ronde ini bersama mereka, apalagi hujan begini.
Jatuh padamu itu indah, dan bertambah indah ketika kamu sedang bersamaku. membuatku bahagia saat kamu merelakan lubang telingamu terisi oleh gelombang suara yang aku hasilkan dari pita suara di tenggorokanku. Semakin indah ketika getaran pita suaramu menjalar melalui lenganmu dan merambat menuju kepalaku yang sedang bersandar di situ. Kamu tau? Bahwa getaran pita suaramu itu tidak hanya berhenti dikepalaku, tapi terus dan terus berjalan menyusuri lorong-lorong sempit di hatiku, dengan sigap menuju ke sebuah ruangan yang di sana berisi kamu. Ya, semua hal tentang kamu.dan saat getaran itu sampai diruangan itu, suaramu itu secara otomatis akan terekam disitu.
Jatuh padamu itu indah, bisa bersamamu membuatnya menjadi semakin terasa menggembirakan, tapi alangkah lebih indahnya jika kamu memungut hatiku yang jatuh itu lalu menyimpannya, menjaganya agar tidak jatuh pada yang lain
Sunday, December 2, 2012
Semoga Tidak Terjadi Apa-apa pada Hati yang Hanya Satu
ketika mencintai seseorang dan rasanya cinta itu meluap-luap, tapi tidak pernah bisa mengekspresikannya rasanya seperti tertindih batu yang beratnya berton-ton tepat diatas dada. Jangankan untuk mengekspresikan, bagaimana mungkin, ketika yang di cintai tidak memiliki perasaan yang sama. Rasanya mungkin selalu sama, bingung mau berteriak harus berteriak pada siapa, mau menangis untuk siapa. Mau berteriak selantang apapun juga tidak didengarkan, mau menangis hingga nafas terasa sesak pun juga tidak akan dipedulikan. Ya. Memang seperti itu karena ketika mencintai seseorang yang tidak balik mencintai itu adalah urusan yang mencintai, mau sakit hati ya di tanggung sendiri, mau berdarah-darah ya diobati sendiri, yang dicintai tidak akan pernah terpengaruh karena memang dia tidak balik mencintai.
tidak ada yang salah memang, hanya saja yang mencintai itu bodoh sekali, kenapa tidak segera berhenti, kenapa masih tetap saja bertahan di situ padahal sudah tau sakit. Sementara yang dicintai bebas kesana kemari bersama orang lain yang mungkin dia cintai atau tidak dia cintai. Sementara yang mencintai selalu was-was, tapi mau protes juga tidak bisa, memangnya siapa dia? Enak saja diprotes-protes, berhak juga tidak. Tapi disisi lain, yang mencintai berusaha mengelus dada sambil mengobati hatinya yang sakit, berkata pelan untuk hatinya yang sedang lecet atau bahkan berdarah, “tidak apa-apa yang penting dia bahagia, melihat senyumnya sudah cukup membahagiakan, bisa bersamanya itu adalah bonus dari ketulusan yang aku berikan”. Padahal kalo saja dia tahu, hatinya yang lecet atau bahkan berdarah itu sedang berteriak-teriak, ”berhenti, berhentilah mencintainya”. Tapi sayangnya teriakan-teriakan itu teredam oleh luapan cinta yang begitu besar untuk seseorang yang tidak balik mencintai.
Apapun dilakukan demi melihat yang dicintai bahagia, ya, karena bagi yang mencintai, melihat senyumnya adalah bahagia, meskipun harus merasa sakit di dada sebelah kirinya, karena terkadang yang membuatnya bahagia adalah sesuatu hal yang menyakitkan bagi yang mencintai. Dan lagi yang mencintai akan berkata pada hatinya ‘tidak apa-apa, yang penting dia bahagia’. Saking seringnya dicekoki kalimat itu, hatinya sekarang jadi mati rasa, mau sakit mau bahagia mau sedih rasanya hampir sama, ya mati rasa, tidak bisa lagi membedakan. Kalau sudah begini sebenarnya berbahaya, tapi bagaimana lagi yang mencintai masih ingin bertahan meski yang dicintai masih tetap tidak pernah melihat.
