Hey kamu, entah sudah berapa banyak draft yg aku tujukan untukmu. Iya, semuanya memang tidak pernah terkirim padamu. Takut menggangggumu. Apa kbar? Baik kan?
Ada kbar baik yg ingin aku sampaikan, kmrin aku sudah menyelesaikan seminar proposalku, tepat di ulang tahun bapak ke 49. Sebenarnya aku sangat ingin memberitahumu, berharap ada doa yg km ucapkan untukku, tp lagi-lagi aku takut mengganggumu.
Haha, aku terlalu banyak bicara ya?
Iya maaf, selamat malam lelaki baik hati.
bahagia bisa datang kapan saja dimana saja dan dengan siapa saja, kuncinya satu, nikmati saja momentnya, tidak peduli dimana, kapan dan dengan siapa asal kamu menikmati, pasti bahagia akan terasa disitu ..
Friday, March 15, 2013
Friday, March 1, 2013
Liburan Akhir Semester 7 (Part 5) : Candi Merak feat Rumah Duren
Berawal dari posting-an teman saya, Ucup di facebook tentang Candi yang berada di Kecamatan Karangnongko, saya jadi penasaran. Kebetulan memang saya sudah suntuk seminggu di rumah tanpa kegiatan yang berarti. Jadilah saya meng-sms Icha dan Kiki untuk merencanakan berwisata ke candi tersebut.
Akhirnya rencana maen ke Candi Merak sudah matang. Saya, Icha, Kiki dan Nio berkumpul di depan SMA tercinta kami, SMA N 1 Klaten. Berfoto sejenak di depan Almamater tercinta sambil menunggu Ratih yang sedang perjalanan dari rumah.
Kami berangkat pukul 10.00 WIB dari SMA N 1 Klaten menuju ke Candi Merak sekalian jemput si Ucup, Tour Guide kami pagi ini. Setelah menenpuh perjalan sejauh kurang lebih 3 Km dari rumah Ucup, kami sampai di Candi Merak yang terletak di Dukuh Candi, Kecamatan Karangnongko, Klaten. Tak disangka sangka, sesampainya kami di kompleks Candi, ternyata gerbang candi masih terkunci, belum buka mungkin. Ucup si Tour Guide berusaha mencari informasi dari warga sekitar. Ternyata yang jaga Candi Merak itu PNS jadi hari Sabtu dan Minggu libur, ko aneh ya ada gitu tempat wisata yang tutup hari Sabtu Minggu?

Nasib, candinya tutup
Tapi ternyata ada warga yang berbaik hati memanggilkan Pak Slamet, salah seorang warga yang memegang kunci kompleks Candi Merak. Yeay!! Akhirnya kami bisa masuk, terimakasih Pak Slamet. Setelah gerbang candi terbuka, kami mulai berhamburan mencari tempat berpose yang keren, manjat sana manjat sini, cengar- cengir ga jelas. Si Icha malah latihan buat foto Prewed nya nanti, Ucup sibuk ngumpulin foto buat koleksi pribadi katanya, padahal yang difoto juga Cuma kita-kita ini yang disini - -“


Menurut cerita dari poster yang terpampang di depan Kompleks candi, maklum ga pake Tour Guide beneran, Candi Merak merupakan candi Hindu. Terbukti dari adanya temuan stupa-stupa di lokasi ini seperti Yoni, Ganesha, Durga(Tuhan umat Hindu) dan Nandi (Kendaraan milik Siva). Candi Merak memiliki ukuran lebar 8,86 m, panjang 13,5 m dan tinggi 12 m. Restorasi bagian kaki dan badan candi dilaksanakan pada tahun 2007-2010 , sedangkan bagian atap candi dapat diselesaikan pada tahun 2011.


Nih, Candi Merak, mirip ya sama Candi Gedongsongo
Kalau cerita versi Pak Slamet dan beberapa warga lain, kompleks Candi Merak ini dulunya adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon besar. Nah setelah pohon besar tersebut ditebang dan dibersihkan hingga akarnya, ditemukanlah sekumpulan batu yang mirip materi bangunan candi. Kenapa dinamakan Candi Merak? Menurut Pak Slamet, pada zaman dahulu terdapat sarang burung merak disekitar candi Hindu ini, selain itu beberapa Relief di candi tersebut bebrtuk seperti cap kaki burung merak. Jujur saja, mendengar cerita Pak Slamet, saya langsung membayangkan, flashback ke beratus-ratus tahun sebelum hari ini, tempat ini kaya apa ya dulu? Hmm entahlah, yang jelas Candi Merak ini mulai dilirik wisatawan Mancanegara lhoh. Kata Ucup sih, pas dia pertama kali ke candi ini, dia ketemu bule lagi asik nontonin ni candi, cielah ditontonin berasa bioskop.

Ini, Pak Slamet yang uda baik hati nyariin kita kunci
Puas berwisata budaya, perjalanan kami lanjutkan menuju Rumah Durian Ibu Sunarni yang terletak tak jauh dari Candi Merak, sekitar 5 menit perjalanan. Sepanjang jalan yang saya lalui dari Candi Merak menuju Rumah Durian Ibu Sunarni, betebaran pohon durian dimana-mana. Saya langsung punya pikiran absurd banget, gimana jadinya kalo ada angin gedhe trus duriannya pada runtuh, padahal yang naek motor pada ga pake helm? Hehe absurd sekali kan.
Begitu sampai di halaman rumah Ibu Sunarni, hidung kami serasa ditusuk durian, eh salah, maksud saya bau durian menusuk hidung kami. Durian bergeletakan dimana-mana, seakan-akan berteriak, makan kami!! makan kami!! Iye-iye sabar tar gua beli lu lu pada.

icha lagi nyicicipin Duren yang bakal kita pilih
Ternyata Rumah Durian Ibu Sunarni ini cukup terkenal, terbukti dari banyaknya pengunjung yang datang membeli durian di tempat ini. Setelah melalui pergulatan panjang dengan ibu Sunarni, akhirnya kami memenangkan 3 durian dengan harga 75 ribu. Kata Ucup durennya lonjong kaya muka saya, eeet dah temen kampus bilang muka saya kaya kates, nah sekarang dibilang kaya duren, demi apa coba - -“

Emang iya sih mukaku selonjong duren ini, mana tampangku udah berantakan pula :(
Begitu durian dibuka satu persatu, kita berenam ngadain perundingan, durian mana yang harus dieksekusi terlebih dahulu. Akhirnya si Orange mendapat giliran terakhir untuk kami santap. Jadilah kami mabok durian setelah itu.

Before, ini saat duren-duren masih lengkap

Kita makan deh durennya abis itu

After, ketika hanya tinggal kulit yang tersisa
Hal menarik dari Rumah Durian Ibu Sunarni adalah, kalau durian yang kita pilih ternyata busuk, bisa minta ganti, dan dijamin kualitas di Rumah Durian Ibu Sunarni ini top banget, enaknya kebangetan. Saya yang biasanya Cuma kuat makan dua biji durian sekarang kuat makan berbiji-biji durian. Kita juga bisa memakan durian yang kita pilih, langsung di Rumah Durian tersebut, gratis air minum ko, gratis juga air buat cuci tangan hehe. Oiya buat kamu yang penasaran atau memang hobi minum Jusdur alias Jus Durian, bisa juga pesan disini. Selamat mencoba.
Akhirnya rencana maen ke Candi Merak sudah matang. Saya, Icha, Kiki dan Nio berkumpul di depan SMA tercinta kami, SMA N 1 Klaten. Berfoto sejenak di depan Almamater tercinta sambil menunggu Ratih yang sedang perjalanan dari rumah.
Kami berangkat pukul 10.00 WIB dari SMA N 1 Klaten menuju ke Candi Merak sekalian jemput si Ucup, Tour Guide kami pagi ini. Setelah menenpuh perjalan sejauh kurang lebih 3 Km dari rumah Ucup, kami sampai di Candi Merak yang terletak di Dukuh Candi, Kecamatan Karangnongko, Klaten. Tak disangka sangka, sesampainya kami di kompleks Candi, ternyata gerbang candi masih terkunci, belum buka mungkin. Ucup si Tour Guide berusaha mencari informasi dari warga sekitar. Ternyata yang jaga Candi Merak itu PNS jadi hari Sabtu dan Minggu libur, ko aneh ya ada gitu tempat wisata yang tutup hari Sabtu Minggu?

