Thursday, February 28, 2013

Liburan Akhir Semester 7 (Part 2) : Saung Udjo, Budaya Nusantara yang Mendunia.

Episode kali ini, ciyeeh episode, berasa lagi nonton tukang haji naik bubur *lhoh eh, yap di episode liburan kali ini saya masih di kerumuni gratisan dimana-mana, masih termasuk didalam rangkaian tour Jakarta-Bandung.
Saung Udjo. Pertama kali mendengar nama tempat ini, saya pikir semacam rumah makan, haha emang dasarnya saya hobi makan yang ada di pikiran makanan mulu. Saya baru paham setelah mbak Lia menjelaskan kepada peserta bahwa Saung Udjo merupakan sebuah sanggar budaya yang menjadikan budaya Sunda khususnya Angklung sebagai daya tarik utama. Didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati, dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda. Mendengar penjelasan mbak Lia, saya jadi ga sabar untuk segera sampai di Saung Angklung Udjo dan melihat pertunjukkan alat music khas sunda ini. Akhirnya kami sampai di Saung Angklung Udjo, setelah menempuh perjalanan selama 45menit dari hotel tempat kami menginap. Meskipun terletak di sebuah gang sempit yaitu di jalan Padasuka 118, Bandung Timur, Saung Angklung Udjo ini tetap ramai pengunjung.

Begitu sampai di Saung Angklung Udjo, kami disambut dengan lingkungan asri yang disekitarnya ditumbuhi bambu-bambu hias. Suasana di Saung Udjo ini benar-benar membuat saya merasa adem, sejuk sekali rasanya dikelilingi pohon bambu dan beberapa pohon rimbun lainnya. Sambil menanti pertunjukkan yang akan dimulai pukul 10.00 WIB pengunjung dibagikan es lilin aneka rasa, dan lagi- lagi gratis hehe. Pengunjung juga dapat membeli oleh-oleh di Saung Udjo ini, untuk harga memang dibandrol agak tinggi, namun jangan khawatir dengan kualitasnya, pasti oke pokoknya. Nah, asiknya lagi disini kita juga dapat mencoba memainkan angklung yang ada di Galery Saung Udjo sambil menanti pertunjukkan dimulai.


Hmm nampak depan aja uda asik gini suasananya


Nih Es lilin nya seger banget

Pukul 10.00 WIB pertunjukkan angklung pun dimulai, dibuka dengan pertunjukkan wayang golek selama 15 menit. Meskipun singkat namun tetap memukau. Ditengah pertujukkan, layar yang menutupi kaki sang dalang dibuka, jadi kami dapat melihat bagaimana sang dalang dengan cekatan memainkan tangan dan kakinya secara bersamaan untuk menggerakan boneka kayu dan memberikan efek music pada setiap adegannya.


Ini nih Si Cepot lagi beraksi

Setelah memukau penonton dengan pertunjukkan wayang golek dengan bahasa sunda yang kental, kini penonton dimanjakan dengan alunan beberapa lagu daerah Sunda. Tidak cukup sampai disitu saja keseruan yang disajikan, penonton dibuat terpukau ketika anak-anak kecil berusia 2 hingga 8 tahun muncul dari belakang panggung dan kemudian menari di tengah panggung diikuti beberapa remaja memainkan angklung, beberapa diantaranya tampak menandu anak kecil yang mengenakan pakain khas sunda dan memakai sarung. Pertunjukkan tersebut merupakan gambaran upacara selamatan bagi anak kecil yang baru saja disunat.
Belum hilang rasa gemas para penonton terhadap anak-anak kecil yang menari diatas panggung. Kini penonton disuguhi sajian lagu-lagu daerah dari seluruh nusantara yang dimainkan oleh seluruh siswa di Saung Udjo, kolaborasi antara siswa Junior dan Senior. Penonton ikut bernyanyi bersama alunan merdu dari Angklung yang dimainkan tanpa teks tersebut.


