Hujan. Kamu tau? Aku benci ketika air langit itu turun. Selalu dan selalu, hujan menggiring otakku untuk memutar kembali potongan-potongan adegan tentangmu.
Dulu. Ketika hujan datang, jari-jari kecilmu akan menarik pergelangan tanganku, sambil berkata ‘aku sangat suka hujan. Kamu tau kenapa?’.
‘ Karena setelah hujan kamu bisa melihat pelangi’ kataku sambil memperhatikanmu yang sedang asik mengamati hujan.
‘salah, karena ketika hujan malaikat-malaikat turun, jadi aku bisa berdoa, nanti kalau malaikat-malaikat itu kembali ke langit, mereka akan langsung menyampaikan keinginan-keinginanku pada Tuhan’
Lalu aku melihatmu memejamkan mata, berdoa. Aku memperhatikanmu sejenak, bulu matamu yang lentik terlihat bergerak-gerak. Lalu aku akan ikut memejamkan mata, ikut berdoa. Saat aku membuka mata, kamu masih berdoa, sesekali tersenyum dalam doamu. Hey, kamu tau? Senyummu itu, aku sangat suka melihatnya, menimbulkan gemuruh dihatiku, meskipun saat itu langit tidak sedang bergemuruh karena hujannya tidak terlalu deras.
‘Apa yang kamu minta?’ katamu, masih dengan senyum itu, hey bisa tidak berhenti tersenyum, bisa-bisa ada petir di hatiku.
‘ rahasia’ kataku, ‘ kamu?’
‘ aku berdoa agar aku dan kamu tetap bisa seperti ini, berbagi cerita, dan saling menguatkan’, matamu berbinar.
Aku tersenyum. Kalau saja kamu tau, aku tidak mau kita terus seperti ini. Itu menyakitkan untukku. Bagaimana tidak, aku bisa bersamamu seperti sekarang ini, melihat senyummu dan melihat mata berbinar, tapi disetiap pembicaraanmu selalu ada dia, laki-laki yang kamu kagumi. Kalau saja kamu bisa mendengar doaku, aku berdoa agar kamu, melihat kearah laki-laki yang ada disampingmu ini. Lihat ke arahku, seseorang yang selalu ada untukmu.
bahagia bisa datang kapan saja dimana saja dan dengan siapa saja, kuncinya satu, nikmati saja momentnya, tidak peduli dimana, kapan dan dengan siapa asal kamu menikmati, pasti bahagia akan terasa disitu ..
Monday, October 15, 2012
Wednesday, October 10, 2012
Aku Sudah Selesai Mengemasi Kamu
Ruangan kecil ini, dulu, aku selalu membuatnya terasa nyaman untuk kamu tinggali. Beberapa waktu yang lalu kamu menjadi semakin betah tinggal di ruangan kecil yang ada di hatiku ini. Aku memberikanmu fasilitas paling mewah, perhatian, pengertian, semangat dan kehadiranku. Aku merasa menjadi yang paling bahagia ketika perhatian, semangat yang aku berikan untukmu, serta kehadiranku menjadikanmu semakin kuat. Akupun bahagia ketika kamu membutuhkan kehadiranku, ketika kamu membayar rindu yang aku simpan untukmu dengan meluangkan waktumu untuk membuatku tertawa lepas, ketika perhatianmu begitu tulus untukku dan ketika kamu mengangkatku saat aku jatuh.
Tapi belakangan kamu berubah. Aku memberimu perhatian yang cukup tapi kamu bilang, aku ini sok peduli. Lalu aku coba memberimu semangat, sekarang kamu bilang, bukan aku yang mampu menyemangatimu. Aku berusaha tetap disampingmu ketika kamu jatuh tapi kemudian kamu bilang tak membutuhkanku. Ini bukan yang pertama kali kamu mengatakan itu. Berkali-kali. Ya berkali-kali. Aku dengan sekuat tenagaku mengusahakan (lagi) agar kamu tetap nyaman tinggal di ruang kecil ini. Dan lalu kamu akan kembali lagi. Dan kemudian akan pergi lagi mengejar bahagiamu. Dan ketika kamu lelah kamu kembali lagi. Begitu seterusnya.