selalu saja punya sejuta alasan untuk bertahan. Sekali dua kali sahabat-sahabatnya masih mau menasehati, tapi tidak didengarkan sedikitpun. Hingga akhirnya sahabat-sahabat lelah, dengan gamblang mengatakan bahwa dia bodoh. Yang bisa dilakukan sahabat-sahabatnya hanya berdoa agar sahabatnya yang sedang mencintai seseorang yang tidak balik mencintainya itu, tetap baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa dengan hatinya yang hanya satu itu
tidak ada yang salah memang, hanya saja yang mencintai itu bodoh sekali, kenapa tidak segera berhenti, kenapa masih tetap saja bertahan di situ padahal sudah tau sakit. Sementara yang dicintai bebas kesana kemari bersama orang lain yang mungkin dia cintai atau tidak dia cintai. Sementara yang mencintai selalu was-was, tapi mau protes juga tidak bisa, memangnya siapa dia? Enak saja diprotes-protes, berhak juga tidak. Tapi disisi lain, yang mencintai berusaha mengelus dada sambil mengobati hatinya yang sakit, berkata pelan untuk hatinya yang sedang lecet atau bahkan berdarah, “tidak apa-apa yang penting dia bahagia, melihat senyumnya sudah cukup membahagiakan, bisa bersamanya itu adalah bonus dari ketulusan yang aku berikan”. Padahal kalo saja dia tahu, hatinya yang lecet atau bahkan berdarah itu sedang berteriak-teriak, ”berhenti, berhentilah mencintainya”. Tapi sayangnya teriakan-teriakan itu teredam oleh luapan cinta yang begitu besar untuk seseorang yang tidak balik mencintai.
Apapun dilakukan demi melihat yang dicintai bahagia, ya, karena bagi yang mencintai, melihat senyumnya adalah bahagia, meskipun harus merasa sakit di dada sebelah kirinya, karena terkadang yang membuatnya bahagia adalah sesuatu hal yang menyakitkan bagi yang mencintai. Dan lagi yang mencintai akan berkata pada hatinya ‘tidak apa-apa, yang penting dia bahagia’. Saking seringnya dicekoki kalimat itu, hatinya sekarang jadi mati rasa, mau sakit mau bahagia mau sedih rasanya hampir sama, ya mati rasa, tidak bisa lagi membedakan. Kalau sudah begini sebenarnya berbahaya, tapi bagaimana lagi yang mencintai masih ingin bertahan meski yang dicintai masih tetap tidak pernah melihat.
selalu saja punya sejuta alasan untuk bertahan. Sekali dua kali sahabat-sahabatnya masih mau menasehati, tapi tidak didengarkan sedikitpun. Hingga akhirnya sahabat-sahabat lelah, dengan gamblang mengatakan bahwa dia bodoh. Yang bisa dilakukan sahabat-sahabatnya hanya berdoa agar sahabatnya yang sedang mencintai seseorang yang tidak balik mencintainya itu, tetap baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa dengan hatinya yang hanya satu itu
Wednesday, November 28, 2012
Dia
Mereka berkata, "Dia sangat mencintaimu".
Ya, begitu mencintainya dia, sampai-sampai dia mau melakukan apapun demi melihatku tersenyum. Mereka mengatakan padaku, bahwa aku adalah semangatnya, sebentar saja dia menghabiskan waktu bersamaku, binar matanya akan segera berubah menjadi pancaran kebahagiaan yang seketika akan berpendar kesana kemari.
Mendengar hal itu, seketika ada rasa sakit di dadaku, bukankah ketika aku bersamanya aku lebih sering terdiam? Dia bercerita tentang ini dan itu dengan cerianya, tapi ketika sampai di akhir cerita aku tak menanggapi apapun bahkan melihatnya pun tidak, bagaimana mungkin dengan bersamaku bisa membuatnya begitu bahagia. Sebegitu berartinya kah aku baginya?
Masih kata mereka, "Dia begitu membanggakanmu, dia selalu mengatakan bahwa kamu adalah seseorang yang begitu baik hati, cerdas dan mengagumkan."
Hey, bukankah aku lebih sering membuatnya menangis, bagaimana mungkin dia menyimpulkan aku ini baik hati?
Mereka melihatnya terjatuh berkali-kali untuk mencitaiku.
Disaat cintanya padaku tak pernah sedikitpun berkurang, aku justru sedang bersama orang lain. Tapi dia selalu mengatakan bahwa dia akan ikut bahagia ketika melihatku bahagia. Bahkan sejauh yang aku ingat dia selalu mengatakan ‘have a nice day’ setiap kali aku menghabiskan waktu bersama perempuan lain. Dasar bodoh, pasti itu rasanya sakit sekali.