Gemes deh



Selesai dengan lagu daerah Nusantara, kini penonton dihajar dengan alunan lagu bernada diatonis, beberapa lagu pop dan dangdut di sajikan, sang MC pun ikut menyanyi bersama penonton. Puas bernyanyi, kini saatnya penonton mencoba belajar memainkan Angklung. Putra-putri Sunda mulai membagikan Angklung kepada peserta.
Pelajaran pertama, penonton diajarkan bagaimana cara memegang Angklung dengan benar. Dilanjutkan dengan cara membunyikan Angklung. Tidak kalah menarik lagi ketika penonton diajak untuk memainkan lagu sederhana, setiap Angklung yang dipegang oleh penonton ternyata memiliki nomor, nomor pada angklung menunjukkan nada yang dimiliki oleh Angklung tersebut. Teh Katty yang merupakan MC pada pertunjukkan kali ini, memberikan kode dengan tangan untuk memainkan lagu Ibu kita Kartini. Teh Katty yang sudah belajar Angklung selama 17 tahun ini, terlihat sangat fasih memberikan kode bagi penonton saat memainkan lagu I Have a Dream dan Ada Apa Denganmu.


Teh Katty, MC kita yang cantik

Pertunjukkan pagi itu ditutup dengan menyanyikan lagu dangdut yang membuat seluruh penonton turun memadati panggung untuk bergoyang dan bernyanyi bersama. Sungguh sebuah pertujukkan yang sangat hebat, keren, WOW banget, kebangetan bagusnya.
Salah satu hal yang membuat saya salut,pertunjukkan di Angklung Udjo ini sudah di desain sedemikian rupa sehingga tidak terkesan jadul, sisi modern tetap diangkat dengan mendaulat MC yang memiliki public speaking yang keren dan kemampuan berbahasa inggris yang ga perlu diragukan lagi, kesan tradisional diangkat lewat wardrobe yang dikenakan oleh MC dan penampil lainnya. ga heran kalo Saung Udjo ini uda meraih prestasi tingkat Internasional.


Tuh kan, tumplek bleg dipanggung

Hal lain yang membuat saya menjadi lebih kagum lagi adalah, siswa di sanggar ini terdiri dari berbagai tingkatan usia, dari yang paling muda berumur 2 tahun hingga yang sudah dewasa seperti Teh Katty yang menjadi MC pada pertunjukkan kali. Ini baru saya sebut sebagai pelestarian budaya, apalagi siswa di sanggar ini rela untuk sekolah sore demi belajar budaya khas sunda ini di pagi harinya. Tampaknya Indonesia butuh lebih banyak generasi seperti mereka untuk mengangkat budaya Negeri ini.

Liburan Akhir Semester 7 (Part 1) : The Fabulous Trip

Well, tidak terasa liburan akhir semester ini berakhir juga, duh masih pengen liburan nih sebenernya *sambil nguselusel bantal. Awalnya sempat bingung, gimana caranya menghabiskan waktu liburan yang panjangnya minta ampun ini, biar ga berlalu begitu aja kaya tukang bakso yang lewat depan kosan pas saya ga punya duit. Yakali dua bulan dihabisin buat ngedate bareng proposal skripsi aja? Kan ga banget, bisa-bisa mabok huruf, terus kantong mata berasa diisi beras setengah kilo.

Pucuk dicinta, ulat pun tiba, eh salah ulam pun tiba maksudnya. Ditengah kepenatan saya mengutak-atik proposal skripsi, yang setiap kali saya utak-atik nanti pasti dicorat-coret asik oleh ibu dosen, datanglah sebuah tawaran yang sungguh membuat saya yakin untuk bilang, YES I DO. Bukan ko, bukan diajakin nikah hehe. Tawaran menarik yang saya maksud adalah, tawaran untuk ikut tour Jakarta-Bandung sebagai travel nurse yang berlangsung dari tanggal 20 – 24 januari lalu.