Nasib, candinya tutup
Tapi ternyata ada warga yang berbaik hati memanggilkan Pak Slamet, salah seorang warga yang memegang kunci kompleks Candi Merak. Yeay!! Akhirnya kami bisa masuk, terimakasih Pak Slamet. Setelah gerbang candi terbuka, kami mulai berhamburan mencari tempat berpose yang keren, manjat sana manjat sini, cengar- cengir ga jelas. Si Icha malah latihan buat foto Prewed nya nanti, Ucup sibuk ngumpulin foto buat koleksi pribadi katanya, padahal yang difoto juga Cuma kita-kita ini yang disini - -“


Menurut cerita dari poster yang terpampang di depan Kompleks candi, maklum ga pake Tour Guide beneran, Candi Merak merupakan candi Hindu. Terbukti dari adanya temuan stupa-stupa di lokasi ini seperti Yoni, Ganesha, Durga(Tuhan umat Hindu) dan Nandi (Kendaraan milik Siva). Candi Merak memiliki ukuran lebar 8,86 m, panjang 13,5 m dan tinggi 12 m. Restorasi bagian kaki dan badan candi dilaksanakan pada tahun 2007-2010 , sedangkan bagian atap candi dapat diselesaikan pada tahun 2011.


Nih, Candi Merak, mirip ya sama Candi Gedongsongo
Kalau cerita versi Pak Slamet dan beberapa warga lain, kompleks Candi Merak ini dulunya adalah sebidang tanah yang ditumbuhi pohon besar. Nah setelah pohon besar tersebut ditebang dan dibersihkan hingga akarnya, ditemukanlah sekumpulan batu yang mirip materi bangunan candi. Kenapa dinamakan Candi Merak? Menurut Pak Slamet, pada zaman dahulu terdapat sarang burung merak disekitar candi Hindu ini, selain itu beberapa Relief di candi tersebut bebrtuk seperti cap kaki burung merak. Jujur saja, mendengar cerita Pak Slamet, saya langsung membayangkan, flashback ke beratus-ratus tahun sebelum hari ini, tempat ini kaya apa ya dulu? Hmm entahlah, yang jelas Candi Merak ini mulai dilirik wisatawan Mancanegara lhoh. Kata Ucup sih, pas dia pertama kali ke candi ini, dia ketemu bule lagi asik nontonin ni candi, cielah ditontonin berasa bioskop.

Ini, Pak Slamet yang uda baik hati nyariin kita kunci
Puas berwisata budaya, perjalanan kami lanjutkan menuju Rumah Durian Ibu Sunarni yang terletak tak jauh dari Candi Merak, sekitar 5 menit perjalanan. Sepanjang jalan yang saya lalui dari Candi Merak menuju Rumah Durian Ibu Sunarni, betebaran pohon durian dimana-mana. Saya langsung punya pikiran absurd banget, gimana jadinya kalo ada angin gedhe trus duriannya pada runtuh, padahal yang naek motor pada ga pake helm? Hehe absurd sekali kan.
Begitu sampai di halaman rumah Ibu Sunarni, hidung kami serasa ditusuk durian, eh salah, maksud saya bau durian menusuk hidung kami. Durian bergeletakan dimana-mana, seakan-akan berteriak, makan kami!! makan kami!! Iye-iye sabar tar gua beli lu lu pada.

icha lagi nyicicipin Duren yang bakal kita pilih
Ternyata Rumah Durian Ibu Sunarni ini cukup terkenal, terbukti dari banyaknya pengunjung yang datang membeli durian di tempat ini. Setelah melalui pergulatan panjang dengan ibu Sunarni, akhirnya kami memenangkan 3 durian dengan harga 75 ribu. Kata Ucup durennya lonjong kaya muka saya, eeet dah temen kampus bilang muka saya kaya kates, nah sekarang dibilang kaya duren, demi apa coba - -“

Emang iya sih mukaku selonjong duren ini, mana tampangku udah berantakan pula :(
Begitu durian dibuka satu persatu, kita berenam ngadain perundingan, durian mana yang harus dieksekusi terlebih dahulu. Akhirnya si Orange mendapat giliran terakhir untuk kami santap. Jadilah kami mabok durian setelah itu.

Before, ini saat duren-duren masih lengkap

Kita makan deh durennya abis itu

After, ketika hanya tinggal kulit yang tersisa
Hal menarik dari Rumah Durian Ibu Sunarni adalah, kalau durian yang kita pilih ternyata busuk, bisa minta ganti, dan dijamin kualitas di Rumah Durian Ibu Sunarni ini top banget, enaknya kebangetan. Saya yang biasanya Cuma kuat makan dua biji durian sekarang kuat makan berbiji-biji durian. Kita juga bisa memakan durian yang kita pilih, langsung di Rumah Durian tersebut, gratis air minum ko, gratis juga air buat cuci tangan hehe. Oiya buat kamu yang penasaran atau memang hobi minum Jusdur alias Jus Durian, bisa juga pesan disini. Selamat mencoba.
Thursday, February 28, 2013
Liburan Akhir Semester 7 (Part 4) : Borobudur, Fabulous Indonesian Cultural Heritage, dan Romantisnya Senja di Kota Jogjakarta
Hmm sepertinya yang gratis-gratis masih berpihak kepada saya, haha jangan ngiri ya. Jadi, ceritanya setelah acara Art Trash Selling, saya berencana untuk pulang ke Klaten. Tak disangka-sangka, baru saja saya menginjakkan kaki di kamar, ada sms dari mb mery, saya ditawari untuk ikut Tour ke Jogja bareng temen-temen Exchange Participant AIESEC Undip. Okesip, saya terima tawaran mbak Merry, lumayan nambah pengalaman kerja. :)
Esok paginya, tanggal 28 Januari saya sudah siap berangkat setelah kemaren sore di training secara singkat sama mba Tika. Sempat terjadi miss komunikasi, saya harusnya nunggu di Gerbang Undip pleburan, eh saya malah Standby di GSG Undip Tembalang, alhasil pagi-pagi harus kebut-kebutan bareng mbak Tika. Sampai di Pleburan di ketawain sama pak Yudi sama Mbak Lia. Nasib.
Aduh deg-degan harus nyampaiin tips kesehatan pake English, mana uda lebih dari 6 bulan ga ngomong pake inggris gara-gara ga ada kuliah kelas. Maak, belepotan dah jadinya saya ngomong. Tapi mbak Lia bilang, gapapa uda bagus ko, haha saya tahu mbak Lia mencoba menenangkan saya.
Well, tujuan wisata kami kali ini adalah Candi Borobudur, yang seumur-umur saya belum pernah kesana hehe, tampaknya saya harus mengeluarkan jurus sok tau yang diajarkan Pak Yudi dan Mbak Lia. Boleh dibilang pekerjaan saya sebagai travel nurse kali ini cukup ringan, karena yang saya bawa foreigner yang memiliki karakter yang mandiri, jadi ga dikit-dikit ngeluh, tapi saya tetep harus pendekatan personal ke mereka, nah ini yang jadi tantangan terberat hehe.
Pukul 10.00 WIB kami sampai di Borobudur, kami langsung masuk ke International Visitor’s Room, disini saya menyarankan teman-teman Exchange Participant untuk membawa air mineral soalnya diatas panas banget, ini menurut mbak Lia yang uda berkali-kali kesini sih. Kebetulan ada free welcoming drink di International Visitor’s Room, jadilah mereka sibuk masukin air mineral ke ransel masing-masing, aku juga dong ikutan.
Nah, sebelum memasuki kompleks candi, peserta tour diminta menggunaka Saroong, yaitu berupa lembaran kain batik yang diikatkan di pinggang. Nadia yang berasal dari Rusia sempet nolak pake Saroong, tapi toh akhirnya dia nurut juga, Zomor dari Mesir penasaran pengen make sendiri sarong nya dan akhirnya dia berhasil, yeay!
Woow, Borobudur megah banget, serius deh. Temen-temen EP juga pada berdecak kagum dengan kemewahan Candi Budha ini. Bener kata mbak Lia, Borobudur panasnya kebangetan. Tapi sayang, saya kurang bisa merhatiin penjelasan bapak Tour Guide, soalnya uda dikerubuti sama temen-temen EP. Tapi saya denger samar-samar, relief yang ada di Candi Borobudur menceritakan perjalanan Sang Budha dari lahir hingga menuju surge atau Nirwana. Relief di Candi Borobudur juga menceritkan mengenai sifat manusia yang baik dan buruk. Untuk dapat menikmati cerita yang runtut dari relief Candi Borobudur kita harus memulai perjalanan dari sisi kiri menuju ke atas candi. Sampai di tingkat kedua, ada peserta yang nanya ke saya, kenapa stupanya pada ilang kepalanya, hehe untungnya sebelum ditanyain aku uda nanya duluan ke Mbak Lia, katanya pada ilang karena jatuh pas ada gempa.