Kata mereka, "Dia tidak hanya mencintaimu tapi juga mencintai keluargamu."
Ya, dia selalu mengingatkanku bahwa merekalah yang harus aku utamakan. Merekalah yang selalu mendukungku selama ini, yang tidak pernah habis rasa pedulinya padaku.
"Dia berdarah-darah", kata mereka. "Ya, hatinya berdarah-darah untuk mencintaimu."
Padahal yang aku tau dia selalu berkata, ‘Hey, itu hatimu berdarah-darah, segera di obati biar tidak terlalu banyak darah yang keluar’. Dia berusaha menguatkanku meskipun aku masih tetap saja menganggapnya biasa. Sekuat apa dia, bahkan dalam keadaan berdarah-darahpun dia masih sempat memikirkanku, mengajakku berdiri dan berjalan lagi. Bahkan dia berkata,’ bahagia bisa melihatnya kembali berdiri dan belajar berjalan kembali’. Padahal dia sendiri sudah kehilangan banyak darah dari perdarahan di hatinya.
Itu dulu. Sekarang aku mencarinya, yang bisa mereka katakan hanya itu, hanya tentang seberapa besar mencintainya dia padaku. Tidak satupun dari mereka yang memberikan jawaban mengenai keberadaannya. Aku baru menyadari bahwa aku memiliki cinta untuknya. Ini, cinta yang baru aku sadari setelah dia pergi, setelah dia berhasil menghentikan perdarahan di hatiku, mengajakku berdiri dan lalu mengajariku berjalan, bahkan aku sudah tidak ragu lagi untuk berlari. Hey, dimana kamu? Aku mencintaimu, sini biar aku obati hatimu, lalu aku akan mengajarimu berdiri, berjalan dan berlari, bukan untuk menjauhiku, tapi untuk berada disisiku.
Ya, begitu mencintainya dia, sampai-sampai dia mau melakukan apapun demi melihatku tersenyum. Mereka mengatakan padaku, bahwa aku adalah semangatnya, sebentar saja dia menghabiskan waktu bersamaku, binar matanya akan segera berubah menjadi pancaran kebahagiaan yang seketika akan berpendar kesana kemari.
Mendengar hal itu, seketika ada rasa sakit di dadaku, bukankah ketika aku bersamanya aku lebih sering terdiam? Dia bercerita tentang ini dan itu dengan cerianya, tapi ketika sampai di akhir cerita aku tak menanggapi apapun bahkan melihatnya pun tidak, bagaimana mungkin dengan bersamaku bisa membuatnya begitu bahagia. Sebegitu berartinya kah aku baginya?
Masih kata mereka, "Dia begitu membanggakanmu, dia selalu mengatakan bahwa kamu adalah seseorang yang begitu baik hati, cerdas dan mengagumkan."
Hey, bukankah aku lebih sering membuatnya menangis, bagaimana mungkin dia menyimpulkan aku ini baik hati?
Mereka melihatnya terjatuh berkali-kali untuk mencitaiku.
Disaat cintanya padaku tak pernah sedikitpun berkurang, aku justru sedang bersama orang lain. Tapi dia selalu mengatakan bahwa dia akan ikut bahagia ketika melihatku bahagia. Bahkan sejauh yang aku ingat dia selalu mengatakan ‘have a nice day’ setiap kali aku menghabiskan waktu bersama perempuan lain. Dasar bodoh, pasti itu rasanya sakit sekali.
Kata mereka, "Dia tidak hanya mencintaimu tapi juga mencintai keluargamu."
Ya, dia selalu mengingatkanku bahwa merekalah yang harus aku utamakan. Merekalah yang selalu mendukungku selama ini, yang tidak pernah habis rasa pedulinya padaku.
"Dia berdarah-darah", kata mereka. "Ya, hatinya berdarah-darah untuk mencintaimu."
Padahal yang aku tau dia selalu berkata, ‘Hey, itu hatimu berdarah-darah, segera di obati biar tidak terlalu banyak darah yang keluar’. Dia berusaha menguatkanku meskipun aku masih tetap saja menganggapnya biasa. Sekuat apa dia, bahkan dalam keadaan berdarah-darahpun dia masih sempat memikirkanku, mengajakku berdiri dan berjalan lagi. Bahkan dia berkata,’ bahagia bisa melihatnya kembali berdiri dan belajar berjalan kembali’. Padahal dia sendiri sudah kehilangan banyak darah dari perdarahan di hatinya.