Ini adalah job pertama yang saya terima selama lebih kurang 2 bulan menjadi freelancer di Diponegoro Travel Nurse (DTN). Kenapa saya bilang tawaran ini sangat menarik? Jawabannya simple karena saya bisa JALAN-JALAN sambil BELAJAR dan GRATIS pula, jujur saja ini saya banget heuheuheu. Nah, dalam tour ini saya bertanggung jawab terhadap kesehatan peserta tour, Tour Leader (TL), Driver, Co Driver dan tentunya diri saya sendiri selama tour berlangsung. Peran saya disini lebih mengarah pada promotif dan preventif, jadi bagaimana saya bisa membantu seluruh penghuni bus untuk tetap dalam kondisi yang sehat dan nyaman selama menempuh perjalanan jauh. Dua hari sebelum berangkat saya dan 4 orang travel nurse lainnya melakukan general assessment pada calon peserta tour kita.


Travel Nurses

Tour kali ini, saya bersama 3 orang kru lainnya yaitu mbak Lia(TL) dari Khatulistiwa Tour&Travel, Pak Budi (Driver) dan Pak Waluyo (Co Driver), menempuh perjalanan Jakarta- Bandung bersama Po. Barito dari Wonosobo. Kami berangkat dari Semarang pukul 14.00 WIB bersama 4 bus lainnya.


Si Hijau Barito

Keseruan dan tantangan dimulai ketika bus mulai melaju meninggalkan kota Semarang. Setelah mbak Lia memperkenalkan diri dan menjelaskan beberapa hal kepada peserta tour, sekarang giliran saya yang bekerja. Diawal perjalan, saya membagikan beberapa tips sehat selama perjalanan kepada peserta tour. Sempet grogi banget di awal perjalanan dan saya harus berdiri didepan para peserta tour saat bus mulai berlari di jalan tol, apalagi saya punya masalah besar ketika speech, suara saya getar. Huuft akhirnya tugas pertama mulus, meski kata mbak Lia tips yang saya sampaikan terlalu panjang, tapi untungnya pesertanya merhatiin. Hehehe satu keuntungan yang saya dapatkan, saya dapet lahan untuk berlatih public speaking, GRATIS, dengan mbak Lia sebagai komentatornya :p

Well, setelah menempuh perjalanan lebih dari 12 jam lamanya, akhirnya kami sampai di Jakarta. Rombongan kami transit sementara di Asrama Haji Pondok Gedhe untuk selanjutnya bertolak ke Jakarta Selatan. Nah disini nih saya dapet tantangan pertama, pagi-pagi buta sebelum sarapan para peserta tour uda pada beli jamu gendong di depan asrama haji. Mulai bingung saya, mau diingetin saya ga enak sama ibu yang jualan jamu gendong, mau dibiarin saya takut perutnya anak-anak bermasalah. Oke, akhirnya saya putuskan untuk berdoa agar yang beli jamu ga makin banyak hehe. Baru setelah kami bertolak ke Jakarta untuk menuju ke Kantor Asuransi Wahana Tata untuk melakukan kunjungan yang pertama, saya mencoba masuk untuk ‘memperingatkan’ peserta tour yang tadi pagi minum jamu untuk lebih berhati-hati dengan kondisi pencernaan mereka. Beberapa peserta juga mulai mengeluh kembung, nyeri leher dan mual.

Perjalanan menuju Jakarta Selatan cukup melelahkan, macet dimana-mana, kebetulan Kantor Asuransi Wahana Tata terletak di pusat perkantoran bersama dengan kantor Kemenkes,Kemenhumkam, KPK dan instansi pemerintahan lainnya. Jujur saya pusing menikmati kemacetan Jakarta yang dibubuhi manusia yang betebaran dimana-mana, crowded nya kebangetan.


Nih Kebangetan Padetnya

Kunjungan pertama selesai, disini saya belajar bagaimana sebuah perusahaan asuransi berproses, bagaimana sebuah perusahaan dan Negara tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya perusahaan asuransi juga saya dapatkan dari kunjungan kali ini. Asik kan? GRATIS pula hehe. Kunjungan selanjutnya adalah Jakarta City Galery yang terletak di kawasan Monas. Kali ini saya ga ikut masuk, nemenin pak waluyo sama pak budi di bus, ngobrol-ngobrol seru.

