Saturday, October 6, 2012

Segera Lunasi

Kali ini hatiku sudah seperti rentenir, menagih pelunasan dari setiap tumpukan rindu yang aku simpan untukmu, sudah tak bisa di tolerir lagi, cepat datang, lunasi semuanya, luangkan waktumu untukku hanya sekedar untuk duduk bersama meskipun kita terdiam satu sama lain.

Sunday, September 30, 2012

Jangan Terlalu Lama Seperti Ini

Malam itu, akhirnya kita kembali bertemu setelah tepat satu bulan kita tak menghabiskan waktu bersama. Akhirnya, aku bisa memperhatikanmu sedekat ini lagi. Mengamati setiap gerakan dan merekam setiap kata yang kamu ucapkan. Kamu sudah memangkas rapi rambutmu, biasanya aku kurang suka melihat rambutmu ketika baru saja dipangkas, tapi kali ini aku suka terlihat lebih pantas dari biasanya. Sepertinya berat badanmu bertambah, mungkin karena kamu menghabiskan waktu terlalu lama di rumah dengan gizi yang tercukupi. Lenganmu yang biasanya aku cubit ketika aku kesal padamu, sepertinya tambah berisi. Aku semakin terlihat kecil saja ketika berjalan disampingmu, tentu saja, apalagi aku sempat sakit dan sulit tidur selama beberapa hari, berat badanku bukannya bertambah tapi malah berkurang.

Kamu tau, aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu lagi. Wajahmu terlihat lucu, beberapa kali terihat menahan tawa saat aku bercerita. Tak seperti biasanya, ya, karena kita terbiasa saling melempar canda lalu tertawa lepas bersama. Kali ini berbeda, kamu harus berusaha menahan tawamu dan menahan pandanganmu ke padaku. Mungkin masalah yang kemarin, ketika kamu kembali terseret ke masa lalu, dan aku hampir saja sampai di titik lelahku untuk bersamamu, cukup menguras energimu untuk sekedar tertawa bersamaku. Tidak apa-apa yang penting kamu ada di sini, di sampingku, itu sudah cukup membuatku bahagia.

Jangan terlalu lama seperti ini. Cepat kembali jadi kamu yang dulu, agar kita bisa saling melempar canda dan tertawa lepas bersama lagi. Jangan sampai sabarku habis untuk menunggumu.

Saturday, September 29, 2012

Aku memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf dan bahkan aku memaafkanmu sebelum kesalahan itu kamu buat

Kita terbiasa bersama, berbagi cerita, tawa dan canda. Hey, aku selalu merindukan saat-saat bersamamu. Aku paling suka saat tanganmu dengan jahilnya mengacak-acak jilbabku, saat aku mulai memasang muka manyun.

Kamu itu, seperti super hero untukku setiap kali aku menemui masalah, kamu selalu sigap membantuku. Ingat tidak, saat aku pulang terlalu larut malam, pukul 10 malam kamu menjemputku di depan sebuah Rumah Sakit, lalu kamu memarahiku gara-gara aku belum makan sejak pagi sampai pukul 10 malam, dengan sabar kamu menemaniku makan hinga pukul setengah sebelas malam.

Lalu ini, hal-hal yang sering kamu lakukan. Seringkali, kamu datang kekontrakan untuk mengambil makanan yang aku masak untukmu. Aku paling takut menyebrang jalan raya, dan kamu selalu menjadi pahlawanku saat menyebrang. Saat aku sakit kamu membawakan wedang ronde kesukaanku. Kita bahkan pernah berkeliling kota, hanya untuk mencari lokasi berfoto. Duduk bersamaku, mendengarku bercerita dan bernyayi.