Nih Borobudur Megahnya Kebangetan

Panasnya Jugak ga kalah kurang ajar, liat tuh mukany Si Le ampe merah padam gitu
Setelah sampai di Surga, maksud saya bagian teratas Candi Borobudur, saya dan teman-teman asik foto sana-sini. Si Le Saeng Jo dari Korsel dikerubungi anak-anak SMP diajakin foto bareng, iya sih emang tampangnya kaya artis korea. Susah banget ngajak turun temen-temen yang lagi asik foto-foto, sampe ditelpon mabk Lia berkali-kali disuruh turun.


Nih, Borobudur, ini candi punya kita lhoh, temen-temen EP aja pada ngiri
Sepanjang jalan turun dari Candi, saya sempet nanya-nanya ke temen-temen EP, tentang Indonesia di mata mereka. Salah satu peserta dari China (saya lupa namanya) bilang kalau Indonesia itu keren, beda banget kaya China yang dima-mana serba sama isinya Cuma bangunan-bangunan tinggi aja. Si Zomor dari Mesir bilang Indonesia itu luar biasa, tapi masih kalah panas dari Mesir katanya.
Yuk lanjut, sekarang saatnya cus ke Anshor’s Gallery, tempat pembuatan dan penjualan kerajinan dari bahan perak. Disini kami bisa lihat proses pembuatan aksesoris berbahan perak, bisa juga beli perhiasan dari perak yang harganya fantastis.


Ini kita lagi di Anshor's Galery, si Zomor mau ngeborong tuh
Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta, kami mampir sebentar ke Batik Beteng. Sebenernya rombongan kami pengen ke Keraton Kasultanan Jogjakarta, tapi sayangnya uda keburu tutup. Akhirnya diputuskan untuk mengunjungi Tamansari, yang ternyata uda tutup juga, tapi kalau di Tamansari meskipun sudah tutup, kami tetap bisa menikmati suasana perkampungan yang nyaman disini. Kim sempet sakit perut, tapi ga mau dikasih obat. Ini nih beberapa ulah temen-temen di Tamansari : )


Ini kita di Tamansari, Si Le penasaran banget sama proses ukir wayang
Setelah selesai menikmati nyamannya perkampungan di daerah Tamansari, kami melanjutkan perjalanan ke Malioboro. Nah, di Malioboro temen-temen dari EP kami biarkan menikmati Malioboro tanpa dampingan dari saya dan Mbak Lia, kami meminta mereka berkumpul kembali di bus pukul 18.00 WIB. Si Le sempet nyasar, tapi akhirnya dia pasrah nyasar kemudian menikmati kenyasarannya hehe. Saya menyempatkan menikmati senja di Malioboro sendirian, membelikan gantungan kunci pesenan Mas saya. Ini nih hasil jepretan saya di Nol Kilometer Jogjakarta.



Perjalanan yang menyenangkan, tapi sayangnya keesokan harinya saya sakit, jadi ga bisa nemenin temen-temen EP berwisata ke Candi Gedongsongo.
Esok paginya, tanggal 28 Januari saya sudah siap berangkat setelah kemaren sore di training secara singkat sama mba Tika. Sempat terjadi miss komunikasi, saya harusnya nunggu di Gerbang Undip pleburan, eh saya malah Standby di GSG Undip Tembalang, alhasil pagi-pagi harus kebut-kebutan bareng mbak Tika. Sampai di Pleburan di ketawain sama pak Yudi sama Mbak Lia. Nasib.
Aduh deg-degan harus nyampaiin tips kesehatan pake English, mana uda lebih dari 6 bulan ga ngomong pake inggris gara-gara ga ada kuliah kelas. Maak, belepotan dah jadinya saya ngomong. Tapi mbak Lia bilang, gapapa uda bagus ko, haha saya tahu mbak Lia mencoba menenangkan saya.
Well, tujuan wisata kami kali ini adalah Candi Borobudur, yang seumur-umur saya belum pernah kesana hehe, tampaknya saya harus mengeluarkan jurus sok tau yang diajarkan Pak Yudi dan Mbak Lia. Boleh dibilang pekerjaan saya sebagai travel nurse kali ini cukup ringan, karena yang saya bawa foreigner yang memiliki karakter yang mandiri, jadi ga dikit-dikit ngeluh, tapi saya tetep harus pendekatan personal ke mereka, nah ini yang jadi tantangan terberat hehe.
Pukul 10.00 WIB kami sampai di Borobudur, kami langsung masuk ke International Visitor’s Room, disini saya menyarankan teman-teman Exchange Participant untuk membawa air mineral soalnya diatas panas banget, ini menurut mbak Lia yang uda berkali-kali kesini sih. Kebetulan ada free welcoming drink di International Visitor’s Room, jadilah mereka sibuk masukin air mineral ke ransel masing-masing, aku juga dong ikutan.
Nah, sebelum memasuki kompleks candi, peserta tour diminta menggunaka Saroong, yaitu berupa lembaran kain batik yang diikatkan di pinggang. Nadia yang berasal dari Rusia sempet nolak pake Saroong, tapi toh akhirnya dia nurut juga, Zomor dari Mesir penasaran pengen make sendiri sarong nya dan akhirnya dia berhasil, yeay!
Woow, Borobudur megah banget, serius deh. Temen-temen EP juga pada berdecak kagum dengan kemewahan Candi Budha ini. Bener kata mbak Lia, Borobudur panasnya kebangetan. Tapi sayang, saya kurang bisa merhatiin penjelasan bapak Tour Guide, soalnya uda dikerubuti sama temen-temen EP. Tapi saya denger samar-samar, relief yang ada di Candi Borobudur menceritakan perjalanan Sang Budha dari lahir hingga menuju surge atau Nirwana. Relief di Candi Borobudur juga menceritkan mengenai sifat manusia yang baik dan buruk. Untuk dapat menikmati cerita yang runtut dari relief Candi Borobudur kita harus memulai perjalanan dari sisi kiri menuju ke atas candi. Sampai di tingkat kedua, ada peserta yang nanya ke saya, kenapa stupanya pada ilang kepalanya, hehe untungnya sebelum ditanyain aku uda nanya duluan ke Mbak Lia, katanya pada ilang karena jatuh pas ada gempa.

Nih Borobudur Megahnya Kebangetan

Panasnya Jugak ga kalah kurang ajar, liat tuh mukany Si Le ampe merah padam gitu
Setelah sampai di Surga, maksud saya bagian teratas Candi Borobudur, saya dan teman-teman asik foto sana-sini. Si Le Saeng Jo dari Korsel dikerubungi anak-anak SMP diajakin foto bareng, iya sih emang tampangnya kaya artis korea. Susah banget ngajak turun temen-temen yang lagi asik foto-foto, sampe ditelpon mabk Lia berkali-kali disuruh turun.


Nih, Borobudur, ini candi punya kita lhoh, temen-temen EP aja pada ngiri
Sepanjang jalan turun dari Candi, saya sempet nanya-nanya ke temen-temen EP, tentang Indonesia di mata mereka. Salah satu peserta dari China (saya lupa namanya) bilang kalau Indonesia itu keren, beda banget kaya China yang dima-mana serba sama isinya Cuma bangunan-bangunan tinggi aja. Si Zomor dari Mesir bilang Indonesia itu luar biasa, tapi masih kalah panas dari Mesir katanya.
Yuk lanjut, sekarang saatnya cus ke Anshor’s Gallery, tempat pembuatan dan penjualan kerajinan dari bahan perak. Disini kami bisa lihat proses pembuatan aksesoris berbahan perak, bisa juga beli perhiasan dari perak yang harganya fantastis.