Saatnya bertolak ke Bandung, untuk melajutkan tour kita ke Saung Udjo Bandung, Gedung Sate, Cihampelas, Trans Studio Mall, dan Cibaduyut. Makan malam kali ini kita makan di salah satu rumah makan yang terletak di kawasan Cileunyi. Satu lagi yang membuat saya jatuh cinta dengan pekerjaan saya ini, karena saya dianggap sebagai kru, jadi saya makan di ruang kru, disini kita bisa makan sebanyak mungkin, GRATIS hehehe.
Pukul 21.30 kami sampai di hotel, kami belum bisa langsung tidur sebelum mengecek kondisi peserta tour lewat pesawat telepon. Baru setelah semua kamar kita telepon kami baru bisa tidur, tapi saya ketiduran duluan hehe.

Selamat pagi Bandung, yuk sarapan dulu. Restoran di hotel yang kami tempati lumayan cozy, kami sarapan di pinggir kolam renang. Setelah sarapan, kami menuju ke Saung Angklung Udjo untuk menikmati pertunjukkan Angklung dan belajar bermain Angklung, dan lagi lagi GRATIS untuk saya dan kru lainnya. Keseruan selama di Saung Angklung Udjo bakalan saya bagi di postingan saya selanjutnya.


Sarapan pun Masih tetep Ngutek-utek Obat

Perjalanan di bandung masih panjang, tujuan kita selanjutnya ke Gedung Sate dan ke Cihampelastapi sayangnya pas kami sampai di Cihampelas hujan deras mengguyur Bandung dan ada peserta di bus saya yang sakit, tapi kami masih sempet ko muter-muter cihampelas tapi ga sempet masuk ke Ciwalk. Pukul 20.00 WIB kami menuju ke Hotel untuk makan malam dan istirahat, sebelum sampai di hotel saya menyarankan kepada peserta tour yang tadi kehujanan untuk segara keramas sesampai di hotel biar ga pusing. Makan malam saya kali ini harus tertunda karena ada peserta yang sakit. Pukul 00.00 saya baru bisa merebahkan badan.


Di Gedung Sate, Duh Udah Berantakan

Pagi kedua sekaligus pagi terakhir di kota Bandung. Hari ini kita akan menikmati wahana di Trans Studio Bandung, sayangnya disini saya ga dapet gratisan, tapi gapapa toh kalo saya masuk saya juga ga akan berani naik apapun hehe. Sebelum peserta masuk ke arena Trans Studio saya kembali memberikan tips sehat agar peserta tidak muntah selama bermain wahana ekstrim.


Ga Jadi Masuk Gapapa yang Penting Pernah Foto Disini

Yuk merapat ke cibaduyut, ini tempat perbelanjaan terakhir yang kita kunjungi di Bandung. Ada peserta yang sakit di bus saya, jadi saya harus merawat mereka dulu, setelah mereka merasa lebih baik saya menyempatkan membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

Cibaduyut selesai, saatnya menuju Semarang, nah ini nih Gongnya di akhir perjalanan ada kasus luar biasa yang mengharuskan saya pindah ke bus Siti, ada peserta yang sakit. Tak disangka-sangka peserta ini digangguin jin. Yah mungkin lain kali ga Cuma travel Nurse yang dibutuhkan tapi juga Travel Paranormal hehe.

Seru sekali perjalanan kali ini, kalau di klinik atau rumah sakit saya menangani pasien yang sakit dan tentunya dengan alat dan obat-obatan yang lengkap, nah kalau di perjalanan kali ini saya menjaga peserta yang sehat selama di perjalanan. Kasus yang ditemui pun lebih tak terduga. Overall saya suka perjalanan kali ini, saya bisa memuaskan hobi saya jalan-jalan, belajar menjadi perawat dengan lahan yang sangat menantang, dan juga menambah pengalaman baru untuk saya. It was a Fabulous Trip, Love it.

Friday, February 22, 2013

Dear You

Aku menulis ini, kalau-kalau kamu menyempatkan untuk berkunjung ke sini. Hey! Atau mungkin selama ini kamu terus berkunjung kesini dan menanti tulisanku? Haha aku hanya bergurau, aku tahu itu tidak mungkin kamu lakukan.