Kamu itu lucu, tak pernah mau memilih, bahkan saat membeli baju pun aku yang memilihkannya untukmu, dan kamu tak mau tau, kamu hanya menurut saja pada pilihanku. Meskipun aku kadang merasa kurang nyaman dengan kebiasaan ‘tak bisa memilih’ mu ini.
Atau mungkin kamu masih ingat yang ini, saat aku menangis di terminal. Aku ingin pulang ke rumah, seperti biasa kamu mengantarkanku ke terminal. Waktu itu sudah terlalu malam menurutku, lalu aku menangis di terminal karena aku tak berani naik bus. Aku meminta kembali lagi ke kos, kamu ingat, saking lelahnya menangis aku lapar, dengan polosnya aku mengajakmu makan dan kamu tertawa terbahak-bahak waktu itu.

Kalau yang ini, kamu pasti masih sangat ingat. Aku mendatangimu di kontrakan, jalan kaki. Lalu kamu bermaksud mengantarkanku pulang ke kontrakanku, tapi waktu itu kamu sedang apes mungkin. Hey, aku bukan ingin pulang ke kontrakan, tapi aku ingin kekampus. Dengan celana kolor yang sobek di bagian samping, sandal jepit yang berbeda kanan dan kiri, belum mandi pula, dan tanpa helm aku menggiringmu ke kampus, ‘aku tak mau lewat jalan pintas, aku maunya lewat tengah kampus dan melewati fakultasmu’ kataku. Aku tertawa terbahak sepanjang jalan, sedangkan kamu asik membanggakan diri, ‘ah, bakalan banyak adik tingkat yang naksir kalo penampilanku seperti ini’, katamu. Aku semakin terbahak mendengar kalimat itu.

Tapi sekarang, semua berubah. Kamu diam, lebih tepatnya kamu mendiamkanku. Kamu bilang ‘nanti kamu akan terus sakit hati kalau terus-terusan bersamaku, aku yang salah, dan aku tidak mau semakin banyak berbuat salah padamu”. Kamu memang salah tapi aku sudah memaafkanmu. Hey, apa kamu tidak ingat, kamu pernah bilang bahwa kamu selalu memaafkan setiap kesalahanku sebelum aku minta maaf, dan akupun mengatakan hal yang sama ‘memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf dan bahkan aku memaafkanmu sebelum kesalahan itu kamu buat’.

Jadi, tetaplah di sini, duduk dan dengarkan aku bercerita, lalu ucapkan satu atau dua kata agar aku tertawa, dan aku akan membayarnya dengan nyayianku, ato mungkin perhatianku jika memang kamu butuh.

Friday, August 31, 2012

Pantai Indrayanti

Masih belum bosan jalan-jalan nih hehehe..

26 Agustus 2012.Perjalanan kali ini sebenernya ga direncanakan sih. Bermula dari update status nya mas ku di Facebook yang bilang katanya mau ke Wonosari, Gunung Kidul, Jogjakarta buat hunting pantai yang seru, jadilah acara jalan-jalan ini terlaksana secara tidak sengaja. Sebenernya mas ku udah berangkat duluan bareng Riski. Tiba-tiba handphoneku berdering, ternyata mbak Wiwid yang nelpon ngajak nyusulin. Okedeh akhirnya aku telpon mas ku, sempet kepikiran ‘kayanya ga jadi nih nyusul’ soalnya telponku tak kunjung diangkat. Setelah hampir 4 kali aku telpon dia, akhirnya diangkat juga, ternyata dia udah sampai di Semin. Langsung aku kabarin mbak Wiwid, tak lama kemudian mbak Wiwid datang jemput aku, dan mariii kita jalan-jalan.. :D

Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam dari rumah yang terletak di kecamatan Cawas, akhirnya sampai juga di Wonosari.
Nah, buat yang hobi travelling kaya aku, ga ada ruginya lhoh berkunjung ke Wonosari, banyak pantai yang indah membentang dari barat sampai ke timur, siap memanjakan indra penglihatan nih. Kita bisa milih pantai mana yang bakal kita kunjungi, mulai dari pantai Parangtritis, Baron, Kukup, Krakal, Sundak, Siung, Wedi Ombo, Ndrini dan masih banyak lagi lengkap dengan ciri kas pantai selatan pulau Jawa yang memiliki ombak menggulung dan tebing karang tinggi. Kawasan Wonosari terletak 1,5 jam perjalanan dari kota Yogyakarta, selain menawarkan pemandangan yang siap memanjakan indra penglihatan, liburan didaerah Wonosari ini murah ko, setiap orang dibandrol 5 ribu sebagai biaya retribusi masuk pantai, murah bukan?