Ini kita lagi di Anshor's Galery, si Zomor mau ngeborong tuh
Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta, kami mampir sebentar ke Batik Beteng. Sebenernya rombongan kami pengen ke Keraton Kasultanan Jogjakarta, tapi sayangnya uda keburu tutup. Akhirnya diputuskan untuk mengunjungi Tamansari, yang ternyata uda tutup juga, tapi kalau di Tamansari meskipun sudah tutup, kami tetap bisa menikmati suasana perkampungan yang nyaman disini. Kim sempet sakit perut, tapi ga mau dikasih obat. Ini nih beberapa ulah temen-temen di Tamansari : )


Ini kita di Tamansari, Si Le penasaran banget sama proses ukir wayang
Setelah selesai menikmati nyamannya perkampungan di daerah Tamansari, kami melanjutkan perjalanan ke Malioboro. Nah, di Malioboro temen-temen dari EP kami biarkan menikmati Malioboro tanpa dampingan dari saya dan Mbak Lia, kami meminta mereka berkumpul kembali di bus pukul 18.00 WIB. Si Le sempet nyasar, tapi akhirnya dia pasrah nyasar kemudian menikmati kenyasarannya hehe. Saya menyempatkan menikmati senja di Malioboro sendirian, membelikan gantungan kunci pesenan Mas saya. Ini nih hasil jepretan saya di Nol Kilometer Jogjakarta.



Perjalanan yang menyenangkan, tapi sayangnya keesokan harinya saya sakit, jadi ga bisa nemenin temen-temen EP berwisata ke Candi Gedongsongo.
Liburan Akhir Semester 7 (Part 3) : Art Trash Selling
Lagi dan lagi, kegiatan kali ini ga jauh-jauh dari yang namanya gratisan, emang dasar mahasiswa segera merapat kalau denger yang gratis-gratis. Okesip, setelah dihajar dengan Tour Jakarta-Bandung yang lumayan membuat saya gempor, saya sengaja ga pulang dulu ke rumah, karena masih ada satu kegiatan asik yang sayang banget kalau dilewatkan.
Kegiatan ini, diadakan oleh temen-temen Youth Empowering (YEP) Region Semarang pada tanggal 27 Januari 2013 bebarengan dengen acara car free day di sepanjang Jl. Pahlawan Semarang. Acara kali ini merupakan acara puncak dari rangakaian project YEP eco-Empowering Kids yang telah dilaksanakan selama kurang lebih 1,5 bulan yang terdiri dari trash collecting dan trash processing. Jadi acara kali ini, bertujuan untuk menjual kerajinan dari sampah yang telah diproses oleh anak-anak SOS dan para volunteers dengan bimbingan Mbak-mbak dari Resik Becik. Kebetulan saya merupakan salah satu Volunteers di acara YEP eco-EK ini.

ini nih hasil kerajinan dari sampah plastik
Selain ngejual hasil kerajinan dari sampah bersama teman-temen dari Exchange Participant AIESEC, acara kali ini juga menghadirkan dua pemain Film Laskar Pelangi, Febri dan Rama. Ternyata mereka berdua uda gedhe, uda kuliah di Universitas Gunadharma. Mereka diundang dalam acara ini untuk berbagi pengalaman kepada adik-adik dari SOS tentang pengalaman mereka menjadi bintang Film Laskar Pelangi sampai akhirnya mendapat beasiswa hingga lulus S1 nanti. ‘ Jangan pernah takut untuk bermimpi’ , Ucap Febri yang berperan sebagai Samson dalam Film Laskar Pelangi untuk memberikan semangat pada adek-adek dari SOS.

ini nih lagi pada fashion show adek-adeknya

Adek-adeknya juga pinter maen pianika lhoh
Di akhir acara ada pertunjukkan dari anak-anak SOS. Fashion show mengenakan baju yang terbuat dari sampah plastic, perkusi dan pianika dimainkan oleh anak-anak SOS dengan baik, saya merasa terhibur.

Seluruh pendukung acara hehe
Kegiatan ini, diadakan oleh temen-temen Youth Empowering (YEP) Region Semarang pada tanggal 27 Januari 2013 bebarengan dengen acara car free day di sepanjang Jl. Pahlawan Semarang. Acara kali ini merupakan acara puncak dari rangakaian project YEP eco-Empowering Kids yang telah dilaksanakan selama kurang lebih 1,5 bulan yang terdiri dari trash collecting dan trash processing. Jadi acara kali ini, bertujuan untuk menjual kerajinan dari sampah yang telah diproses oleh anak-anak SOS dan para volunteers dengan bimbingan Mbak-mbak dari Resik Becik. Kebetulan saya merupakan salah satu Volunteers di acara YEP eco-EK ini.

ini nih hasil kerajinan dari sampah plastik
Selain ngejual hasil kerajinan dari sampah bersama teman-temen dari Exchange Participant AIESEC, acara kali ini juga menghadirkan dua pemain Film Laskar Pelangi, Febri dan Rama. Ternyata mereka berdua uda gedhe, uda kuliah di Universitas Gunadharma. Mereka diundang dalam acara ini untuk berbagi pengalaman kepada adik-adik dari SOS tentang pengalaman mereka menjadi bintang Film Laskar Pelangi sampai akhirnya mendapat beasiswa hingga lulus S1 nanti. ‘ Jangan pernah takut untuk bermimpi’ , Ucap Febri yang berperan sebagai Samson dalam Film Laskar Pelangi untuk memberikan semangat pada adek-adek dari SOS.

ini nih lagi pada fashion show adek-adeknya

Adek-adeknya juga pinter maen pianika lhoh
Di akhir acara ada pertunjukkan dari anak-anak SOS. Fashion show mengenakan baju yang terbuat dari sampah plastic, perkusi dan pianika dimainkan oleh anak-anak SOS dengan baik, saya merasa terhibur.

Seluruh pendukung acara hehe
Liburan Akhir Semester 7 (Part 2) : Saung Udjo, Budaya Nusantara yang Mendunia.
Episode kali ini, ciyeeh episode, berasa lagi nonton tukang haji naik bubur *lhoh eh, yap di episode liburan kali ini saya masih di kerumuni gratisan dimana-mana, masih termasuk didalam rangkaian tour Jakarta-Bandung.
Saung Udjo. Pertama kali mendengar nama tempat ini, saya pikir semacam rumah makan, haha emang dasarnya saya hobi makan yang ada di pikiran makanan mulu. Saya baru paham setelah mbak Lia menjelaskan kepada peserta bahwa Saung Udjo merupakan sebuah sanggar budaya yang menjadikan budaya Sunda khususnya Angklung sebagai daya tarik utama. Didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati, dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda. Mendengar penjelasan mbak Lia, saya jadi ga sabar untuk segera sampai di Saung Angklung Udjo dan melihat pertunjukkan alat music khas sunda ini. Akhirnya kami sampai di Saung Angklung Udjo, setelah menempuh perjalanan selama 45menit dari hotel tempat kami menginap. Meskipun terletak di sebuah gang sempit yaitu di jalan Padasuka 118, Bandung Timur, Saung Angklung Udjo ini tetap ramai pengunjung.
Begitu sampai di Saung Angklung Udjo, kami disambut dengan lingkungan asri yang disekitarnya ditumbuhi bambu-bambu hias. Suasana di Saung Udjo ini benar-benar membuat saya merasa adem, sejuk sekali rasanya dikelilingi pohon bambu dan beberapa pohon rimbun lainnya. Sambil menanti pertunjukkan yang akan dimulai pukul 10.00 WIB pengunjung dibagikan es lilin aneka rasa, dan lagi- lagi gratis hehe. Pengunjung juga dapat membeli oleh-oleh di Saung Udjo ini, untuk harga memang dibandrol agak tinggi, namun jangan khawatir dengan kualitasnya, pasti oke pokoknya. Nah, asiknya lagi disini kita juga dapat mencoba memainkan angklung yang ada di Galery Saung Udjo sambil menanti pertunjukkan dimulai.