Itu dulu. Sekarang aku mencarinya, yang bisa mereka katakan hanya itu, hanya tentang seberapa besar mencintainya dia padaku. Tidak satupun dari mereka yang memberikan jawaban mengenai keberadaannya. Aku baru menyadari bahwa aku memiliki cinta untuknya. Ini, cinta yang baru aku sadari setelah dia pergi, setelah dia berhasil menghentikan perdarahan di hatiku, mengajakku berdiri dan lalu mengajariku berjalan, bahkan aku sudah tidak ragu lagi untuk berlari. Hey, dimana kamu? Aku mencintaimu, sini biar aku obati hatimu, lalu aku akan mengajarimu berdiri, berjalan dan berlari, bukan untuk menjauhiku, tapi untuk berada disisiku.
Monday, October 15, 2012
Lihat ke Arahku
Hujan. Kamu tau? Aku benci ketika air langit itu turun. Selalu dan selalu, hujan menggiring otakku untuk memutar kembali potongan-potongan adegan tentangmu.
Dulu. Ketika hujan datang, jari-jari kecilmu akan menarik pergelangan tanganku, sambil berkata ‘aku sangat suka hujan. Kamu tau kenapa?’.
‘ Karena setelah hujan kamu bisa melihat pelangi’ kataku sambil memperhatikanmu yang sedang asik mengamati hujan.
‘salah, karena ketika hujan malaikat-malaikat turun, jadi aku bisa berdoa, nanti kalau malaikat-malaikat itu kembali ke langit, mereka akan langsung menyampaikan keinginan-keinginanku pada Tuhan’
Lalu aku melihatmu memejamkan mata, berdoa. Aku memperhatikanmu sejenak, bulu matamu yang lentik terlihat bergerak-gerak. Lalu aku akan ikut memejamkan mata, ikut berdoa. Saat aku membuka mata, kamu masih berdoa, sesekali tersenyum dalam doamu. Hey, kamu tau? Senyummu itu, aku sangat suka melihatnya, menimbulkan gemuruh dihatiku, meskipun saat itu langit tidak sedang bergemuruh karena hujannya tidak terlalu deras.
‘Apa yang kamu minta?’ katamu, masih dengan senyum itu, hey bisa tidak berhenti tersenyum, bisa-bisa ada petir di hatiku.
‘ rahasia’ kataku, ‘ kamu?’
‘ aku berdoa agar aku dan kamu tetap bisa seperti ini, berbagi cerita, dan saling menguatkan’, matamu berbinar.
Aku tersenyum. Kalau saja kamu tau, aku tidak mau kita terus seperti ini. Itu menyakitkan untukku. Bagaimana tidak, aku bisa bersamamu seperti sekarang ini, melihat senyummu dan melihat mata berbinar, tapi disetiap pembicaraanmu selalu ada dia, laki-laki yang kamu kagumi. Kalau saja kamu bisa mendengar doaku, aku berdoa agar kamu, melihat kearah laki-laki yang ada disampingmu ini. Lihat ke arahku, seseorang yang selalu ada untukmu.
Dulu. Ketika hujan datang, jari-jari kecilmu akan menarik pergelangan tanganku, sambil berkata ‘aku sangat suka hujan. Kamu tau kenapa?’.
‘ Karena setelah hujan kamu bisa melihat pelangi’ kataku sambil memperhatikanmu yang sedang asik mengamati hujan.
‘salah, karena ketika hujan malaikat-malaikat turun, jadi aku bisa berdoa, nanti kalau malaikat-malaikat itu kembali ke langit, mereka akan langsung menyampaikan keinginan-keinginanku pada Tuhan’
Lalu aku melihatmu memejamkan mata, berdoa. Aku memperhatikanmu sejenak, bulu matamu yang lentik terlihat bergerak-gerak. Lalu aku akan ikut memejamkan mata, ikut berdoa. Saat aku membuka mata, kamu masih berdoa, sesekali tersenyum dalam doamu. Hey, kamu tau? Senyummu itu, aku sangat suka melihatnya, menimbulkan gemuruh dihatiku, meskipun saat itu langit tidak sedang bergemuruh karena hujannya tidak terlalu deras.