Sampai kali ini aku sudah terlalu lelah. Aku mengemasimu dari hatiku. Lihat, sudah selesai. Coba kamu periksa masih ada tidak yang terselip di pojok-pojok ruangan atau tidak. Kalau kotak yang ada di pojok itu, kamu tidak berhak membawanya, itu miliku. Aku beri tahu, isi kotak itu adalah kebersamaan kita dulu. Aku membiarkannya tetap di sini karena memang mustahil aku membuangnya, yang aku bisa hanya pelan-pelan menganggapnya sebagai kotak biasa yang berisi kenangan biasa, baru kemudian aku bisa menyimpannya di gudang.
Aku sudah selesai mengemasimu. Sini, biar aku bantu mengangkat barangmu sampai di depan pintu. Lalu aku akan menyaksikan punggung dan bahumu yang dulu pernah aku pakai bersandar ketika lelah, perlahan menjauh. Jangan, jangan berbalik untuk melihatku meski hanya sepersekian detik, bisa jadi aku akan kembali menarik tanganmu dan memintamu tinggal kembali.
Aku tau, setelah ini kamu akan kembali mengejar bahagiamu. Aku pun begitu, ruang kecil ini sekarang aku biarkan kosong, akan aku bereskan, dan aku siapkan untuk seseorang yang akan menjadi bahagiaku. Nanti kalau kamu terluka lagi, kamu boleh bertamu ke ruang ini lagi, tapi maaf bukan untuk tinggal di sini dan mendapatkan fasilitas mewah lagi dariku, kecuali kamu membawakan ‘hadiah kesungguhan’ untukku.
Tapi belakangan kamu berubah. Aku memberimu perhatian yang cukup tapi kamu bilang, aku ini sok peduli. Lalu aku coba memberimu semangat, sekarang kamu bilang, bukan aku yang mampu menyemangatimu. Aku berusaha tetap disampingmu ketika kamu jatuh tapi kemudian kamu bilang tak membutuhkanku. Ini bukan yang pertama kali kamu mengatakan itu. Berkali-kali. Ya berkali-kali. Aku dengan sekuat tenagaku mengusahakan (lagi) agar kamu tetap nyaman tinggal di ruang kecil ini. Dan lalu kamu akan kembali lagi. Dan kemudian akan pergi lagi mengejar bahagiamu. Dan ketika kamu lelah kamu kembali lagi. Begitu seterusnya.
Sampai kali ini aku sudah terlalu lelah. Aku mengemasimu dari hatiku. Lihat, sudah selesai. Coba kamu periksa masih ada tidak yang terselip di pojok-pojok ruangan atau tidak. Kalau kotak yang ada di pojok itu, kamu tidak berhak membawanya, itu miliku. Aku beri tahu, isi kotak itu adalah kebersamaan kita dulu. Aku membiarkannya tetap di sini karena memang mustahil aku membuangnya, yang aku bisa hanya pelan-pelan menganggapnya sebagai kotak biasa yang berisi kenangan biasa, baru kemudian aku bisa menyimpannya di gudang.
Aku sudah selesai mengemasimu. Sini, biar aku bantu mengangkat barangmu sampai di depan pintu. Lalu aku akan menyaksikan punggung dan bahumu yang dulu pernah aku pakai bersandar ketika lelah, perlahan menjauh. Jangan, jangan berbalik untuk melihatku meski hanya sepersekian detik, bisa jadi aku akan kembali menarik tanganmu dan memintamu tinggal kembali.
Aku tau, setelah ini kamu akan kembali mengejar bahagiamu. Aku pun begitu, ruang kecil ini sekarang aku biarkan kosong, akan aku bereskan, dan aku siapkan untuk seseorang yang akan menjadi bahagiaku. Nanti kalau kamu terluka lagi, kamu boleh bertamu ke ruang ini lagi, tapi maaf bukan untuk tinggal di sini dan mendapatkan fasilitas mewah lagi dariku, kecuali kamu membawakan ‘hadiah kesungguhan’ untukku.
Rahasia Tentang Kamu
Hey, aku beri tau satu rahasia tentang dirimu yang mungkin kamu sendiri tak mengetahuinya dengan baik. Kamu terlalu lemah ketika sendiri, tapi coba lihat, ketika ada seseorang yang berada di sisimu, kamu punya kekuatan berlebih untuk menyakiti seseorang yang selalu ada untukmu itu.
Monday, October 8, 2012
bahagiaku itu sederhana
1. Terkadang, kita tak menyadari bahwa bahagia itu terlalu sederhana, lihat saja aku, mataku berbinar ketika kamu tersenyum karena bahagiaku itu sesederhana melihatmu tersenyum.