Apa kabar? Setidaknya aku tahu kamu baik-baik saja, tapi aku tidak tahu apa yang menjadi kesibukanmu akhir-akhir ini. Mungkin menurutmu, aku tidak perlu tahu apa kesibukanmu. Terang saja, nanti kalau aku tahu semuanya bisa jadi aku semakin bawel mengingatkanmu untuk tidak tidur terlalu malam, makan tepat waktu, menjaga kesehatan, yang belakangan aku tahu, hal itu mengganggumu. Haha maafkan aku untuk hal itu.

Oiya, kemarin waktu aku pulang, aku terpaksa harus berjalan sejauh lima kilometer tapi untungnya ada tetangga yang menawariku untuk membonceng dia saat jarakku dari rumah sudah sekitar 500 meter lagi, haha ini tidak penting ya? Eh tapi dia menanyakan kabarmu, aku juga tidak tahu harus menjawab bagaimana, aku jawab sekenaku saja hehe. Aku katakan bahwa kamu sudah lulus dan sekarang sudah tinggal dirumah. Tenang saja aku hanya memberikan jawaban itu saja ko tidak lebih.

Satu lagi, tolong samapaikan maafku untuk ibu. Aku dengar kemarin waktu kamu mengantarkanku pergi, ibu sempat melarangmu karena kamu sedang lelah. Tapi karena rasa tidak enakmu kepadaku kamu nekat pergi. Besok- besok lagi, tidak usah memaksakan diri. Seperti yang sering kamu katakan, bahwa itu bukan kewajibanmu. Lagipula aku sudah dewasa kok, kalaupun aku tersesat aku pasti bisa pulang sendiri hehe. Jangan hiraukan lagi kalau aku bilang aku tidak ada yang mengantarkan, tidak ada yang menjemput atau bahkan aku takut tersesat, sekarang aku paham itu bukan kewajibanmu.

Terimakasih untuk semuanya. Jaga diri baik-baik ya, jangan telat makan, jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatan juga ya. Haha, aku mulai bawel lagi, maaf.

*saya tau laki-laki sering tidak peka, tolong dicerna diksi yg saya pakai disini

Thursday, January 31, 2013

Dear You

Dear you ..

kamu tau persis bahwa setiap kali aku bersandar di bahumu dan lalu aku terdiam begitu lama disitu, itu artinya aku sedang mendoakanmu, semua hal yang baik aku mintakan untukmu.

Aku paham betul sebagian besar mimpi-mimpimu, dan aku selalu menyebutnya satu-persatu di doaku untukmu. Aku memohon agar lelaki baik hati ini selalu dilimpahi kebahagiaan, terjaga selalu iman dan taqwanya, diberi kesehatan, diberi kemudahan dalam setiap langkah dan usahanyanya, dan lalu aku akan mengeja mimpimu satu persatu. Jadi aku harap kamu memaklumi jika aku sering berlama-lama di bahumu.

Ceritaku, senyumku dan peduliku, sepertinya kamu tidak pernah membutuhkan semua itu, jadi aku rasa hanya ini cara paling tepat dan paling sederhana untuk mencintaimu. Ya, setidaknya kamu tidak merasa terganggu dengan doa yang aku sampaikan kepadanya, daripada aku terus mengoceh memenuhi telingamu dengan cerita-ceritaku.

Sunday, January 13, 2013

Behind the scenes Kuliah Umum 10 Januari 2013


Pagi yang indah, awalnya. Jauh dari kerempongan, karena partner rempong saya si Desti sedang berselingkuh, dia rempong bersama Anis. Jadilah pagi saya damai, mengumpulkan revisian dengan damai pula.


mc dan moderator hasil tumbal destong

Jam makan siang, saya makan siang bersama Mitsa, masih tanpa Desti. Sambil menikmati nasi rames, saya dan Mitsa ngobrol santai, sampai pada satu obrolan yang membuat saya speechless.
“ Ciee yang jadi moderator.” Celetuk si Mitsong sambil nowel-nowel lengan saya.
“Moderator? Moderator apaan sih neng?”
“ Lhoh, kamu belum dikasih tau sama si Destong thon neng?” sampai disini, bulu kuduk saya mulai berdiri, ada perasaan tidak enak yang menghampiri saya, di situ, di perkataannya Mitsong, dia menyebut nama Desti.