‘Apa yang kamu minta?’ katamu, masih dengan senyum itu, hey bisa tidak berhenti tersenyum, bisa-bisa ada petir di hatiku.
‘ rahasia’ kataku, ‘ kamu?’
‘ aku berdoa agar aku dan kamu tetap bisa seperti ini, berbagi cerita, dan saling menguatkan’, matamu berbinar.
Aku tersenyum. Kalau saja kamu tau, aku tidak mau kita terus seperti ini. Itu menyakitkan untukku. Bagaimana tidak, aku bisa bersamamu seperti sekarang ini, melihat senyummu dan melihat mata berbinar, tapi disetiap pembicaraanmu selalu ada dia, laki-laki yang kamu kagumi. Kalau saja kamu bisa mendengar doaku, aku berdoa agar kamu, melihat kearah laki-laki yang ada disampingmu ini. Lihat ke arahku, seseorang yang selalu ada untukmu.
Wednesday, October 10, 2012
Rahasia Tentang Kamu
Hey, aku beri tau satu rahasia tentang dirimu yang mungkin kamu sendiri tak mengetahuinya dengan baik. Kamu terlalu lemah ketika sendiri, tapi coba lihat, ketika ada seseorang yang berada di sisimu, kamu punya kekuatan berlebih untuk menyakiti seseorang yang selalu ada untukmu itu.
Monday, October 8, 2012
bahagiaku itu sederhana
1. Terkadang, kita tak menyadari bahwa bahagia itu terlalu sederhana, lihat saja aku, mataku berbinar ketika kamu tersenyum karena bahagiaku itu sesederhana melihatmu tersenyum.
2. aku sedang mengemasi kamu dari hatiku, belum selesai, jadi cepatlah datang dan cegah aku jika kamu masih ingin tinggal disini, di hatiku.
3. Tersenyumlah, lalu coba kamu cari bintang yang binarnya paling terang di langit, percayalah kamu tidak akan menemukannya, karena binarnya sudah berpindah ke mataku.
4. Aku tak membutuhkan alasan untuk mencintaimu, tiba-tiba saja aku jatuh cinta, namun aku memerlukan berjuta alasan untuk meninggalkanmu. Kamu tau, aku sudah menemukan alasan itu.
5. Pembohong macam apa kamu ini, memintaku untuk percaya pada lisanmu, padahal matamu lebih bisa menjelaskan semua rasamu dengan jujur.
6. Kamu itu seperti hitam yang tersiram putih, abu-abu, terlalu samar untukku
7. coba sini, ikuti aku, akan ku tunjukkan sesuatu. ini, ruang kecil kosong ini dulu pernah ada kamu di dalamnya, sekarang aku membiarkannya kosong dan terbuka, jadi semua orang punya kesempatan untuk tinggal didalamnya sekarang,tinggal aku mengijinkan atau tidak
2. aku sedang mengemasi kamu dari hatiku, belum selesai, jadi cepatlah datang dan cegah aku jika kamu masih ingin tinggal disini, di hatiku.
3. Tersenyumlah, lalu coba kamu cari bintang yang binarnya paling terang di langit, percayalah kamu tidak akan menemukannya, karena binarnya sudah berpindah ke mataku.
4. Aku tak membutuhkan alasan untuk mencintaimu, tiba-tiba saja aku jatuh cinta, namun aku memerlukan berjuta alasan untuk meninggalkanmu. Kamu tau, aku sudah menemukan alasan itu.
5. Pembohong macam apa kamu ini, memintaku untuk percaya pada lisanmu, padahal matamu lebih bisa menjelaskan semua rasamu dengan jujur.
6. Kamu itu seperti hitam yang tersiram putih, abu-abu, terlalu samar untukku
7. coba sini, ikuti aku, akan ku tunjukkan sesuatu. ini, ruang kecil kosong ini dulu pernah ada kamu di dalamnya, sekarang aku membiarkannya kosong dan terbuka, jadi semua orang punya kesempatan untuk tinggal didalamnya sekarang,tinggal aku mengijinkan atau tidak
Saturday, October 6, 2012
Segera Lunasi
Kali ini hatiku sudah seperti rentenir, menagih pelunasan dari setiap tumpukan rindu yang aku simpan untukmu, sudah tak bisa di tolerir lagi, cepat datang, lunasi semuanya, luangkan waktumu untukku hanya sekedar untuk duduk bersama meskipun kita terdiam satu sama lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)