2. aku sedang mengemasi kamu dari hatiku, belum selesai, jadi cepatlah datang dan cegah aku jika kamu masih ingin tinggal disini, di hatiku.
3. Tersenyumlah, lalu coba kamu cari bintang yang binarnya paling terang di langit, percayalah kamu tidak akan menemukannya, karena binarnya sudah berpindah ke mataku.
4. Aku tak membutuhkan alasan untuk mencintaimu, tiba-tiba saja aku jatuh cinta, namun aku memerlukan berjuta alasan untuk meninggalkanmu. Kamu tau, aku sudah menemukan alasan itu.
5. Pembohong macam apa kamu ini, memintaku untuk percaya pada lisanmu, padahal matamu lebih bisa menjelaskan semua rasamu dengan jujur.
6. Kamu itu seperti hitam yang tersiram putih, abu-abu, terlalu samar untukku
7. coba sini, ikuti aku, akan ku tunjukkan sesuatu. ini, ruang kecil kosong ini dulu pernah ada kamu di dalamnya, sekarang aku membiarkannya kosong dan terbuka, jadi semua orang punya kesempatan untuk tinggal didalamnya sekarang,tinggal aku mengijinkan atau tidak
2. aku sedang mengemasi kamu dari hatiku, belum selesai, jadi cepatlah datang dan cegah aku jika kamu masih ingin tinggal disini, di hatiku.
3. Tersenyumlah, lalu coba kamu cari bintang yang binarnya paling terang di langit, percayalah kamu tidak akan menemukannya, karena binarnya sudah berpindah ke mataku.
4. Aku tak membutuhkan alasan untuk mencintaimu, tiba-tiba saja aku jatuh cinta, namun aku memerlukan berjuta alasan untuk meninggalkanmu. Kamu tau, aku sudah menemukan alasan itu.
5. Pembohong macam apa kamu ini, memintaku untuk percaya pada lisanmu, padahal matamu lebih bisa menjelaskan semua rasamu dengan jujur.
6. Kamu itu seperti hitam yang tersiram putih, abu-abu, terlalu samar untukku
7. coba sini, ikuti aku, akan ku tunjukkan sesuatu. ini, ruang kecil kosong ini dulu pernah ada kamu di dalamnya, sekarang aku membiarkannya kosong dan terbuka, jadi semua orang punya kesempatan untuk tinggal didalamnya sekarang,tinggal aku mengijinkan atau tidak
Saturday, October 6, 2012
Segera Lunasi
Kali ini hatiku sudah seperti rentenir, menagih pelunasan dari setiap tumpukan rindu yang aku simpan untukmu, sudah tak bisa di tolerir lagi, cepat datang, lunasi semuanya, luangkan waktumu untukku hanya sekedar untuk duduk bersama meskipun kita terdiam satu sama lain.
Sunday, September 30, 2012
Jangan Terlalu Lama Seperti Ini
Malam itu, akhirnya kita kembali bertemu setelah tepat satu bulan kita tak menghabiskan waktu bersama. Akhirnya, aku bisa memperhatikanmu sedekat ini lagi. Mengamati setiap gerakan dan merekam setiap kata yang kamu ucapkan. Kamu sudah memangkas rapi rambutmu, biasanya aku kurang suka melihat rambutmu ketika baru saja dipangkas, tapi kali ini aku suka terlihat lebih pantas dari biasanya. Sepertinya berat badanmu bertambah, mungkin karena kamu menghabiskan waktu terlalu lama di rumah dengan gizi yang tercukupi. Lenganmu yang biasanya aku cubit ketika aku kesal padamu, sepertinya tambah berisi. Aku semakin terlihat kecil saja ketika berjalan disampingmu, tentu saja, apalagi aku sempat sakit dan sulit tidur selama beberapa hari, berat badanku bukannya bertambah tapi malah berkurang.
Kamu tau, aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu lagi. Wajahmu terlihat lucu, beberapa kali terihat menahan tawa saat aku bercerita. Tak seperti biasanya, ya, karena kita terbiasa saling melempar canda lalu tertawa lepas bersama. Kali ini berbeda, kamu harus berusaha menahan tawamu dan menahan pandanganmu ke padaku. Mungkin masalah yang kemarin, ketika kamu kembali terseret ke masa lalu, dan aku hampir saja sampai di titik lelahku untuk bersamamu, cukup menguras energimu untuk sekedar tertawa bersamaku. Tidak apa-apa yang penting kamu ada di sini, di sampingku, itu sudah cukup membuatku bahagia.