Hmm nampak depan aja uda asik gini suasananya

Nih Es lilin nya seger banget
Pukul 10.00 WIB pertunjukkan angklung pun dimulai, dibuka dengan pertunjukkan wayang golek selama 15 menit. Meskipun singkat namun tetap memukau. Ditengah pertujukkan, layar yang menutupi kaki sang dalang dibuka, jadi kami dapat melihat bagaimana sang dalang dengan cekatan memainkan tangan dan kakinya secara bersamaan untuk menggerakan boneka kayu dan memberikan efek music pada setiap adegannya.

Ini nih Si Cepot lagi beraksi
Setelah memukau penonton dengan pertunjukkan wayang golek dengan bahasa sunda yang kental, kini penonton dimanjakan dengan alunan beberapa lagu daerah Sunda. Tidak cukup sampai disitu saja keseruan yang disajikan, penonton dibuat terpukau ketika anak-anak kecil berusia 2 hingga 8 tahun muncul dari belakang panggung dan kemudian menari di tengah panggung diikuti beberapa remaja memainkan angklung, beberapa diantaranya tampak menandu anak kecil yang mengenakan pakain khas sunda dan memakai sarung. Pertunjukkan tersebut merupakan gambaran upacara selamatan bagi anak kecil yang baru saja disunat.
Belum hilang rasa gemas para penonton terhadap anak-anak kecil yang menari diatas panggung. Kini penonton disuguhi sajian lagu-lagu daerah dari seluruh nusantara yang dimainkan oleh seluruh siswa di Saung Udjo, kolaborasi antara siswa Junior dan Senior. Penonton ikut bernyanyi bersama alunan merdu dari Angklung yang dimainkan tanpa teks tersebut.

Gemes deh

Selesai dengan lagu daerah Nusantara, kini penonton dihajar dengan alunan lagu bernada diatonis, beberapa lagu pop dan dangdut di sajikan, sang MC pun ikut menyanyi bersama penonton. Puas bernyanyi, kini saatnya penonton mencoba belajar memainkan Angklung. Putra-putri Sunda mulai membagikan Angklung kepada peserta.
Pelajaran pertama, penonton diajarkan bagaimana cara memegang Angklung dengan benar. Dilanjutkan dengan cara membunyikan Angklung. Tidak kalah menarik lagi ketika penonton diajak untuk memainkan lagu sederhana, setiap Angklung yang dipegang oleh penonton ternyata memiliki nomor, nomor pada angklung menunjukkan nada yang dimiliki oleh Angklung tersebut. Teh Katty yang merupakan MC pada pertunjukkan kali ini, memberikan kode dengan tangan untuk memainkan lagu Ibu kita Kartini. Teh Katty yang sudah belajar Angklung selama 17 tahun ini, terlihat sangat fasih memberikan kode bagi penonton saat memainkan lagu I Have a Dream dan Ada Apa Denganmu.

Teh Katty, MC kita yang cantik
Pertunjukkan pagi itu ditutup dengan menyanyikan lagu dangdut yang membuat seluruh penonton turun memadati panggung untuk bergoyang dan bernyanyi bersama. Sungguh sebuah pertujukkan yang sangat hebat, keren, WOW banget, kebangetan bagusnya.
Salah satu hal yang membuat saya salut,pertunjukkan di Angklung Udjo ini sudah di desain sedemikian rupa sehingga tidak terkesan jadul, sisi modern tetap diangkat dengan mendaulat MC yang memiliki public speaking yang keren dan kemampuan berbahasa inggris yang ga perlu diragukan lagi, kesan tradisional diangkat lewat wardrobe yang dikenakan oleh MC dan penampil lainnya. ga heran kalo Saung Udjo ini uda meraih prestasi tingkat Internasional.

Tuh kan, tumplek bleg dipanggung
Hal lain yang membuat saya menjadi lebih kagum lagi adalah, siswa di sanggar ini terdiri dari berbagai tingkatan usia, dari yang paling muda berumur 2 tahun hingga yang sudah dewasa seperti Teh Katty yang menjadi MC pada pertunjukkan kali. Ini baru saya sebut sebagai pelestarian budaya, apalagi siswa di sanggar ini rela untuk sekolah sore demi belajar budaya khas sunda ini di pagi harinya. Tampaknya Indonesia butuh lebih banyak generasi seperti mereka untuk mengangkat budaya Negeri ini.
Saung Udjo. Pertama kali mendengar nama tempat ini, saya pikir semacam rumah makan, haha emang dasarnya saya hobi makan yang ada di pikiran makanan mulu. Saya baru paham setelah mbak Lia menjelaskan kepada peserta bahwa Saung Udjo merupakan sebuah sanggar budaya yang menjadikan budaya Sunda khususnya Angklung sebagai daya tarik utama. Didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati, dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda. Mendengar penjelasan mbak Lia, saya jadi ga sabar untuk segera sampai di Saung Angklung Udjo dan melihat pertunjukkan alat music khas sunda ini. Akhirnya kami sampai di Saung Angklung Udjo, setelah menempuh perjalanan selama 45menit dari hotel tempat kami menginap. Meskipun terletak di sebuah gang sempit yaitu di jalan Padasuka 118, Bandung Timur, Saung Angklung Udjo ini tetap ramai pengunjung.
Begitu sampai di Saung Angklung Udjo, kami disambut dengan lingkungan asri yang disekitarnya ditumbuhi bambu-bambu hias. Suasana di Saung Udjo ini benar-benar membuat saya merasa adem, sejuk sekali rasanya dikelilingi pohon bambu dan beberapa pohon rimbun lainnya. Sambil menanti pertunjukkan yang akan dimulai pukul 10.00 WIB pengunjung dibagikan es lilin aneka rasa, dan lagi- lagi gratis hehe. Pengunjung juga dapat membeli oleh-oleh di Saung Udjo ini, untuk harga memang dibandrol agak tinggi, namun jangan khawatir dengan kualitasnya, pasti oke pokoknya. Nah, asiknya lagi disini kita juga dapat mencoba memainkan angklung yang ada di Galery Saung Udjo sambil menanti pertunjukkan dimulai.
Hmm nampak depan aja uda asik gini suasananya