Kali ini pilihan jatuh pada pantai Indrayanti sesuai pilihan mbak Wiwid. Begitu sampai di pantai kami langsung di sambut oleh pasir putih kecoklatan yang terhampar, gulungan ombak, serta sinar matahari yang membuat air laut tampak berkilauan. Sayang, pantai sedang ramai, jadi kurang bisa menikmati suasana pantai. Masku sama Riski langsung berganti kostum dan siap berenang dalam gulungan ombak pantai, sedangkan aku dan mbak Wiwid memilih unuk mendekat ke tebing karang dan langsung take some pictures. Masku asik berenang *mentang-mentang bisa berenang*, sementara aku dan Mbak Wiwid sibuk ngobrol kesana-kemari, sebenernya aku uda gatel pengen nyemplung ke air tapi sayang ombaknya terlalu besar dan kabar buruknya aku belum bisa renang begitu juga dengan mbak Wiwid. Hahaha karena kurang ati-ati, hampir aja kebawa ombak gara-gara berusaha ngambil jaket dan tasku yang keseret ombak, alhasil basah semua deh, padahal ga bawa baju ganti gara-gara jalan-jalannya dadakan.


cuma ada satu foto ini sayangnya..


kalo yang ini pantai siung, bagus kan?

Buat kamu yang kurang jago berenang atau belum bisa renang kaya aku, disarankan untuk sangat berhati-berhati kalau main dipantai selatan Pulau Jawa karena ombaknya beda jauh dengan Pantai Utara. Pokoknya harus siap-siap pengangan dan berdiri dengan mantap, hindari batu karang yang licin ya. Oiya, buat kamu yang pengen punya kulit coklat silakan berjemur atau mengubur diri dengan pasir pantai seperti yang dilakukan masku dan Riski.

Sayang sekali jalan-jalannya harus udahan dulu, udah setengah 5, lagipula kami berangkat terlalu siang. Setelah bersih-bersih dan sholat ashar kami meluncur pulang dan kembali melewati jalan berkelok yang membelah dataran tinggi Gunung Kidul. Brrrr, Extremely cold cuy apalagi ditambah baju basah dan jaket basah, menghasilkan demam seharian deh.

Satu hal yang selalu disayangkan dibalik indahnya panorama yang ada adalah sampah, ga di pasirnya ga di air laut tetep aja betebaran sampah. Sayang, ga banyak cerita yang bisa dibagi untuk perjalanan kali ini, karena memang kurang eksplor sih, tapi semoga bermanfaat buat yang butuh referensi jalan-jalan. Selamat berwisata dan ingat untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan ya, toh kalau tempat wisatanya bersih siapa juga yang seneng? Kita juga kan ?

cerita untuk 'kamu'

Hey, kamu apa kabar?

Semoga baik-baik saja disana, masih setia menungguku bukan? Akupun begitu, berusaha menyibukkan diri agar tak selalu memikirkanmu, jujur aku takut menganggu harimu saat aku terlalu sering memikirkanmu. Jangan lupa, persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk menyambutku ya.

Hey, aku punya cerita untukmu, dengarkan, asal kamu tau aku ini seseorang yang sangat suka bercerita tentang ini dan itu.

Kamu tau, sudah tiga tahun ini aku mencintai seseorang. Dia begitu baik, selalu siap sedia jika aku menemui kesulitan, dia selalu berhasil membuatku tertawa lepas saat hari ku terasa begitu gelap dan membosankan. Dia juga tak pernah menolak mendengarkan aku berceloteh kesana-kemari, dan hebatnya dia tahan mendengarkan suara ku yang entah merdu entah tidak saat aku bernyanyi kecil. Satu lagi, bahunya tak pernah menolak setiap kali aku ingin membagi beban berat dikepalaku.
Hhaaha kamu cemburu ya? Sebentar, belum juga aku selesai bercerita, dengarkan dulu sampai habis.