Jangan terlalu lama seperti ini. Cepat kembali jadi kamu yang dulu, agar kita bisa saling melempar canda dan tertawa lepas bersama lagi. Jangan sampai sabarku habis untuk menunggumu.
Kamu tau, aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu lagi. Wajahmu terlihat lucu, beberapa kali terihat menahan tawa saat aku bercerita. Tak seperti biasanya, ya, karena kita terbiasa saling melempar canda lalu tertawa lepas bersama. Kali ini berbeda, kamu harus berusaha menahan tawamu dan menahan pandanganmu ke padaku. Mungkin masalah yang kemarin, ketika kamu kembali terseret ke masa lalu, dan aku hampir saja sampai di titik lelahku untuk bersamamu, cukup menguras energimu untuk sekedar tertawa bersamaku. Tidak apa-apa yang penting kamu ada di sini, di sampingku, itu sudah cukup membuatku bahagia.
Jangan terlalu lama seperti ini. Cepat kembali jadi kamu yang dulu, agar kita bisa saling melempar canda dan tertawa lepas bersama lagi. Jangan sampai sabarku habis untuk menunggumu.
Saturday, September 29, 2012
Aku memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf dan bahkan aku memaafkanmu sebelum kesalahan itu kamu buat
Kita terbiasa bersama, berbagi cerita, tawa dan canda. Hey, aku selalu merindukan saat-saat bersamamu. Aku paling suka saat tanganmu dengan jahilnya mengacak-acak jilbabku, saat aku mulai memasang muka manyun.
Kamu itu, seperti super hero untukku setiap kali aku menemui masalah, kamu selalu sigap membantuku. Ingat tidak, saat aku pulang terlalu larut malam, pukul 10 malam kamu menjemputku di depan sebuah Rumah Sakit, lalu kamu memarahiku gara-gara aku belum makan sejak pagi sampai pukul 10 malam, dengan sabar kamu menemaniku makan hinga pukul setengah sebelas malam.
Lalu ini, hal-hal yang sering kamu lakukan. Seringkali, kamu datang kekontrakan untuk mengambil makanan yang aku masak untukmu. Aku paling takut menyebrang jalan raya, dan kamu selalu menjadi pahlawanku saat menyebrang. Saat aku sakit kamu membawakan wedang ronde kesukaanku. Kita bahkan pernah berkeliling kota, hanya untuk mencari lokasi berfoto. Duduk bersamaku, mendengarku bercerita dan bernyayi.
Kamu itu lucu, tak pernah mau memilih, bahkan saat membeli baju pun aku yang memilihkannya untukmu, dan kamu tak mau tau, kamu hanya menurut saja pada pilihanku. Meskipun aku kadang merasa kurang nyaman dengan kebiasaan ‘tak bisa memilih’ mu ini.
Atau mungkin kamu masih ingat yang ini, saat aku menangis di terminal. Aku ingin pulang ke rumah, seperti biasa kamu mengantarkanku ke terminal. Waktu itu sudah terlalu malam menurutku, lalu aku menangis di terminal karena aku tak berani naik bus. Aku meminta kembali lagi ke kos, kamu ingat, saking lelahnya menangis aku lapar, dengan polosnya aku mengajakmu makan dan kamu tertawa terbahak-bahak waktu itu.
Kalau yang ini, kamu pasti masih sangat ingat. Aku mendatangimu di kontrakan, jalan kaki. Lalu kamu bermaksud mengantarkanku pulang ke kontrakanku, tapi waktu itu kamu sedang apes mungkin. Hey, aku bukan ingin pulang ke kontrakan, tapi aku ingin kekampus. Dengan celana kolor yang sobek di bagian samping, sandal jepit yang berbeda kanan dan kiri, belum mandi pula, dan tanpa helm aku menggiringmu ke kampus, ‘aku tak mau lewat jalan pintas, aku maunya lewat tengah kampus dan melewati fakultasmu’ kataku. Aku tertawa terbahak sepanjang jalan, sedangkan kamu asik membanggakan diri, ‘ah, bakalan banyak adik tingkat yang naksir kalo penampilanku seperti ini’, katamu. Aku semakin terbahak mendengar kalimat itu.