Nih Es lilin nya seger banget
Pukul 10.00 WIB pertunjukkan angklung pun dimulai, dibuka dengan pertunjukkan wayang golek selama 15 menit. Meskipun singkat namun tetap memukau. Ditengah pertujukkan, layar yang menutupi kaki sang dalang dibuka, jadi kami dapat melihat bagaimana sang dalang dengan cekatan memainkan tangan dan kakinya secara bersamaan untuk menggerakan boneka kayu dan memberikan efek music pada setiap adegannya.
Ini nih Si Cepot lagi beraksi
Setelah memukau penonton dengan pertunjukkan wayang golek dengan bahasa sunda yang kental, kini penonton dimanjakan dengan alunan beberapa lagu daerah Sunda. Tidak cukup sampai disitu saja keseruan yang disajikan, penonton dibuat terpukau ketika anak-anak kecil berusia 2 hingga 8 tahun muncul dari belakang panggung dan kemudian menari di tengah panggung diikuti beberapa remaja memainkan angklung, beberapa diantaranya tampak menandu anak kecil yang mengenakan pakain khas sunda dan memakai sarung. Pertunjukkan tersebut merupakan gambaran upacara selamatan bagi anak kecil yang baru saja disunat.
Belum hilang rasa gemas para penonton terhadap anak-anak kecil yang menari diatas panggung. Kini penonton disuguhi sajian lagu-lagu daerah dari seluruh nusantara yang dimainkan oleh seluruh siswa di Saung Udjo, kolaborasi antara siswa Junior dan Senior. Penonton ikut bernyanyi bersama alunan merdu dari Angklung yang dimainkan tanpa teks tersebut.
Gemes deh
Selesai dengan lagu daerah Nusantara, kini penonton dihajar dengan alunan lagu bernada diatonis, beberapa lagu pop dan dangdut di sajikan, sang MC pun ikut menyanyi bersama penonton. Puas bernyanyi, kini saatnya penonton mencoba belajar memainkan Angklung. Putra-putri Sunda mulai membagikan Angklung kepada peserta.
Pelajaran pertama, penonton diajarkan bagaimana cara memegang Angklung dengan benar. Dilanjutkan dengan cara membunyikan Angklung. Tidak kalah menarik lagi ketika penonton diajak untuk memainkan lagu sederhana, setiap Angklung yang dipegang oleh penonton ternyata memiliki nomor, nomor pada angklung menunjukkan nada yang dimiliki oleh Angklung tersebut. Teh Katty yang merupakan MC pada pertunjukkan kali ini, memberikan kode dengan tangan untuk memainkan lagu Ibu kita Kartini. Teh Katty yang sudah belajar Angklung selama 17 tahun ini, terlihat sangat fasih memberikan kode bagi penonton saat memainkan lagu I Have a Dream dan Ada Apa Denganmu.
Teh Katty, MC kita yang cantik
Pertunjukkan pagi itu ditutup dengan menyanyikan lagu dangdut yang membuat seluruh penonton turun memadati panggung untuk bergoyang dan bernyanyi bersama. Sungguh sebuah pertujukkan yang sangat hebat, keren, WOW banget, kebangetan bagusnya.
Salah satu hal yang membuat saya salut,pertunjukkan di Angklung Udjo ini sudah di desain sedemikian rupa sehingga tidak terkesan jadul, sisi modern tetap diangkat dengan mendaulat MC yang memiliki public speaking yang keren dan kemampuan berbahasa inggris yang ga perlu diragukan lagi, kesan tradisional diangkat lewat wardrobe yang dikenakan oleh MC dan penampil lainnya. ga heran kalo Saung Udjo ini uda meraih prestasi tingkat Internasional.
Tuh kan, tumplek bleg dipanggung
Hal lain yang membuat saya menjadi lebih kagum lagi adalah, siswa di sanggar ini terdiri dari berbagai tingkatan usia, dari yang paling muda berumur 2 tahun hingga yang sudah dewasa seperti Teh Katty yang menjadi MC pada pertunjukkan kali. Ini baru saya sebut sebagai pelestarian budaya, apalagi siswa di sanggar ini rela untuk sekolah sore demi belajar budaya khas sunda ini di pagi harinya. Tampaknya Indonesia butuh lebih banyak generasi seperti mereka untuk mengangkat budaya Negeri ini.
Liburan Akhir Semester 7 (Part 1) : The Fabulous Trip
Well, tidak terasa liburan akhir semester ini berakhir juga, duh masih pengen liburan nih sebenernya *sambil nguselusel bantal. Awalnya sempat bingung, gimana caranya menghabiskan waktu liburan yang panjangnya minta ampun ini, biar ga berlalu begitu aja kaya tukang bakso yang lewat depan kosan pas saya ga punya duit. Yakali dua bulan dihabisin buat ngedate bareng proposal skripsi aja? Kan ga banget, bisa-bisa mabok huruf, terus kantong mata berasa diisi beras setengah kilo.
Pucuk dicinta, ulat pun tiba, eh salah ulam pun tiba maksudnya. Ditengah kepenatan saya mengutak-atik proposal skripsi, yang setiap kali saya utak-atik nanti pasti dicorat-coret asik oleh ibu dosen, datanglah sebuah tawaran yang sungguh membuat saya yakin untuk bilang, YES I DO. Bukan ko, bukan diajakin nikah hehe. Tawaran menarik yang saya maksud adalah, tawaran untuk ikut tour Jakarta-Bandung sebagai travel nurse yang berlangsung dari tanggal 20 – 24 januari lalu.
Ini adalah job pertama yang saya terima selama lebih kurang 2 bulan menjadi freelancer di Diponegoro Travel Nurse (DTN). Kenapa saya bilang tawaran ini sangat menarik? Jawabannya simple karena saya bisa JALAN-JALAN sambil BELAJAR dan GRATIS pula, jujur saja ini saya banget heuheuheu. Nah, dalam tour ini saya bertanggung jawab terhadap kesehatan peserta tour, Tour Leader (TL), Driver, Co Driver dan tentunya diri saya sendiri selama tour berlangsung. Peran saya disini lebih mengarah pada promotif dan preventif, jadi bagaimana saya bisa membantu seluruh penghuni bus untuk tetap dalam kondisi yang sehat dan nyaman selama menempuh perjalanan jauh. Dua hari sebelum berangkat saya dan 4 orang travel nurse lainnya melakukan general assessment pada calon peserta tour kita.

Travel Nurses
Tour kali ini, saya bersama 3 orang kru lainnya yaitu mbak Lia(TL) dari Khatulistiwa Tour&Travel, Pak Budi (Driver) dan Pak Waluyo (Co Driver), menempuh perjalanan Jakarta- Bandung bersama Po. Barito dari Wonosobo. Kami berangkat dari Semarang pukul 14.00 WIB bersama 4 bus lainnya.

Si Hijau Barito
Keseruan dan tantangan dimulai ketika bus mulai melaju meninggalkan kota Semarang. Setelah mbak Lia memperkenalkan diri dan menjelaskan beberapa hal kepada peserta tour, sekarang giliran saya yang bekerja. Diawal perjalan, saya membagikan beberapa tips sehat selama perjalanan kepada peserta tour. Sempet grogi banget di awal perjalanan dan saya harus berdiri didepan para peserta tour saat bus mulai berlari di jalan tol, apalagi saya punya masalah besar ketika speech, suara saya getar. Huuft akhirnya tugas pertama mulus, meski kata mbak Lia tips yang saya sampaikan terlalu panjang, tapi untungnya pesertanya merhatiin. Hehehe satu keuntungan yang saya dapatkan, saya dapet lahan untuk berlatih public speaking, GRATIS, dengan mbak Lia sebagai komentatornya :p
Well, setelah menempuh perjalanan lebih dari 12 jam lamanya, akhirnya kami sampai di Jakarta. Rombongan kami transit sementara di Asrama Haji Pondok Gedhe untuk selanjutnya bertolak ke Jakarta Selatan. Nah disini nih saya dapet tantangan pertama, pagi-pagi buta sebelum sarapan para peserta tour uda pada beli jamu gendong di depan asrama haji. Mulai bingung saya, mau diingetin saya ga enak sama ibu yang jualan jamu gendong, mau dibiarin saya takut perutnya anak-anak bermasalah. Oke, akhirnya saya putuskan untuk berdoa agar yang beli jamu ga makin banyak hehe. Baru setelah kami bertolak ke Jakarta untuk menuju ke Kantor Asuransi Wahana Tata untuk melakukan kunjungan yang pertama, saya mencoba masuk untuk ‘memperingatkan’ peserta tour yang tadi pagi minum jamu untuk lebih berhati-hati dengan kondisi pencernaan mereka. Beberapa peserta juga mulai mengeluh kembung, nyeri leher dan mual.
Perjalanan menuju Jakarta Selatan cukup melelahkan, macet dimana-mana, kebetulan Kantor Asuransi Wahana Tata terletak di pusat perkantoran bersama dengan kantor Kemenkes,Kemenhumkam, KPK dan instansi pemerintahan lainnya. Jujur saya pusing menikmati kemacetan Jakarta yang dibubuhi manusia yang betebaran dimana-mana, crowded nya kebangetan.

Nih Kebangetan Padetnya
Kunjungan pertama selesai, disini saya belajar bagaimana sebuah perusahaan asuransi berproses, bagaimana sebuah perusahaan dan Negara tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya perusahaan asuransi juga saya dapatkan dari kunjungan kali ini. Asik kan? GRATIS pula hehe. Kunjungan selanjutnya adalah Jakarta City Galery yang terletak di kawasan Monas. Kali ini saya ga ikut masuk, nemenin pak waluyo sama pak budi di bus, ngobrol-ngobrol seru.
Saatnya bertolak ke Bandung, untuk melajutkan tour kita ke Saung Udjo Bandung, Gedung Sate, Cihampelas, Trans Studio Mall, dan Cibaduyut. Makan malam kali ini kita makan di salah satu rumah makan yang terletak di kawasan Cileunyi. Satu lagi yang membuat saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya ini, karena saya dianggap sebagai kru, jadi saya makan di ruang kru, disini kita bisa makan sebanyak mungkin, GRATIS hehehe.
Pukul 21.30 kami sampai di hotel, kami belum bisa langsung tidur sebelum mengecek kondisi peserta tour lewat pesawat telepon. Baru setelah semua kamar kita telepon kami baru bisa tidur, tapi saya ketiduran duluan hehe.
Selamat pagi Bandung, yuk sarapan dulu. Restoran di hotel yang kami tempati lumayan cozy, kami sarapan di pinggir kolam renang. Setelah sarapan, kami menuju ke Saung Angklung Udjo untuk menikmati pertunjukkan Angklung dan belajar bermain Angklung, dan lagi lagi GRATIS untuk saya dan kru lainnya. Keseruan selama di Saung Angklung Udjo bakalan saya bagi di postingan saya selanjutnya.