Jadi berdasarkan cerita yang saya dengar dari Mitsa, kampus mau ngadain kuliah umum dengan pembicara yang W.O.W dari Ausie. Kemarin Anis dan Desti dipanggil untuk menemui Ibu Fitri yang meminta bantuan untuk membentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari sie registrasi, dokumentasi, MC dan Moderator. Bukan Destong namanya kalau ga ngebawa-bawa saya dan Mitsa, sementara dia (Red. Desti) jadi sie Registrasi sama Anis, Mitsa didaulat sebagai MC dan saya jadi Moderator. Saya pikir saya harus memimpin diskusi dengan bahasa inggris tapi alhamdulillahnya Ibu Sari Bui, orang Indonesia tulen.

“Gimana kalo kita tukeran aja?”, saya dan Mitsa mengucapkan kalimat tersebut hampir bersamaan saat bertemu dengan Desti dan Anis yang masih menampakkan sisa kerempongan di wajah mereka.
“Oh kalian mau tukeran, Mitsa jadi Moderator, Gendon jadi MC? Boleh-boleh”
Sumprit ya mukanya si Anis megeli banget mukanya waktu jawab pertanyaan saya dan Mitsa.
“Enggak gitu, kita tukeran aku sama gendon jadi sie Registrasi, kamu sama Destong jadi MC sama meoderator”
“Ouw, tidak bisa” Kali ini Destong menjawab dengan muka yang tidak kalah megeli.
Okelah proses negosiasi tidak berhasil, saya dan Mitsa kurang inovatif dalam melobi si Destong.


si MC lagi beraksi

Jadilah acara di mulai esok paginya. Mitsa berdiri dibelakang saya yang sedang sibuk menulis Riwayat pendidikan sang pembicara, tiba-tiba si Mitsa tertawa di belakang saya layaknya kuntilanak.
“Hey, kenapa song, ketawa-ketawa sendiri?”
“Gapapa, pengen ketawa aja”
Coba, gimana ga dahsyat tuh si Destong sampai bikin si Mitsa ketawa sendiri gitu.


sambutan dari kaprodi


ibu sari bui


moderator nampang


peserta bareng-bareng pembicara


ini nih bareng ibu sari

Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, meskipun saya sempat tremor diawal memipin diskusi. Tapi gapapa ko tong, pengalaman yang luar biasa, bisa jadi moderator seorang pembicara luar biasa seperti Ibu Sari Bui. Thanks ya tooong *peluk dan cium deh buat Destong .. :*

Sari Bui: Seorang Magister Manegement yang Berprofesi sebagai Registered Nurse di Melbourne




Kamis, 10 Januari 2013, Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Diponegoro, kembali menggelar sebuah acara menarik. Kuliah umum bertajuk Sharing Experience : Cara Mendapatkan RN di Luar Negeri, di gelar di ruang 3E Kampus Holistik PSIK UNDIP. Menghadirkan Ibu Sari Bui RN, BN, SE, MM dari Australia sebagai pembicara, agaknya acara ini sukses membakar semangat para mahasiswa, alumni dan tamu undangan untuk menjadi Excellence Nurse.

Sari Bui menceritakan pengalamannya selama menjadi perawat di Melbourne Australia, yang membuat para peserta berdecak kagum dengan sistem kerja yang diterapkan oleh Rumah sakit di Australia. Perawat di Australia memiliki jadwal terstruktur selama menjalani shift kerja. Ranah kerja perawat di Australia telah dipisahkan secara jelas antara perawat, dokter, physiotherapist dan tenaga kesehatan laiinnya. ‘Saya suka menjadi perawat di sana (red. Australia), kerjanya flexible jadi saya bisa tetap bekerja dan mengurusi anak-anak saya’ ungkap perawat Austin Hospital ini.

Perjalanan Sari hingga menjadi seorang perawat pun tidak kalah mengagumkan. Sari Bui pertama kali menginjakkan kakinya di Negeri Kanguru untuk mendapatkan gelar Master Management setelah menyelesaikan pendidikan strata 1 Ekonomi di Universitas Diponegoro pada tahun 1997. Selama menempuh kuliah, Sari bekerja di Home Nursing untuk mencukupi biaya hidup. ‘ Saat itu di Indonesia sedang krisis moneter jadi harga dollar melonjak, saya putuskan untuk bekerja’ ungkap ibu dari dua anak yang bercita-cita meraih gelar PhD di bidang Keperawatan ini.