Tapi sekarang, semua berubah. Kamu diam, lebih tepatnya kamu mendiamkanku. Kamu bilang ‘nanti kamu akan terus sakit hati kalau terus-terusan bersamaku, aku yang salah, dan aku tidak mau semakin banyak berbuat salah padamu”. Kamu memang salah tapi aku sudah memaafkanmu. Hey, apa kamu tidak ingat, kamu pernah bilang bahwa kamu selalu memaafkan setiap kesalahanku sebelum aku minta maaf, dan akupun mengatakan hal yang sama ‘memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf dan bahkan aku memaafkanmu sebelum kesalahan itu kamu buat’.
Jadi, tetaplah di sini, duduk dan dengarkan aku bercerita, lalu ucapkan satu atau dua kata agar aku tertawa, dan aku akan membayarnya dengan nyayianku, ato mungkin perhatianku jika memang kamu butuh.
Kamu itu, seperti super hero untukku setiap kali aku menemui masalah, kamu selalu sigap membantuku. Ingat tidak, saat aku pulang terlalu larut malam, pukul 10 malam kamu menjemputku di depan sebuah Rumah Sakit, lalu kamu memarahiku gara-gara aku belum makan sejak pagi sampai pukul 10 malam, dengan sabar kamu menemaniku makan hinga pukul setengah sebelas malam.
Lalu ini, hal-hal yang sering kamu lakukan. Seringkali, kamu datang kekontrakan untuk mengambil makanan yang aku masak untukmu. Aku paling takut menyebrang jalan raya, dan kamu selalu menjadi pahlawanku saat menyebrang. Saat aku sakit kamu membawakan wedang ronde kesukaanku. Kita bahkan pernah berkeliling kota, hanya untuk mencari lokasi berfoto. Duduk bersamaku, mendengarku bercerita dan bernyayi.
Kamu itu lucu, tak pernah mau memilih, bahkan saat membeli baju pun aku yang memilihkannya untukmu, dan kamu tak mau tau, kamu hanya menurut saja pada pilihanku. Meskipun aku kadang merasa kurang nyaman dengan kebiasaan ‘tak bisa memilih’ mu ini.
Atau mungkin kamu masih ingat yang ini, saat aku menangis di terminal. Aku ingin pulang ke rumah, seperti biasa kamu mengantarkanku ke terminal. Waktu itu sudah terlalu malam menurutku, lalu aku menangis di terminal karena aku tak berani naik bus. Aku meminta kembali lagi ke kos, kamu ingat, saking lelahnya menangis aku lapar, dengan polosnya aku mengajakmu makan dan kamu tertawa terbahak-bahak waktu itu.
Kalau yang ini, kamu pasti masih sangat ingat. Aku mendatangimu di kontrakan, jalan kaki. Lalu kamu bermaksud mengantarkanku pulang ke kontrakanku, tapi waktu itu kamu sedang apes mungkin. Hey, aku bukan ingin pulang ke kontrakan, tapi aku ingin kekampus. Dengan celana kolor yang sobek di bagian samping, sandal jepit yang berbeda kanan dan kiri, belum mandi pula, dan tanpa helm aku menggiringmu ke kampus, ‘aku tak mau lewat jalan pintas, aku maunya lewat tengah kampus dan melewati fakultasmu’ kataku. Aku tertawa terbahak sepanjang jalan, sedangkan kamu asik membanggakan diri, ‘ah, bakalan banyak adik tingkat yang naksir kalo penampilanku seperti ini’, katamu. Aku semakin terbahak mendengar kalimat itu.
Tapi sekarang, semua berubah. Kamu diam, lebih tepatnya kamu mendiamkanku. Kamu bilang ‘nanti kamu akan terus sakit hati kalau terus-terusan bersamaku, aku yang salah, dan aku tidak mau semakin banyak berbuat salah padamu”. Kamu memang salah tapi aku sudah memaafkanmu. Hey, apa kamu tidak ingat, kamu pernah bilang bahwa kamu selalu memaafkan setiap kesalahanku sebelum aku minta maaf, dan akupun mengatakan hal yang sama ‘memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf dan bahkan aku memaafkanmu sebelum kesalahan itu kamu buat’.
Jadi, tetaplah di sini, duduk dan dengarkan aku bercerita, lalu ucapkan satu atau dua kata agar aku tertawa, dan aku akan membayarnya dengan nyayianku, ato mungkin perhatianku jika memang kamu butuh.
Subscribe to:
Posts (Atom)