Sarapan pun Masih tetep Ngutek-utek Obat
Perjalanan di bandung masih panjang, tujuan kita selanjutnya ke Gedung Sate dan ke Cihampelastapi sayangnya pas kami sampai di Cihampelas hujan deras mengguyur Bandung dan ada peserta di bus saya yang sakit, tapi kami masih sempet ko muter-muter cihampelas tapi ga sempet masuk ke Ciwalk. Pukul 20.00 WIB kami menuju ke Hotel untuk makan malam dan istirahat, sebelum sampai di hotel saya menyarankan kepada peserta tour yang tadi kehujanan untuk segara keramas sesampai di hotel biar ga pusing. Makan malam saya kali ini harus tertunda karena ada peserta yang sakit. Pukul 00.00 saya baru bisa merebahkan badan.

Di Gedung Sate, Duh Udah Berantakan
Pagi kedua sekaligus pagi terakhir di kota Bandung. Hari ini kita akan menikmati wahana di Trans Studio Bandung, sayangnya disini saya ga dapet gratisan, tapi gapapa toh kalo saya masuk saya juga ga akan berani naik apapun hehe. Sebelum peserta masuk ke arena Trans Studio saya kembali memberikan tips sehat agar peserta tidak muntah selama bermain wahana ekstrim.

Ga Jadi Masuk Gapapa yang Penting Pernah Foto Disini
Yuk merapat ke cibaduyut, ini tempat perbelanjaan terakhir yang kita kunjungi di Bandung. Ada peserta yang sakit di bus saya, jadi saya harus merawat mereka dulu, setelah mereka merasa lebih baik saya menyempatkan membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah.
Cibaduyut selesai, saatnya menuju Semarang, nah ini nih Gongnya di akhir perjalanan ada kasus luar biasa yang mengharuskan saya pindah ke bus Siti, ada peserta yang sakit. Tak disangka-sangka peserta ini digangguin jin. Yah mungkin lain kali ga Cuma travel Nurse yang dibutuhkan tapi juga Travel Paranormal hehe.
Seru sekali perjalanan kali ini, kalau di klinik atau rumah sakit saya menangani pasien yang sakit dan tentunya dengan alat dan obat-obatan yang lengkap, nah kalau di perjalanan kali ini saya menjaga peserta yang sehat selama di perjalanan. Kasus yang ditemui pun lebih tak terduga. Overall saya suka perjalanan kali ini, saya bisa memuaskan hobi saya jalan-jalan, belajar menjadi perawat dengan lahan yang sangat menantang, dan juga menambah pengalaman baru untuk saya. It was a Fabulous Trip, Love it.
Pucuk dicinta, ulat pun tiba, eh salah ulam pun tiba maksudnya. Ditengah kepenatan saya mengutak-atik proposal skripsi, yang setiap kali saya utak-atik nanti pasti dicorat-coret asik oleh ibu dosen, datanglah sebuah tawaran yang sungguh membuat saya yakin untuk bilang, YES I DO. Bukan ko, bukan diajakin nikah hehe. Tawaran menarik yang saya maksud adalah, tawaran untuk ikut tour Jakarta-Bandung sebagai travel nurse yang berlangsung dari tanggal 20 – 24 januari lalu.
Ini adalah job pertama yang saya terima selama lebih kurang 2 bulan menjadi freelancer di Diponegoro Travel Nurse (DTN). Kenapa saya bilang tawaran ini sangat menarik? Jawabannya simple karena saya bisa JALAN-JALAN sambil BELAJAR dan GRATIS pula, jujur saja ini saya banget heuheuheu. Nah, dalam tour ini saya bertanggung jawab terhadap kesehatan peserta tour, Tour Leader (TL), Driver, Co Driver dan tentunya diri saya sendiri selama tour berlangsung. Peran saya disini lebih mengarah pada promotif dan preventif, jadi bagaimana saya bisa membantu seluruh penghuni bus untuk tetap dalam kondisi yang sehat dan nyaman selama menempuh perjalanan jauh. Dua hari sebelum berangkat saya dan 4 orang travel nurse lainnya melakukan general assessment pada calon peserta tour kita.

Travel Nurses
Tour kali ini, saya bersama 3 orang kru lainnya yaitu mbak Lia(TL) dari Khatulistiwa Tour&Travel, Pak Budi (Driver) dan Pak Waluyo (Co Driver), menempuh perjalanan Jakarta- Bandung bersama Po. Barito dari Wonosobo. Kami berangkat dari Semarang pukul 14.00 WIB bersama 4 bus lainnya.
Si Hijau Barito
Keseruan dan tantangan dimulai ketika bus mulai melaju meninggalkan kota Semarang. Setelah mbak Lia memperkenalkan diri dan menjelaskan beberapa hal kepada peserta tour, sekarang giliran saya yang bekerja. Diawal perjalan, saya membagikan beberapa tips sehat selama perjalanan kepada peserta tour. Sempet grogi banget di awal perjalanan dan saya harus berdiri didepan para peserta tour saat bus mulai berlari di jalan tol, apalagi saya punya masalah besar ketika speech, suara saya getar. Huuft akhirnya tugas pertama mulus, meski kata mbak Lia tips yang saya sampaikan terlalu panjang, tapi untungnya pesertanya merhatiin. Hehehe satu keuntungan yang saya dapatkan, saya dapet lahan untuk berlatih public speaking, GRATIS, dengan mbak Lia sebagai komentatornya :p
Well, setelah menempuh perjalanan lebih dari 12 jam lamanya, akhirnya kami sampai di Jakarta. Rombongan kami transit sementara di Asrama Haji Pondok Gedhe untuk selanjutnya bertolak ke Jakarta Selatan. Nah disini nih saya dapet tantangan pertama, pagi-pagi buta sebelum sarapan para peserta tour uda pada beli jamu gendong di depan asrama haji. Mulai bingung saya, mau diingetin saya ga enak sama ibu yang jualan jamu gendong, mau dibiarin saya takut perutnya anak-anak bermasalah. Oke, akhirnya saya putuskan untuk berdoa agar yang beli jamu ga makin banyak hehe. Baru setelah kami bertolak ke Jakarta untuk menuju ke Kantor Asuransi Wahana Tata untuk melakukan kunjungan yang pertama, saya mencoba masuk untuk ‘memperingatkan’ peserta tour yang tadi pagi minum jamu untuk lebih berhati-hati dengan kondisi pencernaan mereka. Beberapa peserta juga mulai mengeluh kembung, nyeri leher dan mual.
Perjalanan menuju Jakarta Selatan cukup melelahkan, macet dimana-mana, kebetulan Kantor Asuransi Wahana Tata terletak di pusat perkantoran bersama dengan kantor Kemenkes,Kemenhumkam, KPK dan instansi pemerintahan lainnya. Jujur saya pusing menikmati kemacetan Jakarta yang dibubuhi manusia yang betebaran dimana-mana, crowded nya kebangetan.
Nih Kebangetan Padetnya
Kunjungan pertama selesai, disini saya belajar bagaimana sebuah perusahaan asuransi berproses, bagaimana sebuah perusahaan dan Negara tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya perusahaan asuransi juga saya dapatkan dari kunjungan kali ini. Asik kan? GRATIS pula hehe. Kunjungan selanjutnya adalah Jakarta City Galery yang terletak di kawasan Monas. Kali ini saya ga ikut masuk, nemenin pak waluyo sama pak budi di bus, ngobrol-ngobrol seru.
Saatnya bertolak ke Bandung, untuk melajutkan tour kita ke Saung Udjo Bandung, Gedung Sate, Cihampelas, Trans Studio Mall, dan Cibaduyut. Makan malam kali ini kita makan di salah satu rumah makan yang terletak di kawasan Cileunyi. Satu lagi yang membuat saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya ini, karena saya dianggap sebagai kru, jadi saya makan di ruang kru, disini kita bisa makan sebanyak mungkin, GRATIS hehehe.
Pukul 21.30 kami sampai di hotel, kami belum bisa langsung tidur sebelum mengecek kondisi peserta tour lewat pesawat telepon. Baru setelah semua kamar kita telepon kami baru bisa tidur, tapi saya ketiduran duluan hehe.
Selamat pagi Bandung, yuk sarapan dulu. Restoran di hotel yang kami tempati lumayan cozy, kami sarapan di pinggir kolam renang. Setelah sarapan, kami menuju ke Saung Angklung Udjo untuk menikmati pertunjukkan Angklung dan belajar bermain Angklung, dan lagi lagi GRATIS untuk saya dan kru lainnya. Keseruan selama di Saung Angklung Udjo bakalan saya bagi di postingan saya selanjutnya.
Sarapan pun Masih tetep Ngutek-utek Obat
Perjalanan di bandung masih panjang, tujuan kita selanjutnya ke Gedung Sate dan ke Cihampelastapi sayangnya pas kami sampai di Cihampelas hujan deras mengguyur Bandung dan ada peserta di bus saya yang sakit, tapi kami masih sempet ko muter-muter cihampelas tapi ga sempet masuk ke Ciwalk. Pukul 20.00 WIB kami menuju ke Hotel untuk makan malam dan istirahat, sebelum sampai di hotel saya menyarankan kepada peserta tour yang tadi kehujanan untuk segara keramas sesampai di hotel biar ga pusing. Makan malam saya kali ini harus tertunda karena ada peserta yang sakit. Pukul 00.00 saya baru bisa merebahkan badan.
Di Gedung Sate, Duh Udah Berantakan
Pagi kedua sekaligus pagi terakhir di kota Bandung. Hari ini kita akan menikmati wahana di Trans Studio Bandung, sayangnya disini saya ga dapet gratisan, tapi gapapa toh kalo saya masuk saya juga ga akan berani naik apapun hehe. Sebelum peserta masuk ke arena Trans Studio saya kembali memberikan tips sehat agar peserta tidak muntah selama bermain wahana ekstrim.