Aku pun selalu berusaha menjadi seseorang yang selalu ada untuknya, siap menjadi teman paling setia setiap kali masalah datang memenuhi harinya. Aku memperhatikan setiap hal tentang dirinya, baju apa yang sering dia pakai, hal apa saja yang dia lakukan saat turun dari motornya, sticker apa yang ada di helm nya, bahwa rambutnya sudah beruban meskipun usianya baru 23 tahun dan masih banyak lagi. Tapi sepertinya dia tak terlalu membutuhkanku, karena ternyata ada hati lain yang dia pegang. Praktis, dia tak lagi mampu membuatku tertawa lepas saat hariku kelabu, tapi justru dialah yang membuat hari-hariku semakin tak menentu. Aku masih bertahan mencintainyai, namun tak lama aku memutuskan untuk menjauh. Hey, kamu tau rasanya harus berpisah dengannya? Aku mengingau menyebut-nyebut namanya, dunia rasanya seperti akan runtuh tepat di atas kepalaku. Tapi aku sadar aku harus bisa tanpanya. Terkadang aku masih menghubunginya sesekali meskipun aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Aku berhasil melewati 6 bulan tanpa bertemu dengannya dan 2 bulan tanpa pesan singkat, telepon dan segala jenis komunikasi.

Masih cemburu?? Ini masih lumayan panjang lhoh ceritanya, sepertinya kamu butuh teh, kopi atau biskuit untuk dinikmati sambil mendengarkan celotehku. Jangan merokok ya tapi, aku tidak nyaman berada didekat perokok.

Oke aku lanjutkan lagi. Tak lama kemudian, ternyata takdir kembali mendekatkanku dengannya, namun kali ini aku berusaha mengatur hatiku, menyiapkannya kalau-kalau dia harus berlalu dari hidupku (lagi). Kita memberi nama hubungan kita sebagai ‘kakak-adek’ haha entahlah, tapi tak jauh beda dengan hubungan kita yang dulu. Dia masih siap sedia saat aku butuh bantuan, dia masih mempunyai jurus ampuh untuk membuatku tertawa lepas, dia masih belum bosan mendengarkan celotehanku dan nyanyian kecilku yang entah merdu entah tidak. Dan tentu saja bahunya masih sangat kuat menopang kepalaku. Tetapi dia juga masih tetap mempunyai hati untuk membuatku menangis, bedanya kali ini aku lebih kebal atau entah mungkin keras kepala lebih tepatnya. Tak sedikit teman yang menyarankanku untuk berhenti mecintainya, tapi tetap saja aku masih menyimpan harapan, bahwa suatu saat akan aku temui cahaya terang dalam keputusanku untuk tetap bertahan mencintainya. Tapi bukankan terlalu cinta dan terlalu bodoh itu hanya memiliki pembatas yang sangat tipis? Satu tahun lebih aku menjalani hubungan ‘kakak-adek’ dengannya, aku masih saja ngotot mempertahankannya meskipun sepertinya sudah terlalu banyak luka gores di hatiku karena dia memegang hatiku dengan asal-asalan hingga tak jarang hatiku terjatuh dari genggamannya.

Hahaha kalau nanti kamu bertemu dengannya jangan marah ya karena dia telah menyakitiku, maafkan saja, aku juga sudah memaafkan dia ko’ :D
Hey, jangan beranjak dulu, sebentar, masih belum selesai..

Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu aku mendengar cerita yang sangat mencengangkan. Nanti saja aku ceritakan padamu jika kita sudah dipertemukan, terlalu banyak orang yang akan membaca jika aku ceritakan disini. Cerita itu langsung aku dengar dari lisan seseorang yang dia pegang juga hatinya, parahnya yang dialami oleh seseorang -- yang juga dia pegang hatinya—ini, lebih menyesakkan dari apa yang aku alami. Saat itu aku benar-benar tak mampu berucap, kaget setengah hidup, dan secara otomatis pabrik air mataku untuknya berhenti memproduksi air mata lagi, tak ada lagi jatah air mata untuknya. Jika selama ini aku memilih untuk tetap bertahan dalam pusaran arus yang tak menentu sambil tetap membiarkannya memegang kunci pintu hatiku secara asal-asalan, kali ini aku memilih untuk merebut kunci hatiku yang dia pegang lalu melemparkannya kedarat, berharap akan ada seseorang yang menemukan untuk kemudian menyelamatkanku dari pusaran arus yang tidak jelas ini, karena aku masih terlalu takut untuk melompat sendiri. Namun tak mustahil kemungkinan lain yang akan terjadi, bisa jadi dia yang akan mengajakku keluar dari pusaran arus untuk kemudian kembali menggenggan kunci hatiku.

Hey,kamu tau tidak, aku berharap kamu yang akan menyelamatkanku dari pusaran arus yang tidak tentu arah ini. Entah kamu sebagai orang lain yang akan menemukan kunci hati yang telah aku lempar kedarat, atau kamu sebagai dia yang akan mengajakku keluar bersama-sama dari pusaran arus ini. Satu hal yang pasti aku masih setia menunggumu disini dan juga mempersiapkan diriku sebaik mungkin untuk bertemu denganmu. Oiya jika ternyata kamu adalah dia, aku berharap saat kita dipertemukan atau lebih tepatnya disatukan nanti, sikapmu yang kurang tegas itu sudah hilang, karena aku butuh seseorang yang tegas untuk memimpinku.

Aku menceritakan ini bukan sengaja untuk membuatmu cemburu, asal kamu tau seberapa besar pun sayang dan cinta ku saat ini padanya, tak akan pernah sanggup melebihi rasa sayang dan cintaku untukmu kelak. Bahkan meskipun sekarang (mungkin) kita belum dipertemukan, aku pun sudah sangat mencintaimu, percayalah. Tapi jika memang saat ini kamu cemburu, tak apa itu tandanya kamu juga mencintaiku bukan?

Hoaam, ah aku sudah mengantuk, kamu masih ingin mengerjakan sesuatu yang lain? Baiklah, selamat beraktifitas kembali, terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mendengarkanku. Oiya jangan tidur terlalu malam ya.. :D

Sunday, July 22, 2012

Jepara: Bumi Kartini

Yeay! Jalan-jalan lagi nih ..

Kali ini, jepara menjadi pilihanku untuk berlibur. Aku dan teman-teman (Desti, Farida, dan Iddo) memilih untuk berlibur ala ransel, bener-bener ala ransel banget deh pokoknya. Bermodal fisik sehat, motor, keinginan yang kuat dan uang secukupnya, kami berangkat menuju kota Jepara –Bumi Kartini yang terletak sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Semarang.
Kami berangkat pukul 07.00 pagi setelah sarapan di sebuah warung soto di Tembalang. Bermodal keinginan yang kuat kami berangkat menuju Jepara meskipun kami ga tau persis jalan menuju Kota Ukir tersebut. Sebenernya Zuni –yang rumahnya bakal jadi tempat kami transit, nawarin buat berangkat bareng dari Semarang, tapi karena saking bandelnya, kami memutuskan untuk berangkat duluan.

Setelah satu jam perjalanan kami berhasil memasuki kota Demak tanpa nyasar# yaiyalah Demak kan Cuma situ doang. Kami mulai bingung saat di perbatasan Demak- Jepara, okedeh daripada bingung akhirnya Zuni memberi kami instruksi untuk mncari patung Durian di pasar Tahunan Jepara # namanya emang pasar Tahunan tapi bukan berarti bukanya Cuma setahun sekali lhoh. Well, akhirnya dimulailah pencarian patung durian. Setelah beberapa kali bertanya pada warga sekitar akhirnya kami menemukan si Patung Durian –yang memang benar-benar mirip dengan durian asli. Sekitar 10 menit kami menunggu di Patung Durian, akhirnya Zuni datang juga. Yuk mari, lanjutkan perjalanan.. :D