Setelah menamatkan pendidikan master nya di Monash University Melbourne pada tahun 2000,perempuan kelahiran Jakarta ini kemudian menikah dan bekerja di sebuah perusahaan yang mengharuskannya bekerja dari pagi hingga petang. Sari kemudian bercerita kepada suaminya bahwa ia merasa lebih menyukai pekerjaannya di Home Nursing ketimbang menjadi pekerja kantoran. Sebuah ide ‘gila’ pun dilontarkan suaminya,’ Kenapa tidak jadi perawat saja?’. Sari sempat ragu, karena dia harus menempuh pendidikan selama 3 tahun di Bachelor of Nursing untuk menjadi seorang perawat. Sari memantapkan tekadnya, kecintaannya kepada profesi perawat membuat pendidikan selama 3 tahun berlalu begitu saja dan akhirnya ia menjadi seorang Registered Nurse (RN) di Australia. ‘Memang kalau kita belajar di bidang yang kita cintai, hasilnya lebih memuaskan dan lebih cepet juga rasanya’ ucap Sari sambil tertawa renyah.

Kini Ibu Sari bekerja di dua rumah sakit di Melbourne, Austin Hospital dan Mitcham Private Hospital. Sari bekerja hanya saat memiliki waktu luang saja, sehingga ia masih memiliki waktu untuk mengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Gaji yang ia peroleh sebagai perawat pun sangat fantastis. Gaji yang Sari peroleh selama satu shift setara dengan gaji perawat Indonesia dalam satu bulan.

Selain berbagi cerita mengenai pengalamannya menjadi perawat di Australia, ia juga menyampaikan mengenai cara menjadi seorang Registered Nurse di Australia. Nilai IELTS yang harus diatas angka 7 agaknya menjadi tantangan tersendiri bagi perawat Indonesia yang ingin menjadi RN di Australia.

Acara yang dihadiri oleh Ketua Program Studi PSIK, Staff Dosen, perwakilan alumni, perwakilan mahasiswa S1 dan program Magister, dan tamu undangan dari STIKES Kendal, Poltekkes Kemenkes Semarang, Serta Rumah Sakit Umum Pusat dr. Karyadi, berlangsung selama tiga jam. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul saat sesi diskusi yang dipimpin oleh Dewi Widyaningsih – mahasiswa tingkat akhir di PSIK UNDIP-- sebagai moderator. Pengalaman Sari Bui, selama menjadi perawat di Australia berhasil memotivasi para peserta untuk lebih mencintai dan memajukan profesi perawat di Indonesia.

‘Terlepas dari perbedaan yang sangat mencolok antara perawat di Australia dan di Indonesia, yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita mampu mencintai profesi kita sebagai perawat, sehingga nantinya kita mampu memajukan profesi yang kita cintai ini’ ucap Moderator saat menutup sesi diskusi, semakin membakar semangat peserta .

Wednesday, January 9, 2013

Terimakasih

Hey, kamu tahu tidak? Aku suka sekali bahumu kuat, lapang, hangat dan nyaman. Aku suka sekali bersandar di bahumu itu. Setidaknya, saat merasa lelah, aku seperti menemukan rumahku, ya, rumah yang lama aku cari untuk segera melepas lelah yang membebani langkahku. Aku juga bisa bercerita banyak hal di bahumu itu, mekipun aku tau kamu tidak mendengarnya, tapi setidaknya jarak hati kita lebih dekat, semoga hatimu mendengar cerita-ceritaku. Dan di bahumu, aku juga sering mendoakanmu, mendoakanmu dalam segala, semua hal yang baik aku mintakan untukmu. Terimakasih sudah meminjamkannya untukku, membiarkannya mendengarkan ceritaku yang tidak sedikit, menopangku saat lelah dan membiarkan doa-doaku membanjirimu. Terimakasih