Ga Jadi Masuk Gapapa yang Penting Pernah Foto Disini
Yuk merapat ke cibaduyut, ini tempat perbelanjaan terakhir yang kita kunjungi di Bandung. Ada peserta yang sakit di bus saya, jadi saya harus merawat mereka dulu, setelah mereka merasa lebih baik saya menyempatkan membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah.
Cibaduyut selesai, saatnya menuju Semarang, nah ini nih Gongnya di akhir perjalanan ada kasus luar biasa yang mengharuskan saya pindah ke bus Siti, ada peserta yang sakit. Tak disangka-sangka peserta ini digangguin jin. Yah mungkin lain kali ga Cuma travel Nurse yang dibutuhkan tapi juga Travel Paranormal hehe.
Seru sekali perjalanan kali ini, kalau di klinik atau rumah sakit saya menangani pasien yang sakit dan tentunya dengan alat dan obat-obatan yang lengkap, nah kalau di perjalanan kali ini saya menjaga peserta yang sehat selama di perjalanan. Kasus yang ditemui pun lebih tak terduga. Overall saya suka perjalanan kali ini, saya bisa memuaskan hobi saya jalan-jalan, belajar menjadi perawat dengan lahan yang sangat menantang, dan juga menambah pengalaman baru untuk saya. It was a Fabulous Trip, Love it.
Friday, February 22, 2013
Dear You
Aku menulis ini, kalau-kalau kamu menyempatkan untuk berkunjung ke sini. Hey! Atau mungkin selama ini kamu terus berkunjung kesini dan menanti tulisanku? Haha aku hanya bergurau, aku tahu itu tidak mungkin kamu lakukan.
Apa kabar? Setidaknya aku tahu kamu baik-baik saja, tapi aku tidak tahu apa yang menjadi kesibukanmu akhir-akhir ini. Mungkin menurutmu, aku tidak perlu tahu apa kesibukanmu. Terang saja, nanti kalau aku tahu semuanya bisa jadi aku semakin bawel mengingatkanmu untuk tidak tidur terlalu malam, makan tepat waktu, menjaga kesehatan, yang belakangan aku tahu, hal itu mengganggumu. Haha maafkan aku untuk hal itu.
Oiya, kemarin waktu aku pulang, aku terpaksa harus berjalan sejauh lima kilometer tapi untungnya ada tetangga yang menawariku untuk membonceng dia saat jarakku dari rumah sudah sekitar 500 meter lagi, haha ini tidak penting ya? Eh tapi dia menanyakan kabarmu, aku juga tidak tahu harus menjawab bagaimana, aku jawab sekenaku saja hehe. Aku katakan bahwa kamu sudah lulus dan sekarang sudah tinggal dirumah. Tenang saja aku hanya memberikan jawaban itu saja ko tidak lebih.
Satu lagi, tolong samapaikan maafku untuk ibu. Aku dengar kemarin waktu kamu mengantarkanku pergi, ibu sempat melarangmu karena kamu sedang lelah. Tapi karena rasa tidak enakmu kepadaku kamu nekat pergi. Besok- besok lagi, tidak usah memaksakan diri. Seperti yang sering kamu katakan, bahwa itu bukan kewajibanmu. Lagipula aku sudah dewasa kok, kalaupun aku tersesat aku pasti bisa pulang sendiri hehe. Jangan hiraukan lagi kalau aku bilang aku tidak ada yang mengantarkan, tidak ada yang menjemput atau bahkan aku takut tersesat, sekarang aku paham itu bukan kewajibanmu.
Terimakasih untuk semuanya. Jaga diri baik-baik ya, jangan telat makan, jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatan juga ya. Haha, aku mulai bawel lagi, maaf.
*saya tau laki-laki sering tidak peka, tolong dicerna diksi yg saya pakai disini
Apa kabar? Setidaknya aku tahu kamu baik-baik saja, tapi aku tidak tahu apa yang menjadi kesibukanmu akhir-akhir ini. Mungkin menurutmu, aku tidak perlu tahu apa kesibukanmu. Terang saja, nanti kalau aku tahu semuanya bisa jadi aku semakin bawel mengingatkanmu untuk tidak tidur terlalu malam, makan tepat waktu, menjaga kesehatan, yang belakangan aku tahu, hal itu mengganggumu. Haha maafkan aku untuk hal itu.
Oiya, kemarin waktu aku pulang, aku terpaksa harus berjalan sejauh lima kilometer tapi untungnya ada tetangga yang menawariku untuk membonceng dia saat jarakku dari rumah sudah sekitar 500 meter lagi, haha ini tidak penting ya? Eh tapi dia menanyakan kabarmu, aku juga tidak tahu harus menjawab bagaimana, aku jawab sekenaku saja hehe. Aku katakan bahwa kamu sudah lulus dan sekarang sudah tinggal dirumah. Tenang saja aku hanya memberikan jawaban itu saja ko tidak lebih.
Satu lagi, tolong samapaikan maafku untuk ibu. Aku dengar kemarin waktu kamu mengantarkanku pergi, ibu sempat melarangmu karena kamu sedang lelah. Tapi karena rasa tidak enakmu kepadaku kamu nekat pergi. Besok- besok lagi, tidak usah memaksakan diri. Seperti yang sering kamu katakan, bahwa itu bukan kewajibanmu. Lagipula aku sudah dewasa kok, kalaupun aku tersesat aku pasti bisa pulang sendiri hehe. Jangan hiraukan lagi kalau aku bilang aku tidak ada yang mengantarkan, tidak ada yang menjemput atau bahkan aku takut tersesat, sekarang aku paham itu bukan kewajibanmu.
Terimakasih untuk semuanya. Jaga diri baik-baik ya, jangan telat makan, jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatan juga ya. Haha, aku mulai bawel lagi, maaf.
*saya tau laki-laki sering tidak peka, tolong dicerna diksi yg saya pakai disini
Subscribe to:
Posts (Atom)