Ini nih Si Patung Durian

Yuhhuuu, bersama Zuni kami menempuh perjalanan selama 20 menit, harus menyesuaikan dengan gaya bermotornya Zuni yang uda ala pembalap gitu deh. Kurang lebih 2,5 jam perjalanan dari Semarang, akhirnya kami sampai juga di rumah Zuni yang terletak di Kawasan Wisata Pantai Bandengan.
Disambut deretan mebel di depan rumah Zuni. Salim dulu yuuk sama ibunya Zuni—yang lebih pantes jadi mbak nya Zuni,hhehe. Rencananya setelah beristirahat sejenak kami bakal langsung cus ke pantai, namun tak disangka-sangka, ibu nya Zuni lagi masak buat kita. Okedeh akhirnya kami menunda keberangkatan menuju pantai, ga baik nolak rezeki, apalagi ikan bakar dan sambel kecap ala Ibu nya Zuni emang bener-bener nyus banget # huuuu… bilang aja laper..


Ini nih ikan bakar nya, keliatan enak kan?

Udah kenyang nih, makasih ya Tante buat ikan bakar dan sambel kecapnya hehehe. Sekarang saatnya berangkat ke pantai. Udah siap nih kitaa, tapi kata Zuni suruh nunggu sebentar, okedeeeh kita tunggu # meskipun kita ga tau apa yang sebenernya ditunggu. Wuihh tak disangka-sangka yang ditunggu adalah bapaknya Zuni, dengan gaya ala polisi banget, bapaknya Zuni keluar dengan motor cowok. Zuni memberi kami instruksi buat ngintil bapaknya dari belakang. Dimulailah konvoi menuju pantai bersama bapaknya Zuni.
Di pintu masuk pantai: klakson berbunyi dua kali dari motor bapaknya Zuni, semacam kode gitu, lalu terjadi percakapan, kurang lebihnya seperti ini
Petugas pintu masuk (PPM) : ‘siapa pak?’
Bapaknya Zuni (BZ) : ‘Kelurga’
PPM : ‘Berapa motor?’
BZ : ‘tiga motor’
PPM : ‘Oke masuk’
Ahahay, langsung deh dengan wajah sumringah kami masuk ke Pantai, thx a lot ya Oom :D Kaya nya asik nih kalo ada Kartu Tanda Teman Bapak Zuni, hheehe pisss Zun v^^

Di Pantai
Sebenernya, kami di kasih naik banana boat gratis, tapi karena untuk naik banana boat kami tidak diijinkan memakai peniti dan teman-temannya, kami memutuskan untuk ga naik banana boat aja, soalnya yang cewek semuanya jilbaber dan ga pake jilbab bergo, tapi pake yang segi empat. Okedeh gapapa.

Desti dan aku langsung menuju pantai, maen air. Si Farida ga mau nyemplung, Zuni katanya uda bosen ama pantai, Iddo mulai autis dengan kamera pocket yang dia pegang. Setelah asik dengan kegiatan sendiri-sendiri, akhirnya kami memutuskan untuk menuju Pulau Panjang, menggunakan perahu. Buat kamu yang pengen ke Pulau Panjang jangan sampai kena tipu, harga standar perahu ke Pulau Panjang Cuma 10 ribu/ orang pulang pergi.

Di Pulau Panjang


Selamat Datang di Pulau Panjang

Pulau Panjang terletak sekitar sepuluh menit perjalanan dari pantai Bandengan menggunakan perahu motor, perahu motor lho ya bukan gethek. Kalo kamu niat muterin tepi pulau Pajang dari satu titik nanti pasti kamu bakal kembali ketitik tersebut, kecil kok pulau nya. Cuma dikasih waktu satu jam nih di Pulau Panjang. Begitu sampai di dermaga kami langsung berlarian mencari posisi yang pas buat foto hehehe. Setelah puas foto-foto di dermaga, Langsung deh kita cus muterin nih Pulau sambil hunting view yang bagus buat take pictures. Wah ternyata uda adzan

Dzuhur, mari sholat. Setelah sholat kami melanjutkan perjalanan. Asik akhirnya nemu tempat bagus buat foto-foto sambil menikmati tenangnya ombak di Pantai Laut Selatan. Yuk foto-foto.. \


Ini nih pose-pose kita hehehehe

Pulau Panjang belum selese kami puterin, tapi sayang waktu kami udah abis. Pas perjalanan balik menuju dermaga, kami menemukan satu sisi pulau panjang yang buagus banget dan bikin kami teriak.’W.O.W. what a very beautiful Landscape…!!!!’ # hahaha lebay, tapi serius bagus banget. Kata Desti ‘ buagus banget ndon kaya wallpaper di Internet’



Bagus banget kan ?

Tapi ditengah indahnya pulau panjang masih ada aja sampah yang dibuang ke laut, padahal uda banyak papan-papan peringatan yang dipasang. tapi senegnya di Pulau Panjang uda ada penanaman mangroove nya lhoh

Oke mari kita menepi ke pantai Bandengan lagi. Bingung nih udah lebih rame pantainya dibanding waktu kita baru nyampe tadi. Banyak anak-anak pramuka pada maen air. Akhirnya Iddo mengusulkan untuk menyewa pelampung. Buat kamu yang mau nyewa pelampung, harga normalnya 10 Ribu per pelampungnya. Karena kita liburan ala ransel jadi kita nyewa satu pelampung buat berlima, tapi justru seru banget malahan, Farida yang awalnya bener-bener kagak mau nyemplung, akhirnya basah kuyup pas maen pelampung.



Ini nih kecerian kita waktu maen air

Udah sore nih balik yuuk… kami memutuskan untuk kembali ke rumah Zuni untuk mandi, sholat, pamitan sama ibu dan bapaknya Zuni dan bersiap pulang. Sebelum pulang kami diajak Zuni ke GBK, hayo tebak GBK itu apa??? Awalnya aku piier Gelora Bung Karno, tapi bukaaannnn, beda tipis sih GBK yang di Jepara itu adalah Gelora Bumi Kartini, stadion tempat latihannya PERSIJAP. Arsitektur GBK terbilang unik, dengan atap tribun utama berbentuk kapal.



Duh, masih belum puas nih mengeksplor Jepara, tapi mau ga mau kami harus segera kembali ke Semarang, kembali ke rutinitas yang telah menunggu kami. Sebelum pulang kami mengisi perut dulu di warung mie ayam. Oke, sudah kenyang.. mari pulang. Zuni mengatarkan kami sampai Patung Durian, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Semarang. Terimakasih Zuni untuk semuanya…. :D

Di perjalanan pulang, entah ngantuk ato memang kondisi jalan yang licin atau ada faktor x, Iddo mengalami kecelakaan di Demak, eh tanpa disangka aku dan Desti nyusul iddo, kami ikutan jatuh, dan tak disangka pula dua motor di belakang kita ikutan jatoh. Tapi Alhamdulillah Allah masih melindungi kami, ga ada yang lecet meskipun kami meluncur di aspal, bersyukur banget sama Allah. Pas uda sampae Semarang kami berpencar, eh aku dan Desti pake acara nyasar pula, dengan muka cemong karena habis nyium aspal kami melaju pelan dengan motor Mio milik Desti, kami melewati kawasan Citarum dan jalan Soekarno Hatta yang benar-benar kami ga hapal arah jalannya. Tapi Alhamdulillah semuanya jadi jelas ketika kita sampai di jalan Majapahit.

Wuiiih, pengalaman luar biasaa, memperkuat ukhuwah sambil menikmati alam yang indah, semakin tersepona dengan ciptaan Allah..


Yuk mariii, planning rihlah selanjutnya adalah Puncak Gunung Bromo, Bismillah semoga terwujud. Amiiiin.

Thursday, July 12, 2012

kapan aku mencapai batas akhir kesabaranku untuk mencoba memahamimu, jangan tanyakan itu padaku. karena aku tak akan dapat menjawab pertanyaanmu itu.